
"Untuk terakhir kalinya, Rin. Aku mohon," ujar Anjas lagi dengan suara lirih dan putus asa.
Rina terdiam untuk beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan permintaan Anjas, walau kemudian dia menganggukkan kepala samar.
Anjas tersenyum, dia hendak mengambil tangan Rina untuk berjalan ke ruang makan. Akan tetapi, Rina kembali menghindar.
Anjas terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Nyatanya dia menjadi salah tingkah karena selalu mendapat penolakan dari istrinya itu. "Maaf."
Rina tidak menjawab.
"Kalau begitu kamu duluan saja," ujar Anjas lagi.
Rina berjalan ke ruang makan lebih dulu, yang kemudian disusul oleh Anjas di belakangnya.
Rina melihat roti bakar dan telur ceplok yang tampak sedikit gosong, dia juga melihat ada segelas susu di atas meja.
"Silahkan," ujar Anjas setelah menarik kursi untuk Rina.
"Terima kasih," ujar Rina sambil duduk di depan Anjas yang masih memegang kursinya.
"Ini susu hamil yang biasa kamu minum, kemarin aku meminta Heni untuk mengajariku membuatnya." Anjas menjelaskan sambil duduk di depan Rina.
"Hehe, maaf ya, aku hanya bisa membuat ini," sambung Anjas lagi.
Rina menatap satu per satu makanan yang ada di depannya, dia kemudian menghela napas pelan, semua hidangan sarapan pagi ini benar-benar tidak membuatnya berselera makan sama sekali.
"Coba minum susunya, apa sudah pas?" tanya Anjas sambil memberikan susu itu pada Rina.
Rina mengambilnya, walau kemudian dia letakkan lagi di atas meja. Matanya tampak beralih menatap Anjas.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan, Mas?" tanya Rina.
Jika saja semua ini dilakukan Anjas sebelum dia kehilangan orang tuanya, mungkin rasanya akan sangat berbeda. Namun, kini semuanya sudah berubah, keadaannya pun berbeda. Keyakinannya untuk berpisah sudah sangat bulat, hingga tidak bisa digoyahkan lagi.
Anjas sudah terlambat, laki-laki itu tidak bisa lagi merebut hatinya untuk sekarang ini.
"Apa tidak bisa kamu memberikan aku satu kesempatan lagi, Rin? Izinkan aku untuk memperbaiki semuanya," ujar Anjas masih mencoba merayunya.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa lagi melakukan itu." Rina menggeleng lemah.
"Kamu jangan egois, Rin. Bagaimana pun juga anak itu butuh sosok ayah, dia membutuhkan aku sebagai ayahnya." Anjas merayu, dia mencoba menggunakan anak sebagai alasan.
Rina tersenyum sambil menggeleng samar. "Kamu bahkan tidak pernah mengakui anak ini, Mas!"
Selama beberapa detik Anjas sempat terdiam, sepertinya perkataan Rina sudah membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Maafkan aku, Rina. Aku mengakui kalau itu memang kesalahanku. Tapi, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, mulai sekarang aku pasti menganggap dia sebagai anakku," ujar Anjas, masih berusaha merayu Rina.
Rina tersenyum miris, bahkan dari perkataan yang dipilih Anjas, sudah terlihat kalau sampai sekarang laki-laki itu belum meyakini bahwa anak yang dia kandung adalah anak biologisnya.
"Maaf, Mas. Tapi, aku hanya bisa memaafkan kamu jika kamu mau menceraikan aku, Mas," jawab Rina dengan wajah yang terlihat tenang.
"Terima kasih karena, Mas, sudah memberikan banyak pelajaran hidup untukku. Terima kasih juga karena, Mas, sudah berniat untuk berubah demi aku dan anakku. Tapi, keputusanku sudah bulat, Mas. Untuk saat ini, aku hanya ingin sebuah perpisahan, tidak kurang dan tidak lebih. Setelah itu, biarkan kita bahagia dengan jalan kita masing-masing, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu, begitu juga aku harap kamu terhadapku."
Setelah mengatakan itu, Rina mengambil gelas susu yang tadinya dia simpan, kemudian meminumnya hingga tandas. Dia mengelap sisa susu yang menempel di bibir bagian atasnya menggunakan tisu sebelum melanjutkan perkataannya.
"Susu yang kamu bikin sangat enak, Mas. Terima kasih karena sudah membuatkannya untuk anakku," ujar Rina, kemudian memilih berlalu pergi meninggalkan Anjas yang duduk termenung sendiri.
.
Rina, Anjas, kedua orangtua Heni, Heni, dan dua orang lainnya yang merupakan sesepuh kampung, kini berkumpul di ruang tengah rumah Rina. Suasana tegang dan sedikit canggung itu membuat semua orang tampak memilih diam.
"Saya di sini, ingin mengembalikan istri saya, Rina, kepada Bapak, selaku wali dari Rina. Maafkan saya atas segala kesalahan saya selama ini sebagai suami Rina, dan maafkan saya karena ternyata jodoh kami hanya bertahan sampai di sini," ujar Anjas membuka pembicaraan atas niatnya berada di sana.
Rina tampak meremas Jari-jarinya, menahan gelisah yang tidak bisa dia sembunyikan. Keputusan besar ini akhirnya bisa dia dapatkan walau harus dengan perdebatan panjang dengan Anjas.
"Saya selaku wali dari Rina menerima kembali anak saya. Maafkan kami juga bilamana ada salah yang disengaja ataupun yang tidak kami sengaja, terutama Rina. Kami harap walaupun hubungan kalian sebagai suami istri telah usai, tapi silaturahmi di antara kita jangan sampai terputus," jawab Bapak Heni dengan sopan.
Semua orang di sana tampak mendengarkan perkataan yang diakatakan oleh Anjas maupun Bapak Heni, terutama Rina yang tampak terus menunduk sejak tadi.
Anjas tampak menghembuskan napas pelan sebelum beralih menatap Rina yang berada di depannya.
"Baiklah, Rina dengan ini saya Anjas Gunawan, menjatuhkan talak atas istri saya yang bernama Erina Dewilas, secara sadar dan atas kehendak sendiri. Kami sudah memutuskan perceraian ini sebagai jalan keluar dari masalah rumahtangga kami." Anjas dengan suara tegas mengikrarkan kata talak untuk Rina.
Rina mengepalkan tangannya erat saat ikrar talak itu terdengar, rasanya tetap menyakitkan walau nyatanya itu adalah permintaan dirinya sendiri pada Anjas. Hingga akhirnya satu tetes air mata terjatuh seiring berakhirnya ikrar tersebut.
Bukan hal yang mudah untuk Rina memutuskan untuk berpisah dengan Anjas. Butuh berpikir cukup lama hingga merangkum semua perlakuan Anjas selama ini padanya, dan memperkirakan apa yang akan terjadi ke depannya sebelum dia mengambil keputusan.
Sebagai seorang wanita biasa yang sedang hamil, sulit untuk Rina menerima statusnya sebagai seorang janda. Dalam hatinya masih ada rasa takut jika nanti anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Apa lagi kini kedua orang tuanya pun sudah tidak ada lagi di dunia ini.
.
Beberapa saat kemudian Rina tampak mengantarkan Anjas ke luar, mereka berhenti di samping mobil Anjas.
"Terima kasih," ujar Rina lirih.
Anjas tersenyum, dia kemudian berdiri sejajar di depan Rina yang kini telah berganti status menjadi mantan istrinya.
"Ini adalah caraku menebus semua kesalahanku padamu, Rin. Semoga setelah ini kamu bisa memaafkan segala kesalahan aku," jawab Anjas.
"Aku juga berharap hubungan kita masih bisa tetap baik, walau bukan lagi sebagai suami istri. Setidaknya kita bisa berhubungan sebagai teman," sambung Anjas lagi.
__ADS_1
Rina mengangguk. "Semoga saja ya, Mas."
"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Jaga dirimu baik-baik," ujar Anjas.
Rina kembali mengangguk. "Semoga kamu juga bahagia dengan Tari, Mas."
Anjas mengangguk sambil tersenyum miris, kini semua harapannya sudah terwujud, pernikahannya dengan Rina benar-benar berakhir. Namun, entah mengapa hatinya sama sekali tidak merasakan senang, sebaliknya dia malah merasa ada sesuatu yang hilang.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti."
Semalam tadi Anjas sama sekali tidak tidur, dia terus memikirkan permintaan Rina yang menginginkan perpisahan. Cukup sulit dia memutuskan untuk melepaskan wanita yang tengah hamil itu, walau akhirnya Anjas memutuskan untuk menuruti kemauan Rina.
Nyatanya rasa bersalah Anjas karena telah menahan Rina di rumah tempo hari, hingga membuat Rina hampir tidak bisa melihat jenazah kedua orang tuanya, terus membuatnya tidak tenang.
"Ohiya, ini kartu milik kamu, Mas," ujar Rina mengulurkan sebuah kartu yang dulu pernah Anjas berikan melalui Hilman.
"Ini kamu pegang saja, kartu ini memang aku buat untuk kamu," ujar Anjas menolak.
"Tapi, Mas--"
"Kamu pegang saja, aku akan tetap mengirimkan uang untuk kamu sampai kamu melahirkan," ujar Anjas kukuh.
"Sudahlah, aku pamit dulu," pamit Anjas, dia mengulurkan tangannya ke depan Rina.
Rina mencium tangan Anjas untuk terakhir kalinya, yang disambut dengan ciuman di kening. Bagaikan sebuah kebiasaan, ritual itu tidak pernah terlewat sebagai tanda perpisahan keduanya.
"Terima kasih," ujar Anjas sambil tersenyum tipis.
"Selamat tinggal, Mas." Rina mengangguk kemudian membawa kakinya mundur beberapa langkah, agar Anjas bisa membuka pintu mobilnya.
"Assalamualaikum," ujar Anjas sebelum masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumsalam," jawab Rina lirih.
Rina menatap mobil Anjas yang perlahan mulai melaju menjauh dari pandangan, hingga akhirnya menghilang. Satu tetes air mata kembali meluncur indah di pipinya, merasakan sakit di dalam hati, mengingat semua yang telah terjadi.
Selamat tinggal, Mas, dan terima kasih sudah meninggalkan anak ini untukku. Anak yang telah membuatku bertahan sampai saat ini.
Heni yang sejak tadi memperhatikan Rina berjalan mendekat, dia memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Yuk," ujarnya bermaksud mengajak kembali masuk ke rumah.
Rina mengangguk, kemudian berjalan berdua dengan Heni kembali ke dalam rumah.
...****************...
__ADS_1