Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.94 Rindu Bintang


__ADS_3

Anjas menatap wajah lelah dan sembap Bintang yang baru saja tertidur, setelah seharian ini dia terus menangis dan merengek ingin bertemu dengan Rina.


Laki-laki itu tampak menarik napas dalam kemudian menghembusakannya kasar, ada rasa bersalah di dalam hatinya karena terpaksa menuruti kemauan dari ayahnya. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain, karena ini satu-satunya cara agar dia bisa mempertahankan Tari dan Syafira.


Ya, saat itu dirinya juga berada di dalam ancaman sang ayah yang akan melakukan hal sama pada Tari dan Syafira, jika sampai dirinya tidak mau mengikuti kemauan ayahnya.


Ayahnya juga mengancam akan membunuh Rina dan Arya, jika dirinya masih bersikeras untuk melawan.


Perlahan Anjas membawa kakinya melangkah mendekati ranjang Bintang, dia duduk di sisi ranjang di mana anak laki-lakinya itu tengah tertidur.


"Mama." Hati Anjas terasa sakit saat suara lirih dengan bibir bergetar Bintang memanggil sang ibu.


"Maafkan ayah, Bintang, hanya ini yang bisa ayah lakukan untuk melindungi kalian dari kejahatan kakekmu," ujar Anjas lirih dengan penyesalan yang teramat besar di dalam hati.


Anjas mengusap pelan kening Bintang yang tampak sedikit berkeringat, hingga matanya melebar saat merasakan suhu tubuh Bintang yang tidak normal.


"Kamu demam, Nak?" Anjas sedikit mencondongkan tubuhnya sambil mencoba menyamakan panas antara dirinya dan sang anak.


"Astaga, kamu beneran demam!" ujar Anjas yang bertambah panik.


"Bintang, Bintang." Anjas mencoba membangunkan anaknya yang bahkan tidak memberikan respon sama sekali.


"Bintang, bangun, Nak!" Anjas semakin panik, saat dirinya menyibak selimut yang menutupi anak itu kemudian merasakan jika baju Bintang bahkan sudah basah oleh keringat.


Anjas bangkit dan langsung membawa Bintang ke dalam gendongannya, dengan langkah lebar Anjas membawa Bintang ke luar dari kamar.


Namun, langkahnya terhenti saat dirinya berpapasan dengan Tari yang juga baru saja ke luar dari kamarnya.


"Ada apa, Mas? Kenapa Bintang kamu gendong seperti itu?" tanya Tari yang juga tampak panik, saat ini wanita itu tampak hanya menggunakan tongkat bantu jalan.


"Bintang demam tinggi, Tari. Dia bahkan sudah tidak sadarkan diri! Aku harus segera membawanya ke rumah sakit!" jelas Anjas panik.


"Apa, Bintang demam? Kalau gitu aku ikut ke rumah sakit, Mas!" Tari juga ikut panik saat melihat Bintang yang terkulai lemas di dalam gendongan Anjas.


"Kamu di rumah saja, kasihan kalau Syaira ditinggal sendiri. Bintang biar aku saja yang membawanya," ujar Anjas, menolak keinginan Tari.


"Tapi, Mas--" Perkataan Tari terhenti saat Anjas langsung menyela.


"Aku pergi sama sopir, kamu baik-baik di sini, ya," ujar Anjas kemudian berjalan cepat menuruni tangga sambil memanggil sopir keluarganya yang kebetulan sedang menginap di rumah.


Beberapa saat kemudian, Anjas tampak sedang mendampingi Bintang yang sedang diperiksa oleh dokter jaga. Melihat itu, dia jadi mengingat Arya yang juga berprofesi sebagai dokter anak.

__ADS_1


Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin saja sekarang Bintang tidak akan sakit seperti ini dan mungkin mereka sudah bisa bahagia dengan keluarga kecilnya.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Anjas saat melihat dokter telah selesai memeriksa Bintang.


"Tidak ada masalah dengan anak Bapak, mungkin ini hanya karena kelelahan saja. Namun, jika sampi besok demamnya belum turun juga, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan," jelas dokter laki-laki yang usianya mungkin tidak begitu jauh darinya.


"Baiklah, terima kasih, Dok," ujar Anjas tulus, dia sudah merasa sedikit lebih lega setelah mendapatkan penjelasan dari dokter.


.


Malam bergulir semakin larut, Rina tampak duduk di sisi brankar menghadap jendela kaca yang tirainya sengaja dibiarkan terbuka. Jarum infus masih setia terpasang di punggung tangannya.


Kondisi Rina hanya tinggal pemulihan saja, ternyata sudah satu minggu Rina tidak sadarkan diri semenjak kecelakaan di hari itu.


Matanya menatap langit malam yang hitam kelam diwarnai dengan awan kelabu yang tampak bergulung di beberapa bagian. Tidak ada bintang yang terlihat, bulan sabit pun tampak malu-malu menampakkan diri.


"Bahkan bintang di atas sana pun tidak mau memperlihatkan dirinya padaku," gumam lirih Rina.


Sudah dua hari semenjak dirinya terbangun, tetapi tidak ada satu orang pun dari keluarga Arya yang datang untuk menjenguknya. Heni pun belum memberi tahu apa pun mengenai kondisi Arya, juga di mana Bintang kini berada.


Rina menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, malam ini dia menyuruh Heni untuk pulang saja, karena dirinya sedang ingin sendiri. Bila saja dia boleh jujur, kini dia merindukan dua laki-laki yang telah menghiasi hari-harinya sejak tujuh tahun lalu.


Bintang dan Arya, mereka muncul hampir bersamaan, dan sama-sama memberikan warna di dalam hidupnya.


Rina tersenyum saat matanya melihat satu bintang yang berbahaya sangat terang.


"Mama merindukan kami, sayang," gumam Rina lagi, bermaksud pada Bintang –anaknya.


Suara pintu terbuka perlahan sama sekali tidak mengganggu Rina yang sedang larut dalam pikiran panjangnya, dia hanya menutup mata sambil menghirup napas dalam kembali, kemudian menghembuskannya perlahan.


"Sudah aku bilang, kamu pulang saja, Hen," ujar Rina tanpa membuka matanya. Dia tampak menikmati suasana gelap saat sedang menutup mata. Bayangan wajah-wajah orang yang begitu dia rindukan terasa sangat dekat dan nyata, hingga membuat Rina merasa enggan untuk membukanya.


Tidak ada jawaban. Rina mengernyit bingung saat suara langkah kaki itu terdengar berbeda dari Heni. Dia sempat terdiam sebentar seolah berfikir, sekiranya siapa yang datang ke ruangannya di larut malam begini. Senyum tipis pun terukir di bibir yang masih pucat itu, ketika nama sang suami melintas.


"Arya?" Rina membuka mata sambil menoleh ke arah belakang, tetapi ternyata harapannya kembali jatuh ke dasar saat melihat yang kini berdiri di sana bukanlah Arya.


"Anjas?" Rina bergumam pelan, mengulangi tebakannya yang ternyata salah. Dia melihat mantan suaminya itu berdiri dengan baju yang tampak berantakan dan mata memarah.


Anjas tersenyum tipis, berusaha tidak menunjukkan kesedihannya pada Rina. Dia sengaja membawa Bintang ke rumah sakit yang sama dengan tempat Rina dirawat, agar dirinya bisa membawa Bintang untuk bertemu dengan Rina.


"Aku ganggu kamu, ya?" tanya Anjas perlahan.

__ADS_1


"E-enggak kok, duduk," ujar Rina sambil menggeser duduknya hingga menghadap pada Anjas sepenuhnya.


Anjas pun mengangguk, kemudian duduk di kursi yang tersedia di dekat brankar Rina.


"Ada apa, kok ke sini malam sekali?" tanya Rina tanpa ada curiga sama sekali pada Anjas.


Anjas kembali tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala, dia merasa lucu dengan tindakannya saat ini. Awalnya dia hanya ingin melihat kondisi Rina secara diam-diam, tetapi saat dia tahu kalau sedang sendiri, dia malah memanfaatkan situasi itu untuk menemui wanita itu.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu, Rin," ujar Anjas pelan, dengan kepala yang masih menunduk, seolah berat untuk berbiara.


Rina mengernyit bingung, mendengar suara berat Anjas. Jarang sekali dia mendengar Anjas berbicara seperti itu, membuatnya penasaran apa yang sebenarnya ingin Anjas katakan padanya.


Namun, Rina hanya menatap Anjas tanpa menanggapi ucapannya, dia hanya memperlihatkan jika dirinya siap untuk mendengarkan apa yang ingin Anjas katakan.


"Ekhm!" Anjas berdeham pelan sebelum memulai cerita yang mungkin akan sangat panjang dan menorehkan luka kembali di dalam hati wanita di depannya.


"Kamu pasti rindu dengan Bintang, kan?" tanya Anjas mengawali pembicaraannya.


Mendengar itu, Rina mengangguk cepat, tanpa menyadari jika itu adalah pertanyaan yang cukup janggal, karena dirinya belum mengetahui kalau Bintang kini bersama Anjas.


"Iya, aku sangat merindukannya. Tapi, setiap kali aku meminta Heni membawa Bintang ke sini, dia selalu menolak karena katanya Bintang tidak tahu aku sedang dirawat," jawab Rina jujur, dia bahkan mengatakan itu dengan wajah polos, dia sempat terkekeh pelan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Keluarga Arya pasti tidak mau Bintang sedih, makanya mereka tidak memberitahu kalau aku kecelakaan," sambung Rina lagi.


Hati Anjas kembali merasa sakit, melihat Rina yang bahkan belum mengetahui apa pun.


"Tidak, Rina. Sebenarnya, Bintang tau kamu kecelakaan dan Bintang juga tidak lagi bersama dengan keluarga Arya," ujar Anjas penuh sesal.


Deg!


Hati Rina terasa berhenti berdetak beberapa saat, ketika ucapan Anjas terdengar di telinga. Dia menggeleng samar dengan senyum miris terukir di bibir kering wanita itu.


"A--apa maksud kamu? Heni tidak mungkin berbohong padaku!" Rina tidak terima jika Anjas sampai menuduh sahabatnya itu telah berbohong padanya. Itu adalah hal mustahil, karena selama ini dia sangat mempercayai Heni dan Heni pun tidak pernah berbohong padanya.


"Aku tidak menuduh Heni berbohong, Rina. Tapi aku mohon kamu dengarkan dulu aku bicara." Anjas tampak menenangkan Rina yang mulai panik.


"Baiklah, aku akan dengarkan, tapi jangan mencoba untuk membuat Heni dan keluarga Arya jelek di mataku, Anjas. Karena itu tidak akan pernah bisa terjadi," ujar Rina memberi peringatan keras pada Anjas.


Anjas tersenyum tipis, dia tidak menyangka kalau Rina yang sekarang begitu tegas dan melindungi orang yang dia sayangi dengan berani.


"Iya, aku mengerti," jawab Anjas sambil mengangguk pasti. Dia memang tidak berniat untuk melakukan itu, dirinya hanya ingin menjelaskan keadaannya sekarang dan berharap Rina bisa mengerti dengan keputusan yang dia ambil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2