
"Apa yang sudah kalian dapatkan?" tanya laki-laki paruh baya pada dua orang laki-laki lainnya di belakang.
Sore hari yang tampak indah dengan semburat merah di langit senja, membuat laki-laki yang merupakan ayah dari Anjas itu memilih menikmatinya di halaman rumah dengan secangkir teh hangat di tangan.
Nada suara tegas dan tatapan penuh intimidasi selalu terlihat saat laki-laki itu dalam mode serius.
"Wanita itu berasal dari perkampungan, dia masih mengolah perkebunan peninggalan dari kedua orang tuanya. Menurut warga sekitar, usaha perkebunannya semakin maju saat sudah berpindah hak milik atas nama wanita itu, Tuan."
"Kami juga sempat mendengar kalau memang wanita itu pernah menikah sirih dengan seorang laki-laki dari kota dan melahirkan anak dari pernikahan itu. Namun, setelah kedua orang tuanya meninggal mereka memutuskan untuk bercerai dan mantan suaminya tidak pernah terlihat lagi di kampung."
Salah satu laki-laki di belakang ayah Anjas terdengar menjelaskan dengan rinci apa yang telah mereka dapatkan, setelah hampir satu minggu ini menyelidiki tentang target majikannya itu.
Tanpa disebut namanya pun, mungkin kalian sudah bisa menebak. Ya, itu adalah Rina.
Setelah kejadian beberapa hari lalu di rumah sakit, ayah Anjas menugaskan seseorang untuk mencari tahu tetang Rina.
Nyatanya, benar perkiraan Anjas sebelumnya, jika kedua orang tuanya tidak akan langsung percaya pada pengakuannya tentang Rina dan Bintang. Mereka yang menginginkan cucu kandung dari Anjas, seakan tengah mendapat sebuah petunjuk untuk memenuhi keinginannya.
"Jadi dia pernah menikah dengan Anjas?" tanya ayah Anjas, melirik sekilas kedua laki-laki di belakangnya kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Kami belum bisa mengetahui dengan pasti, siapa mantan suami wanita itu, Tuan," ujar kedua laki-laki itu dengan suara yang berubah resah.
Ayah Anjas tampak berbalik dan menatap kedua orang suruhannya dengan tatapan tajam menusuk.
"Ini sudah seminggu, kalian bahkan belum tahu hal yang sangat sepele seperti itu, hah?!" sentak ayah Anjas dengan wajah kelam, hingga membuat kedua laki-laki itu menggigil ketakutan.
"M‐-maafkan kami, Tuan," ujar keduanya bersamaan, dengan suara yang terdengar sedikit gagap.
Ayah Anjas tampak menghembuskan napas kasar kemudian kembali melihat kedua orang itu.
"Cari tau lagi, aku mau kalian melaporkan hasilnya secepatnya!" tegas ayah Anjas.
"B--baik, Tuan." Kedua laki-laki itu langsung pamit dan pergi tunggang langgang dari area rumah besar itu.
.
Sementara itu di bandara, Rina tampak sedang menunggu kedatangan Ranti --anak pertama abi dan ummi-- dia berdiri di depan pintu kedatangan bersama dengan ummi yang ada di sampingnya. Wanita paruh baya itu tampak sangat bersemangat untuk menyambut kedatangan anak perempuannya.
Di kursi tunggu tampak duduk tenang keempat laki-laki berbeda usia. Mereka adalah, Abi yang tengah bercanda dengan Bintang, juga Arya dan Ray yang tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing.
__ADS_1
"Ish, dasar laki-laki, semuanya sama pada sok jaga image," kesal ummi menatap ketiga laki-laki di kursi tunggu.
"Untung saja sekarang sudah ada kamu, Rin, jadi ummi gak sendirian lagi nungguin Ranti di sini," sambungnya sambil tersenyum dan melihat Rina.
Rina tersenyum, dia kembali menggandeng tangan ummi sambil tersenyum senang. Setiap kali bersama ummi dia bisa merasakan perhatian seorang ibu. Walau dulu dia pernah kecewa dengan sikap ummi, tetapi Rina tidak mengambil pusing itu semua.
"Ummi, senang sekali ya?" ujar Rina sambil tersenyum lembut. Sikap ummi mengingatkannya pada ibu saat dia akan pulang ke kampung.
"Bagaimana ummi gak senang, Rin. Ranti sudah hampir satu tahun gak ketemu, biasanya kalau hari raya idul fitri saja di akan pulang," jawab Ummi dengan senyum sumringah di bibirnya.
Rina mengangguk-anggukkan kepalanya samar, dia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh ummi. Sebagai seorang ibu, tentu dia juga akan seperti ini jika Bintang berada jauh darinya.
"Kali ini dia ke sini lebih dulu, karena berencana untuk melahirkan di sini. Katanya melahirkan anak pertama mau di Indonesia biar dekat dengan keluarga." Ummi bercerita dengan penuh semangat.
Rina ikut tersenyum melihat kebahagiaan wanita paruh baya di sampingnya.
"Benar, sepertinya semua calon ibu, akan lebih tenang jika melahirkan di dekat orang tua dan keluarga," jawab Rina dengan ingatan berkelana pada saat dirinya melahirkan Bintang dalam keadaan sendiri.
Terasa sangat menyedihkan kalau sekarang dia mengingatnya, jika saja saat itu tidak ada keluarga Heni, entah bagaimana dia harus melalui hidup dengan seorang bayi.
Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan, sesuatu yang dia jadikan sebagai penyemangat dan penguat diri dalam menjalani kehidupannya.
Beberapa saat kemudian para penumpang mulai terlihat dari pintu kedatangan membuat ummi memegang erat tangan Rina sambil mencari keberadaan anak perempuannya. Banyak dari para penjemput lain yang berada di sana, mulai dari keluarga dan orang yang mungkin menjemput tamu mereka, hingga tempat itu menjadi penuh sesak.
Rina menjaga ummi agar tidak terdorong oleh orang di sekitar dan memastikan ummi dalam keadaan baik-baik saja juga nyaman.
"Itu dia Ranti dan suaminya," tunjuk ummi pada seorang perempuan yang tengah hamil besar dengan gaya hijab modern tengah melambai pada mereka, di sampingnya tampak seorang laki-laki yang tengah mendorong troli koper.
Setelah wanita muda itu melihat ummi dan dirinya, dia tampak mempercepat langkahnya hingga akhirnya tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Assalamualaikum, Ummi. Gimana kabarnya, apa ummi baik-baik saja?" tanya wanita yang Rina pastikan itu adalah Ranti, sambil memeluk ummi dengan begitu erat juga cukup lama.
Sementara itu, laki-laki yang mendorong troli itu tampak menghampiri abi, Arya dan Ray, mereka tampak saling menyapa dengan akrab. Rina tebak itu adalah suami Ranti.
Rina membawa kakinya melangkah sedikit menjauh dari keluarga yang tengah berbahagia itu, dia memilih untuk membiarkan mereka bertemu kangen lebih dulu saja.
Ummi tampak mengedarkan pandangannya begitu dia sudah puas bertemu kangen dengan sang anak, dia kemudian menarik Rina untuk mendekat kembali.
"Ranti, ini Rina, calon istri kakakmu." Rina melebarkan matanya saat mendengar perkataan ummi.
__ADS_1
Hah! Sejak kapan aku jadi calon istri Arya? batin Rina terkejut dengan perkataan ummi.
Namun, walau begitu Rina tidak mungkin bisa membantah, dia hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Halo, senang bertemu denganmu," ujar Rina sambil mengulurkan tangannya, tetapi dia kembali dibuat terkejut saat Ranti malah memeluknya.
"Jadi ini wanita yang mampu membuat Kak Arya gak bisa move on? Pantas saja, kamu begitu cantik," ujar Ranti dengan wajah cerianya.
"Iya dong, calon menantu ummi kan harus cantik. Iya kan, Rin?" tanya ummi sambil merangkul pundak Rina.
Rina yang terkejut oleh ucapan ummi yang tiba-tiba, hanya bisa meringis sambil terus tersenyum.
"Ummi dan Ranti juga cantik sekali," jawab Rina dengan pipi yang sudah bersemu merah.
"Nanti malam menginap di rumah kan, ayo kita berbicara tentang Kak Arya, aku punya rahasianya," ujar pelan Ranti pada Rina, seraya menatap Arya dengan senyum menggoda.
"Ranti!" Arya mengintrupsi membuat Ranti melebarkan matanya seolah terkejut.
"Ups, aku hampir saja kelepasan, hehe." Ranti menutup mulutnya seolah terkejut, kemudian terkekeh dengan wajah mengejek Arya.
"Ish, anak ini!" kesal Arya sambil menyentil kening Ranti perlahan.
"Akh, Kak Arya, masih saja suka nyentil aku di kening! Sakit tau," gerutu Ranti pada Arya.
"Kamu juga masih sama, gak bisa jaga mulut!" ejek Arya yang malah membuat semua keluarga di sana terkekeh.
Sikap jahil Arya memang tidak pernah hilang, dia senang sekali menggoda para adiknya, hingga mereka juga begitu dekat dengan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.
Walau Arya tidak terlahir dari rahim yang sama dengan Ranti dan Ray, tetapi nyatanya semua itu tidak menghalangi rasa persaudaraan di antara ketiganya.
"Ini pasti Bintang?" tanya Ranti sambil beralih melihat anak kecil yang sejak tadi tidak jauh dari abi.
"Ya ampun, ganteng banget sih kamu--" Ranti tampak bisa langsung menerima keberadaan Rina dan Bintang di tengah keluarganya.
Setelah mereka selesai dengan ritual pertemuannya, kini mereka pun memilih untuk langsung pulang ke rumah, agar Ranti bisa langsung beristirahat setelah penerbangan yang cukup lama.
Sampai di rumah, tenyata Ranti bahkan sudah menyiapkan oleh-oleh untuk Rina dan Bintang. Semua itu tentu membuat Rina semakin merasa sudah diterima oleh keluarga Arya.
...****************...
__ADS_1