Istri Selingan

Istri Selingan
Bab 7. Pindah


__ADS_3

Pagi ini Rina berkemas untuk ke luar dari hotel, sambil menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Hingga akhirnya ketukkan di pintu terdengar, membuat Rina beranjak untuk membukanya.


"Selamat pagi, Rin," ujar laki-laki itu, yang tidak lain adalah Hilman. Sepertinya Anjas memang tidak mempunyai orang lain yang bisa dipercaya untuk mengurus Rina, selain Hilman.


"Pagi," jawab Rina dengan senyum cerahnya.


Kali ini Rina sudah bertekad untuk merebut hati Anjas agar dirinya bisa mendapatkan pengakuan atas statusnya dan anak yang dikandungnya.


"Sebenta aku bawa tasnya dulu," ujarnya Rina beranjak ke dalam kamar lagi.


"Ah, biar saya saja." Hilman tampak menahan tangan Rina.


Rina melihat Hilam kemudian melepaskan genggaman tangan Hilman.


"Maaf, aku tidak bisa membiarkan ada laki-laki masuk ke dalam kamarku," tolak Rina sambil melangkah mundur.


"Baiklah, Maaf," ujar Hilman yang langsung mundur dua langkah, sedikit memberi jarak pada Rina.


Rina hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas miliknya. Beberapa saat kemudian Rina sudah kembali dengan tas ransel di tangannya.


"Sini biar aku saya yang bawa." Hilman langsung meminta tas ransel di tangan Rina.


"Terima kasih," angguk Rina sambil memberikan tas ranselnya.


Keduanya tampak berjalan menuju resepsionis untuk mengurus cek out Rani.


"Anjas menitipkan kartu ini untuk kamu," ujar Hilman sambil memberikan kartu yang sebelumnya sudah dipakai untuk membayar hotel.


"Terma kasih," ujar Rina mengambil kartu dari tangan Hilman.


Setelah menyelesaikan semua urusan di hotel, kini keduanya pun berjalan beriringan menuju ke parkiran. Anjas mengantarkan Rina menuju sebuah perumahan.


Rina mengedarkan pandangannya saat dia sudah turun kembali di depan rumah sederhana. Bangunan dengan luas sekitar delapan puluh meter persegi, bergaya minimalis modern. Terlihat cukup manis dan nyaman untuk dihuni.


"Ini rumah tempat kamu tinggal mulai sekarang," ujar Hilman sambil menaruh tas ransel milik Rina di sampingnya berdiri.


"Rumahku juga tidak jauh dari sini, kamu bisa menghubungiku jika ada perlu sesuatu," ujar Hilman lagi.


"Terima kasih," ujar Rina sambil mengedarkan pandangannya, memperhatikan suasana di sekitar sana.

__ADS_1


Keduanya tampak masuk ke dalam rumah, Hilman hanya menaruh tas ransel Rina di ruang tamu, kemudian pamit.


"Kalau begitu, aku permisi dulu," ujar Hilman yang langsung mendapat anggukkan dari Rina.


.


.


Rina tampak duduk di kursi tamu rumah barunya itu, di tangannya tampak ada kartu nama Hilman dan kartu dari Anjas yang diberkan Hilman di hotel, hembusan napas kasar terdengar berulang kali, menandakan kalau sekarang wanita itu sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat.


"Jadi beginikah sekarang jalan hidupku? Hidup sendiri, bagaikan tidak mempunyai suami?" gumam Rina tersenyum getir.


Walau Rina sudah bertekad untuk tegar dan berusaha mendapatkan hati Anjas. Akan tetapi, tetap saja di dalam hatinya ada luka yang masih basah dan menimbulkan rasa sakit.


Kini RIna tidak bisa pulang ke kampung, dia tidak akan sanggup melihat kekecewaan dari Ibu dan Bapak, apalagi jika meraka bertanya tentang peran Anjas sebagai seorang suami dan calon ayah dari anaknya.


"Maafkan, Mama, Nak. Mungkin hanya ini yang bisa Mama dapatkan untuk meminta tanggung jawab dari ayahmu. Mama, tidak bisa meminta lebih darinya lagi," lirih Rina sambil mengelus perut bagian bawahnya.


.


.


"Apa?" jawabnya dengan nada sinis.


"Kamu sudah mengantarkan RIna ke rumah itu?" tanya seseorang di ujung sambungan telepon, siapa lagi kalau bukan Anjas.


"Sudah," jawab Hilman singkat.


"Terima kasih, Bro. Kamu memang sahabat terbaikku," ujar Anjas dengan suara yang terdengar lega.


"Gak usah geer kamu, kalau bukan karena aku kasihan sama tuh cewek, aki gak akan mau bantuin kamu, berengsek!" kesal Hilman.


"Terserah deh kamu mau ngomong apa, yang penting aku makasih banget karena kamu udah mau tolongin aku jagain Rina."


Sambungan telepon pun putus begitu saja, dengan hati Hilman yang merasa dongkol pada sikap sahabatnya.


"Gak nyangka aku bisa dapet sahabat brengsek macam kamu, Anjas," gerutu Hilman sambil terus melajukan mobilnya.


Ingatannya kembali pada saat Anjas datang ke rumahnya kemarin, dan meminta tolong mencarikan rumah kontrakan untuk Rina tinggal.

__ADS_1


"Dasar manusia brengsek, kamu, Jas! Siapa sebenarnya cewek itu? Kenapa dia ngaku sebagai istri kamu, hah?!" tanya Hilman dengan amarah yang memuncak.


"Itu semua diluar kendali aku, Man. Aku terpaksa nikah sama dia, waktu aku liburan di daerah." Anjas mencoba menjelaskan, dia pun akhirnya menjelaskan apa yang terjadi padanya dan Rina hingga akhirnya mereka berdua menikah.


"Tapi, kamu bisa bilang sama dia dan keluarganya kalau kamu udah punya tunangan dan sedang mempersiapkan pernikahan. Ngapain kamu malah bikin dia hamil, hah?" Hilman tetap saja keberatan dengan keputusan yang diambil oleh Anjas.


"Mana ada sih laki-laki yang bisa tahan kalau dikasih tubuh gadis seperti dia, Man. Aku gak munafik, apa lagi aku tau kalau dia sudah menjadi halal buat aku," jawab Anjas dengan mudahnya.


"Sialan kamu, Jas! Jadi selama ini kamu manfaatin kepolosan cewek itu buat pemuas napsu kamu, hah?!" Wajah Hilman semain kelam, saat mendengar perkataan sahabatnya.


"Kita udah nikah, Man. Enggak salah kan kalau aku menyentuhnya?" tanya Anjas dengan wajah brengseknya.


"Aku tau, Jas. Aku tau kalian berdua udah nikah. Tapi, setidanya kamu, jangan merusaknya kalau memang kamu gak suka sama dia, bego!" sentak Hilman.


"Dasar bajingan!" Hilaman masih saja memaki Anjas dan melupakan kekesalannya.


"Kalau saja kamu bukan sahabatku, aku yakin kamu udah habis sama aku!" gerutu Hilman lagi.


"Halah, gak usah sok suci kamu, Man. Aku yakin, kalau kamu ada di posisi aku, kamu, juga pasti udah ngelakuin hal yang sama kayak aku," jawab Anjas malah semakin membuat Hilman geram.


"Jangan samain aku dan otak brengsek kamu, Jas!" Hman hampir saja melayangkan tinjunya pada Anjas, walau tangannya berhenti di udara.


Hilman membuang muka sambil menghembuskan napas kasar, mencoba meredam emosinya yang telah sampai ke ubun-ubun.


"Terus sekarang, kamu, mau gimana? Dia hamil, Jas," tanya Hilman, setelah menurunkan emosinya.


"Gak tau, aku malah gak yakin kalau dia hamil anakky," jawab Hilman santai.


"Dasar brengsek! Bisa-bisanya kamu bilang kayak gitu sama istri kamu sendiri, padahal kamu sendiri mengakui sudah menggauli dia!" geram Hilman menatap Anjas dengan mata yang memerah.


"Kita itu cuman ngelakuin itu beberapa kali, Man. Mana bisa langsung jadi kayak gitu. Lagian aku sama dia udah pisah lama," jelas Anjas, mengungkapkan keraguannya.


"Bener-bener gak ngerti aku sama pemikiran kamu, Jas." Hilman menggeleng miris melihat sahabatnya yang terlihat begitu menyedihkan baginya.


"Awas saja nanti kalau kamu nyesel, pas dia udah gak kuat sama kelakuan kamu yang egois ini, Jas. Jangan sampai kamu datang ke sini. Aku udah peringatin kamu, ya," ujar Hilman memberi peringatan.


"Gak akan, Man. Aku malah akan bersyukur kalau dia bisa pergi ninggalin aku," jawab Anjas percaya diri.


"Lagian aku akan tanggung jawab sampai anak yang gak jelas itu lahir, jadi buat apa aku harus menyesal?" sambung Anjas lagi dengan sombongnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2