Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.6 Datang


__ADS_3

"Dasar laki-laki brengsek! Ternyata wanita yang kamu suruh aku jaga adalah selingkuhan kamu, hah?!" sentak Hilman begitu teleponnya diangkat oleh Anjas.


"Sorry, Man. Dia hanyalah sebuah kecelakaan di hidupku, hubungan kita hanya sebuah keterpaksaan," jelas Anjas masih terdengar santai.


"Terpakasa? Cih! Alasan basi para buaya, kalau gak terpaksa ya cuman hiburan," sinis Hilman, masih kesal dengan kebodohan sahabatnya.


"Sudahlah gak usah dibahas lagi, nanti malam aku cari cara untuk menemui dia dan memberi penjelasan. Setelah itu aku akan menceraikannya, jadi kamu gak usah ribet ngurusin dia lagi. Aku jamin Tari gak pernah tahu hubungan aku dan Rina," jelas Anjas dengan penuh percaya diri kemudian menutup sambungan teleponnya begitu saja, tanpa mau mendengar lagi omelan tidak berguna dari sahabatnya.


.


Sudah dua hari Rina ada di hotel itu, tanpa ada kabar dari Anjas. Rina melihat ponselnya dengan hembusan napas kasar ... sudah tidak terhitung dia berusa untuk menguhubungi suaminya, entah itu melalui telepon atau mengirim pesan.


Namun, tidak ada satupun yang Anjas jawab atau balas. Dia sudah cukup bersabar menghadapi situasi ini. Jika saja Rina bisa membayar kamar hotel, mungkin lebih baik dia pergi, daripada harus terkurung di sini.


"Kenapa juga dia harus menyuruh laki-laki itu membawaku ke hotel yang mahal sih?" gerutu Rina sambil menjatuhkan tubuhnya pada ranjang.


Ya, semenjak dia ke luar dari rumah sakit dan terkurung dalam gedung bertingkat dengan nama hotel itu, kini dirinya hanya menghabiskan waktu di dalam kamar dengan televisi sebagai temannya.


"Heuh! Baiklah, aku akan menunggu satu malam lagi, jika memang dia tidak datang, maka aku akan mendatangi rumahnya dan mengungkapkan semuanya," sambung Rina lagi, sambil mengehembuskan napasanya kasar, dia kemudian berbaring miring sambil memeluk salah satu bantal hotel, seperti sebuah guling.


Rina tengah tertidur lelap saat suara dering ponsel membangunkannya, dia melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul dua dini hari.


"Mas Anjas, ngapain dia telepon aku malam-malam begini?" gumam Rina, sambil beranjak duduk bersandar di kepala ranjang.


"Halo, Assalamuaikum, Mas," sapa Rina, sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Buka pintunya, aku di depan!" jawab Anjas dari ujung sambungan telepon.


"Hah, Mas, di depan?" tanya Rina dengan senyum lebarnya, sepertinya rasa sakitnya beberapa hari belakangan tiba-tiba menghilang hanya karena kedatangan suaminya.


"Iya, cepat buka!" perintah Anjas, dengan suara malas.


"Iya-iya, aku buka sekarang, tunggu sebentar ya, Mas," jawab Rina sambil beranjak bangun dan berjalan cepat menuju ke pintu kamar.


Rina membuka pintu kamar, dia tersenyum senang saat melihat laki-laki yang selama ini dia tunggu ada di depan kamarnya.


"Mas," ujar Rina kemudian mencium punggung tangan Anjas dengan berbagai rasa yang bercampur di dalam dada.


"Ayo masuk dulu," ujar Anjas, sambil melepaskan tangannya yang digenggam oleh Rina, kemudian masuk lebih dulu ke dalam kamar.

__ADS_1


Rina mengkuti langkah Anjas, keduanya kini tengah duduk berdampingan di atas sofa.


"Aku seneng banget akhirnya, Mas, mau menemui aku," ujar Rina menatap wajah Anjas dengan binar bahagia.


"Kamu itu sebenarnya mau apa sih datang ke sini? Bukannya aku sudah melarang kamu untuk menyusulku?" ujar Ajas, dengan tatpan menahan kesal.


"Ya ... aku mau menemui, Mas," jawab Rina masih dengan senyum merekahnya.


Rina seolah sudah lupa akan betapa sakitnya dirinya beberapa hari ini, oleh tingkah Anjas.


"Begini, soal yang kemarin, aku akan menjelaskannya sama kamu." Anjas nampak menggeser tubuhnya hingga kini tubuh keduanya terlihat berhadapan.


Rina tersenyum tipis, walau sorot matanya terlihat jelas menyembunyikan luka.


"Aku gak peduli dengan semua itu, asalakan Abang mau mengakui aku dan bisa berbuat adil diantara kita berdua," ujar Rina dengan sorot mata penuh harap.


Kini harapannya adalah diakui oleh Anjas dan memperjuangkan hak anak yang sedang tumbuh di dalam perutnya.


"Gak semudah itu, Rina. Aku dan Tari sudah pacaran sejak kami kuliah bersama, orang tua kami juga sangat dekat, mereka bisa kecewa jika aku mengenalkan kamu sebagai istriku, Rin," ujar Anjas dengan wajah penuh penyesalan.


Rina mengerutkan keningnya, dia tidak habis pikir dengan perkataan suaminya. Bila memang sejak awal tidak mau mengakuinya, lalu selama ini untuk apa dia dinikahi?


"Aku minta maaf, Rin." Anjas tampak menunduk dalam menyembunyikan rasa bersalah yang kini mulai menyeruak ke dalam hatinya.


Air mata Rina jatuh begitu saja, dia sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit di dalam hatinya, perkataan Anjas barusan membuat dirinya dilanda kecewa.


Selama dua hari ini Rina terus merenung dan berfikir bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya bersama Anjas, tanpa ada yang jadi korban, termasuk dirinya dan anak yang masih di dalam kandungan.


Hingga akhirnya Rina memutuskan untuk mengalah dan mau berbagi suami, asalkan dirinya juga diakui dan diperlakukan sama seperti Tari yang notabene adalah istri sah secara hukum Anjas.


Namun, semua jawaban dari Anjas, kini seolah menjatuhkannya pada titik terendah, dia kembali dilanda dilema dalam memilih. Apakah cinta atau harga diri.


"Mas, mau melepaskan aku?" tanya Rina lagi meminta kejelasan.


"Aku gak cinta sama kamu, Rin. Kita menikah hanya karena terpaksa. Sedangkan aku sangat mencintai Tari ... kami saling mencintai sejak masih kuliah." Anjas menatap Rina dengan sorot mata tidak terbaca, kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa, Mas, mau menikahi aku waktu itu? Mas, juga gak pernah jujur tentang hubungan Mas dan Tari, sama aku," tanya Rina. Isak tangis terdengar lirih di sela pertanyaannya yang cukup panjang.


"Jika saja, Mas, jujur sama aku dan orang tuaku tentang hubungan Mas dan Tari sejak awal, aku tidak akan pernah mau Mas nikahi. Aku bukan wanita kurang ajar yang mau menjadi penghalang hubungan orang lain, Mas," sambung Rina lagi, menahan sesak di dalam dada.

__ADS_1


Anjas terdiam, dia melihat Rina yang kini telah berderai air mata. Ada rasa kasihan di sudut hatinya yang paling dalam.


Namun, keputusannya sudah bulat. Anjas sudah bertekad untuk melepaskan Rina karena dia sangat mencintai Tari.


"Maaf," lirih Anjas.


"Maaf untuk apa, Mas? Semuanya sudah terlanjur terjadi, dan sekarang akulah yang menjadi orang jahat di sini ... akulah yang hadir diantara hubungan kalian. Iya, kan?"


"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan, Mas? Aku harus bagaimana?" Rina terus bertanya, meminta jawaban dan kejelasan dari semua masalah yang tiba-tiba saja terjadi.


"Aku gak tau, Rin! Bisa tidak kamu diam saja dan terima keputusanku, lagi pula kita hanya menikah sirih." Nada bicara Anjas naik beberapa oktaf hingga membuat Rina langsung membungkam mulutnya dengan wajah pucat dan tubuh bergetar.


Selama ini belum ada yang pernah membentaknya, bahkan Bapak dan Ibu pun tidak pernah menaikkan suara padanya. Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang, mengingat dia adalah anak satu-satunya.


Namun, kini di dalam rumah tangganya, untuk pertama kalinya Rina dibentak oleh Anjas, bahkan ternyata selama ini suaminya telah membohinginya dan orang tuanya.


Seseorang yang seharusnya menjadi sandaran untuk hidupnya dan melindunginya, kini malah terus memberi luka dalam hatinya.


"Kamu tau? Selama ini aku juga bingung menghadapi semu ini!" Anjas tampak mengacak rambutnya prustasi.


"Baiklah, aku mengerti sekarang. Ternyata, Mas, memang menyalahkan aku. Mas, menganggap aku sebagai penghalang dari hubungan Mas dan Tari. Tapi, maaf, Mas ... untuk kali ini, Mas, gak bisa menceraikan aku." Rina memaksakan untuk membuka suara, walau itu terdengar sangat bergetar, seperti orang ketakutan.


"Apa maksudmu?" tanya Anjas, menatap wajah Rina dengan kening berkerut.


Anjas tidak suka dibantah, apalagi ini akan mempersulit kehidupannya bersama Tari untuk kedepannya.


Rina tersenyum getir, melihat reaksi Anjas yang terlihat kecewa, membuat Rina mengerti kalau selama ini dia memang dinikahi hanya untuk diceraikan.


"Aku hamil, Mas. Aku datang ke sini untuk memberitahu kabar bahagia ini. Tapi, sepertinya sekarang kehamilan ini, malah menjadi kabar buruk untuk, Mas," jawab Rina sambil mengelus perut bagian bawahnya, air mata yang sempat surut, kini jatuh kembali, mengingat nasib anak yang kini di dalam kandungannya.


"Harusnya jika memang, Mas, tidak mencintaiku, setidaknya Mas jangan menggauli aku, agar tidak akan ada anak yang jadi korban," sambungnya lagi, diakhiri dengan tangisan yang pecah, tidak tertahan.


Anjas melebarkan matanya, dia menatap Rina yang tengah menangis tersedu sambil menangkup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kabar yang baru saja dikatakan oleh Rina benar-benar mengejutkan, hingga membuat Anjas tidak bisa berkata-kata.


"Aku akan tetap bertahan demi anakku. Aku akan memperjuangkan hak anakku!" putus Rina dengan suara lantang dan penuh percaya diri.


Rina mengusap air mata yang menganak sungai dengan kedua telapak tangannya, seolah menunjukkan kalau dia adalah wanita yang kuat dan tegar pada Anjas.


"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi, jangan salahkan aku jika nanti kamu mungkin terluka."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2