
Anjas melihat Rina tajam, dia tidak menerima telah dikatakan seperti itu oleh Rina.
"Tari kecelakaan, aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri di kota!" debat Anjas.
"Kalau aku seperti yang kamu katakan, aku tidak akan pernah ada di sini sekarang, demi menyelamatkan kamu dan keluarga kamu dari rasa malu!" desis Anjas, mulai geram dengan perdebatan ini.
Entah mengapa, setiap kali dia bersama dengan Rina, selalu terjadi perdebatan yang akhirnya membuat mereka saling menyalahkan. Itu juga yang membuat Anjas seolah semakin yakin kalau dirinya dan Rina memang tidak pernah ditakdirkan untuk berjodoh.
"Lalu bagaimana dengan keluargaku, Mas?" Rina menatap wajah Anjas dengan mata berkaca-kaca.
"Bang Hilman sudah mengirimkan foto kondisi Tari saat ini, dia hanya luka ringan, Mas!" sambung Rina lagi, mengingat apa yang dia terima tadi pagi.
"Rina!" Anjas hendak kembali mendebat, saat suara seseorang dari atas panggung memotong perkataan Anjas.
"Hei, yang punya acara sepertinya asik sendiri sejak tadi, nih!" ucapan dari ustad yang berada di atas panggung terpakasa menghentikan perdebatan mereka.
Mendengar semua itu, jelas saja seluruh tamu undangan yang sedang ada di sana langsung mengalihkan perhatiannya pada Anjas dan Rina, hingga membuat mereka berdua serba salah
Rina dan Anjas mengalihkan perhatiannya pada ustad dengan senyum palsu di wajah mereka.
"Dengerin gak nih?" tanya ustad itu, yang diangguki oleh Rina dan juga Anjas, walau sebenarnya mereka sama sekali tidak tahu pembahasan apa yang sedang dibicarakan.
"Hem, baguslah ... berarti kita lanjutkan ya!" semua tamu yang hadir menyetujui ucapan ustad itu, termasuk Rina dan Anjas yang menganggukkan kepala serempak.
Seolah sedang tahu apa yang terjadi pada Rina dan Anjas, ustad itu pun beralih pada pembahasan soal keharmonisan rumah tangga dan berkah dalam memiliki anak.
Acara pun selesai menjelang sore hari, Rina memilih untuk segera masuk ke dalam kamar. Tubuhnya sangat lelah, setelah seminggu ini menyiapkan pesta ini sendiri, ditambah dengan perdebatannya bersama Anjas yang menguras tenaga juga pikirannya.
Pagi tadi ketika Rina dirias, Hilman mengirimkan pesan padanya tentang kondisi Tari, lengkap dengan foto istri muda suaminya itu.
__ADS_1
Hatinya sakit begitu mengingat betapa khawatirnya Anjas pada Tari, sedangkan di saat dirnya terkapar tak berdaya di rumah sakit, suaminya malah tidak pernah datang untuk menemuinya.
"Heh! Jangakan datang, bertanya kondisiku saja kamu enggak, Mas," gumam Rina dengan senyum mirisnya.
"Mba, mau dibuka sekarang riasannya?" seorang MUA yang menanganinya datang ke kamar dan bertanya.
Rina menghapus air mata yang kembali menetes, kemudian tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Anjas entah sedang berada di mana sekarang, Rina tidak lagi perduli pada suaminya itu.
Memang selalu seperti itu, Anjas akan pergi entah ke mana, setelah mereka bertengkar. Sepertinya Rina sudah terbiasa dengan sikap Anjas yang itu.
Sementara itu di kota, Tari terlihat tengah termenung sendiri di rumah, perban masih terlihat di keningnya yang menandakan bahwa lukanya pun bukan lah hal biasa.
Ada rasa sakit dalam hatinya, saat suaminya malah memilih pergi demi menjalankan bisnis daripada menemani dirinya yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Sedang apa kamu di sini, Tari?" suara seseorang yang datang dari arah belakang terdengar, hingga membuatnya berbalik.
Tari tersenyum tipis mendapati sahabatnya datang menemuinya. "Kamu gak ke kantor, Man?"
"Gap apa-apa, Man, aku ngerti kok kalau tante memang sedang sibuk. Makasih ya, udah datang ke sini, kamu memang sahabat terbaikku," jawab Tari, walau terlihat sekali senyumnya dipaksakan.
Hilman menatap wajah murung Tari, dia kemudian berdecak lirih.
"Sudahlah jangan dipikirkan lagi, Anjas kan ke luar kota juga karena ada pekerjaan yang sangat mendesak." Himan menepuk pundak Tari, berusaha untuk menyemangati.
"Lebih baik kamu makan dulu, aku sudah bawakan bubur ayam kesukaan kamu, jauh loh aku belinya," ujar Hilman yang mengetahui kalau Tari belum makan sejak pagi dari pembantu rumahtangganya, sedangkan kini bahkan sudah waktunya makan siang.
"Aku lagi diet, Man," malas Tari dengan hembusan napas kasar, bibirnya pun mengerucut manja.
"Sudahlah, gak usah pake diet segala. Kamu tidak akan gendut hanya dengan makan bubur satu porsi saja. Ayo cepatan makan, kamu harus ingat dengan kesehatan kamu, Tari." Hilman merangkul pundak Tari dan membawanya masuk dengan sedikit paksa.
__ADS_1
"Ish, dasar nyebelin! Kalau Mas Anjas gak suka lagi sama aku gimana?" gurau Tari sambil berjalan dengan menghentakkan kaki.
"Masih ada banyak laki-laki lain yang akan mencintaimu, Tari!" balas Hilman dengan gaya bijaknya.
"Termasuk kamu?" tanya Tari memancing.
"Heem, termasuk aku," angguk Himan yang disambung dengan tawa keduanya.
Kedatangan Hilman cukup untuk membuat Tari melupakan kesedihannya akibat kepergian Anjas, Hilman selalu bisa membuatnya kembali tertawa, walau dalam keadaan apa pun.
Keduanya pun akhirnya masuk ke rumah dengan Tari yang mau untuk makan, keduanya pun berbicang sesaat sebelum kemudian Hilman pamit untuk pergi kembali ke kantor.
.
Ajas baru masuk ke kamar setelah hari sudah gelap dan waktu beranjak malam, siang tadi dirinya hanya ganti baju saja, ketika Rina sedang menghapus riasan kemudian ke luar lagi tanpa bertegur sapa.
Dirinya melihat Rina yang ternyata sudah tidur, Anjas melepas jaket yang dia pakai dan menyimpannya secara asal, dia kemudian beranjak menuju ranjang dan duduk di sisi lainnya.
Entah mengapa matanya kembali melihat Rina yang tampak tenang, walau terlihat sekali lelah yang tampak di wajahnya, ada rasa aneh yang terasa di dalam hatinya.
Bayangan penampilan Rina tadi siang pun bergulir di kepala bagaikan sebuah Film. Bagiamana dia sempat terepsona oleh kecantikan wanita yang sedang hamil itu.
Perutnya yang sedikit terlihat mebuncit, tidak mengurangi kecantikan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya, padahal dia hanya memakai riasan tipis. Walau akhirnya dia kembali menghancurkannya di tengah acara, akibat perdebatan mereka tadi siang.
"Kamu cantik dan baik, orangtua kamu juga sangat baik padaku, walau aku bukanlah menantu yang baik untuk mereka. Maaf, aku sudah membuatmu dalam situasi sulit ini, Rin," gumamnya yang bahkan membuat dirinya terkejut dengan ucapannya sendiri.
Anjas kini merasa bingung dengan perasaannya sendiri pada Rina dan Tari. Apakah mungkin mulai ada rasa cinta yang tumbuh di dalam hatinya untuk Rina, atau itu semua hanya rasa iba dan bersalah karena sudah membuat Rina dalam situasi sulit seperti sekarang ini.
Namun, sepertinya Anjas harus bersabar untuk menunggu jawaban, karena semua itu hanya akan terjawab seiring dengan berjalannya waktu, dan semakin dewasanya mereka menjalani hidup ini.
__ADS_1
...****************...