Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.100 TAMAT


__ADS_3

Hari terus berganti, sesuai rencana Arya dan Rina pun melakukan resepsi pernikahan setelah Ranti melahirkan dan kedua orang tua Arya kembali ke Indonesia.


Hingga kini, resepsi pun akan berlangsung beberapa saat lagi. Sekarang baik Rina maupun Arya sedang bersiap di kamar yang sama dengan kru weding orgenizer dan MUA yang membantu mereka.


Arya menatap Rina yang tengah sibuk memakai riasan modern di dalam pantulan kaca di depannya. Senyum tipis pun tidak pernah hilang dari bibir tebal laki-laki itu.


Sudah hampir tiga bulan dia menikah dengan Rina, tetapi setiap harinya dia masih saja selalu terpesona setiap kali melihat istrinya dalam situasi apa pun itu.


Bahkan dia pernah memuji kecantikan sang istri yang masih terkesan di pagi hari. Wajah polos Rina malah membuatnya terlihat lebih muda dan semakin mirip Bintang.


Jika dulu dirinya tidak akan percaya bila ada orang yang mengatakan Cinta itu buta, tetapi sepertinya sekarang dia bisa merasakan itu semua bersama dengan Rina.


Apa pun yang dia lakukan bersama dengan wanita itu terasa sangat indah, walau sempat dia merasa rendah diri karena ternyata pemulihan tangannya memakan waktu lebih lama, dan membuatnya tidak bisa bekerja.


Namun, dengan sabar Rina selalu menyemangatinya dan mendampinginya menjalani pemulihan pasca kecelakaan itu, hingga akhirnya dia pun kembali bisa bekerja dan menemukan percaya dirinya kembali.


Beberapa saat berlalu, keduanya pun sudah siap dengan pakaiannya masing-masing. Rina dan Arya melakukan sesi pemotretan di dalam kamar hotel lebih dulu sebelum keduanya ke luar untuk menyapa para tamu.


"Kami sangat cantik hari ini, sayang," bisik Arya ketika mereka sedang bergaya di depan jendela dengan Arya yang memeluk Rina dari belakang.


"Jadi kemarin-kemarin aku gak cantik gitu?" tanya Rina mengerucutkan bibirnya.


"Siapa bilang?"


"Kamu, tadi!"


Arya mengeratkan pelukannya pada sang istri, dia mengusap pelan Arya bawah perut Rina.


"Kamu selalu cantik di mataku, sayang," bisiknya lagi sambil mencium pelan pipi Rina yang tampak bersemu merah.


"Ish, enggak usah gombal!" decak Rina sambil mengulum senyumnya.


"Tapi, kamu suka, kan?" tanya Arya menggoda.


Rina tidak menjawab karena sang fotografer menyuruh mereka berdua berganti posisi menjadi saling berhadapan. Rina tampak menempatkan tanganya di dada Arya sedangkan lengan Arya berada di pinggang sang istri.


"Kalau lelah bilang ya, aku takut terjadi sesuatu padamu dan calon anak kita," ujar Arya sambil menarik pinggang Rina untuk lebih rapat padanya.


"Iya, aku tau," jawab Rina perlahan.


"Jangan berpura-pura kuat kalau sudah lelah, oke?" Arya kembali memberi peringatan, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya yang tengah hamil muda itu.


Ya, saat ini Rina tengah mengandung dengan usia memasuki enam minggu dan itu sangat membuatnya khawatir, apa lagi wanita itu masih sering mengalami morning sickness.

__ADS_1


Rina kembali mengangguk samar, berbeda dengan kehamilan sebelumnya, saat dia mengandung Bintang, sekarang dia bisa meraskan kasih sayang yang berlimpah dari suami dan seluruh keluarga mertuanya.


Baik itu, ummi, abi, bahkan Ray sering menghubungi Arya atau dirinya sendiri hanya untuk menanyakan kondisinya. Rina merasa sangat bersyukur karena telah bertemu dengan orang-orang yang tepat dan begitu menyayanginya.


Bukan hanya dirinya, bahkan Bintang pun mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari banyak orang, Anjas pun selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama Bintang, walau terkadang dia harus membawa Syafira sekaligus.


"Mama, Papa, aku juga mau difoto," ujar Bintang yang tampak berlari menghampiri keduanya.


Di belakangnya tampak Ray yang mengikuti dengan berjalan cepat. Seperti sebelumnya, Bintang masih menjadi keponakan tersayang Ray, hingga di saat dia memiliki waktu luang, maka yang dicari adalah Bintang.


"Ayo, kita foto bersama," ajak Arya sambil memberi kode pada sang fotografer.


Beberapa foto kembali diambil, mereka bahkan sempat mengajak Ray untuk berfoto bersama sebelum akhirnya kru weding orgenizer memanggil mereka untuk segera masuk ke tempat acara.


.


Beberapa saat kemudian Arya dan Rina tampak berjalan bersama memasuki ruang pesta pernikahan yang telah mereka persiapkan bersama.


Ruangan berpuasa putih itu tampak begitu indah dan megah. Dekorasi bunga asli yang dipadukan dengan lampu berbagai bentuk, hingga menambah indah suasana.


Rina tak henti melebarkan senyum melihat indahnya pesta yang disiapkan oleh sang suami. Kini semua keinginannya terdahulu terasa sudah terkabul seluruhnya oleh Arya. Kebahagiaannya pun terasa semakin sempurna dengan adanya buah hati yang kini dia kandung.


Para tamu menyambut mereka dengan ucapan selamat, jabatan tangan pun menjadi sarana untuk saling menyapa.


Pesta bertema santai itu memang tidak mengharuskan pengantin untuk terus berada di pelaminan, mereka diperbolehkan berbaur bersama dengan para tamu.


Ya, sekitar sebulan yang lalu Tari sudah sembuh sepenuhnya, wanita itu kini bisa berjalan kembali. Bahkan dia pun kini sedang hamil dengan usia yang mamasuki bulan ke tiga.


Ternyata benar apa kata dokter, jika mereka hanya perlu bersabar dan terus berusaha untuk mendapatkan momongan, itu terbukti jika kini keduanya dikaruniai anak kembar.


"Terima kasih, Tari, Arya. Selamat juga atas kehamilan kamu, Tari. Semoga sehat selalu ampas melahirkan ya," jawab Rina sambil mengelus pelan perut Tari.


"Heem, enggak nyangka ya, kita akan mempunyai anak bersamaan, nanti." Tari terkekeh, karena jarak usia kehamilan mereka memang hanya selisih beberapa minggu saja.


"Iya, ya. Padahal gak direncanakan sama sekali." Rina ikut terkekeh, merasa lucu dengan apa yang terjadi pada mereka kali ini.


Pembicaraan mereka pun terhenti ketika ada tamu yang juga mengucapkan selamat pada Rina dan Arya. Tari dan Anjas pun pamit untuk pergi le sisi yang lain, untuk mengambil makanan.


"Hai pengantin lama, selamat atas pernikahan kalian berdua." Arya dan Rina yang sedang duduk di salah satu kursi menoleh pada asal suara.


Mata keduanya melebar saat melihat Hilman yang sudah lama tidak ada kabar kini berdiri di sana. Arya langsung berdiri kemudian memeluk sahabat masa remajanya itu.


"Apa kabar kamu, Man? Setelah pergi kamu benar-benar menghilang tanpa kabar," ujar Arya sambil menepuk pundak Hilman.

__ADS_1


"Aku sangat baik, menyembuhkan diri dari luka hingga menjadi terbiasa memang membutuhkan waktu, dan akhirnya aku berhasil melakukannya," jawab Hilman dengan senyum merekah di wajahnya.


Arya tampak ikut tersenyum, di dalam hati dia bersyukur bisa melihat Hilman yang kembali seperti dulu. Penuh semangat dan ceria.


"Apa sudah menemukan yang baru? Diajak ke sini gak?" tanya Arya menggoda sahabatnya itu.


"Tidak, sekarang aku sedang ingin fokus untuk pekerjaannku saja. Urusan jodoh biar tuhan saja yang mengaturnya, jika memang sudah saatnya mana mungkin akan terlewatkan, bukan?" ujar Hilman dengan gelak tawa di akhir kalimatnya.


Arya dan Rina tampak saling memandang, mereka berdua kemudian ikut terkekeh pelan, menanggapi ucapan dari Hilman yang ada benarnya juga.


Pesta berlangsung sampai pukul tujuh malam, tetapi ternyata tiga sahabat yang sempat saling berjalan itu kini lupa waktu dan mengobrol bersama di salah satu meja yang ada di sana. Sementara itu Tari dan Rina yang membutuhkan untuk beristirahat di ruangan yang berbeda pun ikut larut dalam perbincangan antara calon ibu muda.


Hingga akhirnya lelah sudah tidak bisa lagi keduanya tahan, dengan langkah lunglai keduanya ke luar untuk mencari suami masing-masing. Hingga mereka melihat empat orang laki-laki yang terlihat masih asik bercanda tawa di pojok ruangan.


"Itu dia mereka," ujar Tari sambil mengajak Rina untuk ikut menghampiri para suami.


"Arya, aku lelah," ujar Rina begitu dia sampai di samping Arya.


"Mas, aku juga lelah," keluh Tari tidak kalah manja.


"Sst, istrimu masih memanggil nama setelah kalian hampir memiliki anak?" celetuk Hilman yang merasa bingung, padahal di luar negeri hal itu sudah terbiasa, tetapi saat dia melihat semua itu di Indonesia rasanya aneh saja.


"Dia mempunyai panggilan spesial untukku, yang tidak bisa didengar oleh orang lain," jawab Arya sambil mengerlingkan matanya pada sang istri.


"Sudahlah, aku pergi dulu, kasihan istriku sudah lelah," sambungnya lagi.


"Aku juga pulang dulu, istriku juga sudah lelah katanya." Anjas ikut berpamitan kemudian dua pasangan suami istri itu pun ke luar dari ruang pesta yang sudah mulai dibersihkan.


Kini tinggal Ray dan Hilman yang menatap kepergian dua pasangan itu kemudian menghela napas kasar bersamaan.


"Nasib, jomlo memang tragis," gumam keduanya sambil meringis.


"Yah, kasian banget sih para jomlo ngenes." Hana yang kebetulan lewat dan melihat wajah memelas Hilman dan Ray pun malah meledek dua laki-laki itu.


"Hei, sesama jomlo jangan saling menghina ya!" Arya dan Hilman berteriak bersamaan, tidak terima telah diejek oleh Heni yang statusnya sama seperti mereka. Masih jomlo.


...TAMAT...


...Alhamdulillah, akhirnya cerita Rina, Arya, Anjas, dan Tari, kita selesaikan sampai di sini ya. Semuanya bahagia dengan versi masing-masing....


...Terima kasih untuk para pembaca setia kisah Istri Selingan, berkat dukungan dari kalian semua aku bisa menyelesaikan cerita ini sampai tamat. Like, komen, hadiah, dan berbagai dukungan lainnya dari kalian yang terus membuat aku bersemangat untuk menulis....


...Jangan lupa mampir juga di karya terbaru aku yang berjudul TERJERAT PESONA ISTRI TETANGGA yang In Sya Allah rilis hari ini....

__ADS_1


...Sampai jumpa di karya aku berikutnya, πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜ Sayang kalian banyak-banyak😍❀️❀️❀️❀️😍...



__ADS_2