Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.18 Acara empat bulanan


__ADS_3

Rina sudah bersiap di depan rumah dengan koper yang ada di sampingnya, hingga tidak lama kemudian mobil Hilman menepi di depannya.


"Sudah siap?" tanya Hilman sambil ke luar dari mobil.


"Iya," angguk Rina.


Hilman mengambil koper di samping Rina kemduian memasukkannya ke kursi belakang.


"Ya sudah, langsung saja, biar sampe sana gak kesorean," ujar Hilman yang langsung diangguki oleh Rina.


Hari ini Rina akan pulang ke kampung dengan diantarkan oleh Hilman, sedangkan Anjas akan menyusul menjelang acara.


Perjalanan dari kota ke kampung memang cukup lama, hingga jam dua siang mobil Himan baru memasuki daerah pedesaan.


"Wah, sampai sini aku sudah gak tau jalan," ujar Hilman sambil melihat sekitar yang masih dipenuhi dengan pepohonan.


"Gak apa, aku tau jalan kok," jawab Rina sambil membuka jendela mobil.


Rina menghirup napas dalam sambil menutup mata. Senyum pun tampak merekah dari bibir merah alaminya.


Hilman yang tengah fokus menyetir melirik Rina dengan ekor matanya, hingga akhirnya dia tidak sanggup juga untuk menoleh.


Senyumnya ikut mengembang, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Rina yang semakin hari terlihat semakin menawan.


Beberapa saat kemudian, Hilman berhasil memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah rumah yang lumayan besar, walau masih tergolong sederhana.


Dua orang paruh baya terlihat berdiri di depan rumah, senyum cerah pun terlihat dari wajah yang mulai keriput tetapi masih terlihat segar.


"Itu kedua orang tua aku," ujar Rina dengan senyum cerianya.


Hilman menoleh melihat Rina, kemudian mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya Rina memang tumbuh di tengah kasih sayang yang berlimpah, apalagi saat dia tahu kalau Rina juga adalah anak satu-satunya.


"Assalamualaikum, Ibu, Bapak!" seru Rina sambil berjalan cepat menuju kedua paruh baya itu, kemudian memeluk wanita yang dia panggil Ibu.


"Eeh, jangan jalan cepat-cepat ingat sama kehamilan kamu, Rina!" oceh Ibu, walau terlihat sekali wajah bahagia darinya.


"Aku kangen banget sama Ibu dan Bapak," ujar manja Rina sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ibu.


Hilman memperhatikan sikap Rina yang berbeda jauh dari biasanya. Dia kemudian ke luar dan menghampiri Rina juga kedua orang tuanya,


"Loh, Anjas mana, Rin?" tanya Bapak, dengan kening yang berkerut dalam.

__ADS_1


Rina mengurai pelukannya dengan Ibu kemudian beralih pada Bapak. "Mas Anjas nanti nyusul, Pak. Dia lagi banyak kerjaan sekarang."


Bapak hanya membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepala samar. Sepertinya Bapak juga tipe mertua yang pengertian pada menantu brengseknya itu.


"Assalamualaikum." Hilman memberi salam sambil menaruh koper milik Rina. Tidak lupa senyum ramah pun dia tampilkan.


"Aku ke sini diantar sama Bang Hilman, saudaranya Mas Anjas," sambung Rina lagi, mengenalkan Hilman pada kedua orangtuanya.


Ibu dan Bapak tampak saling pandang, kemudian mereka tersenyum ke arah Hilman.


"Kamu saudaranya, Anjas? Terima kasih banyak sudah mau mengantar Rina ke sini. Mari masuk-masuk," ujar Bapak dengan begitu ramah, laki-laki paruh baya itu lalu mengambil koper milik Rina dan berjalan di samping Hilman.


"Ayo, Bang. Masuk dulu," ajak Rina sambil merangkul ibunya kemudian berjalan masuk bersama.


Pertemuan pertama menghasilkan sebuah kenangan yang baik bagi Hilman. Penerimaan keluarga Rina yang ramah, membuatnya merasa nyaman.


.


Pagi hari yang cerah dengan kicau burung dan ayam berkokok yang menjadi melodi indah khas perkampungan menyambut Hilman dengan cara yang spesial.


Hilman berdiri di ujung teras, melihat suasana indah kampung yang masih tampak asri, senyum tipis tampak terukir di bibir tebal yang tampak berwarna gelap itu.


"Bang Hilman jadi pulang sekarang?" tanya Rina sambil menaruh kopi di meja.


Hilman langsung menoleh pada asal suara, dia kemudian tersenyum, kemudian kembali mengedarkan pandangannya. Rasanya enggan sekali meninggalkan suasana tenang pedesaan.


"Iya. Aku harus membantu Anjas agar dia bisa datang ke sini."


Rina mengangguk, dia kemudian berjalan menghampiri Hilman hingga berdiri sejajar. Kopi yang tadi dia sempattaruh di meja dia ambil kembali, kemudian memberikannya langsung pada Hilman.


"Terima kasih ya, Bang, sudah mengantar aku ke sini. Maaf, aku banyak ngerepotin Bang Hilman selama ini."


Hilman tersenyum kemudian menggeleng samar, tangannya menerima kopi dari Rina.


"Tidak ada yang merasa direpotkan, Rin. Bukannya sebelumnya aku sudah bilang? Kamu cukup anggap aku seorang teman atau Abang."


Rina ikut tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban. Keduanya kembali berbincang ringan hingga tanpa terasa kopi di tangan Hilman telah tandas.


Menjelang siang Hilman pamit kembali ke kota pada kedua orang tua Rina dengan ucapan terima kasih yang terus terucap dari mereka.


.

__ADS_1


Tanpa terasa hari terus berganti, Rina sudah sibuk sejak datang ke kampung untuk mempersiapkan acara syukuran empat bulanan.


Sesuai dengan keinginan Anjas, Rina mempersiapkan acara yang besar dan cukup mewah. Tenda sudah terpasang di depan rumah dengan dekorasi yang begitu indah.


Esok hari acara akan digelar akan tetapi, sampai sekarang Anjas belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Rina, mana Anjas?" Pertanyaan itu kembali terucap dari sang Ibu untuk ke sekian kalinya.


Rina terdiam dia bahkan sudah enggan untuk ke luar dari kamar, karena para kerabat selalu mempertanyakan suaminya, sedangkan dirinya bahkan tidak bisa menghubungi Anjas sama sekali.


Rina menunduk, dia berusaha tetap tegar dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Walau matanya sudah menghangat dengan air yang berkumpul di pelupuk.


"Mas Anjas sedang di jalan, Bu. Ibu tenang aja, In Sya Allah, besok Mas Anjas sudah sampai," jawab Rina berbohong.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu ke luarlah, kasihan para tamu, banyak yang nanyain kamu," ujar Ibu.


"Aku capek, Bu, mau istirahat aja, takutnya besok gak kuat," tolak Rina halus sambil sedikit meringis.


Hatinya begitu tidak karuan sekarang, rasa takut dan kecewa begitu besar menekan dada hingga terasa sulit untuk sekedar bernapas.


"Ya sudah, kamu istirahat saja kalau begitu. Ibu ke luar dulu."


Rina mengangguk setuju, dia melihat punggung ibunya yang berlalu kemudian menghilang di balik pintu.


"Kamu gak mungkin tega buat aku dan keluargaku malu kan, Mas?" gumam Rina dengan satu tetes air mata jatuh begitu saja.


"Aku mohon, jangan kecewakan aku dan keluargaku lagi, Mas." Rina sangat mengharapkan kedatangan Anjas saat ini, demi menyelamatkan muka dirinya dan seluruh keluarga.


Rina kembali mengambil ponsel yang tergeletak di atas ranjang, dia mencoba kembali menghubungi suaminya untuk yang kesekian kalinya.


Namun, lagi dan lagi teleponnya selalu tidak tersambung, bahkan pesannya pun masih terlihat centang satu.


"Apa kamu sudah membuangku, Mas? Hingga sampai sekarang kamu gak ada kabar."


Air mata telah berderai membasahi pipi yang terlihat lebih tirus. Jantungnya berpacu semakin cepat, seiring detik waktu yang terus berlalu.


Hatinya semakin sakit, larut akan kesedihan dan rasa kecewa, walau masih ada segudang harapan di sana.


"Buat apa bikin acara mewah kayak gini kalau suaminya saja gak ada? Bikin malu keluarga saja!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2