
...Maaf ya, aku selingkuh pake promosi karya aku yang baru dulu, siapa tau ada yang tertarik🤭🙏❤️...
Angin malam terasa dingin menyentuh kulit, berteman secangkir kopi di tangan, sekarang laki-laki paruh baya tampak berdiri sendiri di balkon sebuah rumah. Mata hitamnya menatap lurus ke depan dengan pikiran melayang entah ke mana.
"Mas." Suara lembut seorang wanita yang sudah lama menemani perjalanan hidupnya pun mengalihkan atensinya. Laki-laki itu menoleh, menatap wanita yang berjalan menghampirinya.
"Kenapa belum tidur?" tanya laki-laki itu yang tidak lain adalah ayah Anjas.
Wanita itu tersenyum lembut kemudian berdiri di samping sang suami. Walaupun laki-laki itu terlihat begitu keras kepala dan serakah, tetapi dia masih sangat mencintainya.
"Mas sendiri belum tidur?" ujar ibu Anjas tanpa melihat sang suami. Pandangannya lurus ke depan, melihat luasnya lapangan bola di belakang rumah mereka.
Hening, kedua paruh baya itu sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.
Wanita itu tahu kenapa suaminya bisa menjadi sosok yang tidak berperasaan seperti sekarang. Padahal dulu sewaktu mereka baru menjalin hubungan suaminya adalah sosok yang tidak pernah perduli pada jabatan, hingga di suatu waktu semua keluarga besarnya selalu merendahkan keluarga kecil mereka hanya karena suaminya tidak memiliki jabatan.
Semua itu semakin menjadi saat dirinya mengalami pendarahan hebat di kehamilan pertamanya, hingga membutuhkan uang untuk membayar biaya rumah sakit. Namun, tidak ada satu orang pun keluarga yang membantunya karena takut mereka tidak sanggup membayar. Karena semua itu suaminya terpaksa harus meminjam uang pada rentenir yang kemudian terus memeras mereka dengan bunga yang sangat besar.
Tanpa terasa, sakit hati itu ternyata menumbuhkan sebuah obsesi bagi suaminya, hingga di saat mereka menerima warisan, suaminya langsung gunakan uang itu untuk mendapatkan jabatan dan berjanji akan menjadikan keluarganya yang paling kaya dibandingkan kerabatnya yang lain, hingga tidak ada lagi yang bisa menghina mereka.
Seiring dengan semakin besarnya obsesi sang suami, akhirnya laki-laki itu memilih jalan yang salah dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kepuasan hatinya. Sayangnya, dia tidak memiliki pilihan lain selain mendukung sang suami karena rasa cintanya yang begitu besar bagi laki-laki itu.
Walau, beberapa kali masalah perbedaan pendapat hampir membuatnya menyerah dalam menjalani rumah tangga, termasuk saat mereka kehilangan Sisi. Dirinya dan sang suami bahkan sempat perang dingin selama beberapa tahun, hingga tanpa sadar melupakan anaknya yang lain.
"Mas?" Setelah lama terdiam, ibu Anjas mencoba untuk kembali membuka suara.
__ADS_1
Tidak menjawab, suaminya itu hanya mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Apa tidak bisa kamu sudahi semua ini, Mas? Aku mulai takut," ujar Ibu Anjas lirih.
Kening ayah Anjas tampak berkedut, mata tajam itu menyorot wajah sang istri, seakan keberatan dengan pertanyaan yang baru saja dia dengar.
"Kamu tau, jika sampai aku menyerah maka itu sama saja aku memberi celah pada mereka untuk menjatuhkanku? Kamu mau suamimu masuk penjara?!" Suara ayah Anjas terdengar meninggi dan tidak bersahabat sama sekali. Jelas laki-laki itu tengah memperlihatkan keberatannya atas ucapan sang istri.
"Kita sudah tua, Mas. Anak kita juga sudah sukses dengan usahanya sendiri." sang istri berkata lirih, dia menundukkan kepalanya takut akan bersitatap dengan mata tajam suaminya.
"Justru itu, karena aku sudah tua maka aku tidak mau membusuk di penjara. Lagi pula, apa kamu tidak tahu jika nanti terjadi sesuatu padaku, itu juga akan berimbas pada perusahaan anakmu, hah?!" Ayah Anjas tampak mengepalkan tangannya untuk menahan emosi, walau sepertinya itu tidak terlalu berpengaruh.
"Pikir dulu sebelum berbicara! Perusahaan anakmu bisa saja jatuh kalau aku sampai ditangkap polisi!"
Ibu Anjas hanya bisa terdiam dengan mata yang mulai menghangat, selalu berakhir begini jika mereka sudah berbeda pendapat. Emosi suaminya sudah berubah semenjak kehilangan Sisi beberapa tahun lalu, dia menjadi lebih mudah marah.
.
Tari sadar, jika seberapa banyak pun bukti yang mereka kumpulkan, tidak akan berguna bila mereka tidak memiliki dukungan dari seseorang yang sepadan dengan mertuanya. Karena itu, Tari memutuskan untuk meminta bantuan pada sang Papa.
"Kamu tau kalau ini bukan hal mudah, kan?" tanya Papa Tari. Mereka sudah berbicara cukup lama, hingga Tari menceritakan semua masalah yang kini tengah dihadapi sang suami.
"Aku tau, Pah ... makanya aku minta tolong sama Papah," jawab Tari lirih. Dia menundukkan kepala melihat jemarinya yang saling bertaut di pangkuan.
"Ini semua gara-gara suami kamu yang brengsek itu, dia terlalu serakah sampai memiliki anak dari wanita lain!" kesal Papa Tari, dia kemudian menatap wajah sang anak yang masih menunduk.
"Kenapa kamu tidak menceraikannya saja, sayang? Papa bisa mencarikan kamu suami yang lebih baik dari laki-laki brengsek itu!" ujarnya memberikan penawaran pada sang anak.
__ADS_1
Jujur saja, dia sudah sangat muak melihat menantunya yang menyakiti Tari, tetapi sayangnya Tari terus saja menolak untuk meninggalkan laki-laki itu.
"Papa, jangan aneh-aneh, deh. Aku cinta sama Mas Anjas, dia juga cinta sama aku, Pah. Lagi pula, tidak akan ada laki-laki yang mau sama wanita seperti aku. Aku bahkan tidak bisa punya anak." Tari mengerucutkan bibirnya dengan perkataan lemas di akhir kalimatnya.
"Kamu hanya sedang sakit, Tari! Dokter saja mengatakan kalau kamu masih memiliki kesempatan!" Papa Tari tidak terima dengan ucapan sang anak.
"Tapi, aku mencintai Mas Anjas, Pah. Aku cuman mau sama dia, Pah," lirih Tari dengan mata berkaca-kaca.
Melihat itu Papa Tari hanya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sungguh, hatinya tidak tega melihat anak perempuannya kini tengah menghadapi kesulitan.
.
Sementara itu, Anjas, Arya, dan Rina juga sedang bertemu di ruang dokter rumah sakit tempat Arya bekerja, setelah Arya melakukan pemeriksaan di sana.
Tadi malam Rina sudah menceritakan semua yang terjadi selama Arya tidak ada di sampingnya, juga rencana Anjas untuk membantu mereka melawan ayahnya sendiri.
Kini di sini lah mereka, dengan semua bukti yang sudah terkumpul dan rencana yang semakin matang. Semua itu akan semakin mudah jika papa Tari juga menyetujui untuk membantu mereka.
Dengan semua itu, Anjas, Arya, dan Rina yakin jika rencana mereka akan berhasil membuat ayah Anjas menerima hukuman.
"Terima kasih atas bantuan kamu, Jas. Aku tau ini pasti bukan hal yang mudah untukmu," ujar Arya tulus.
"Aku tidak melakukannya untuk kalian, tapi ini semua untuk aku dan ayahku," jawab Anjas tanpa menatap Arya.
Arya menghela napas pelan, ternyata sahabatnya itu masih saja seperti dulu. Terlalu menjunjung tinggi gengsi. Namun, dia tahu di balik itu Anjas bukanlah orang yang sombong dan tidak berperasaan.
Arya benar-benar berterima kasih pada mantan sahabatnya itu, untuk semua yang telah dia lakukan bagi Rina, Bintang, dan dirinya.
__ADS_1
Memberi hukuman untuk orang yang dia sayang, terlebih itu adalah orang tuanya sendiri, bukanlah hal yang mudah. Dan, Arya sangat kagum pada Anjas untuk semua keputusan berani yang diambil oleh Anjas.