Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.28 Kepergian orangtua


__ADS_3

Anjas dan Rina sampai di kampung setelah langit mulai berubah warna menjadi jingga, sepanjang jalan di sekitar rumah Ibu dan Bapak, terlihat sangat banyak orang berkumpul, bahkan ada aparat kepolisian yang berjaga.


Anjas tepaksa menghentikan mobilnya disaat jarak ke rumah Rina masih lima ratus meter lagi, karena terhalang banyaknya kendaraan para pelayat yang menghalangi jalan.


Heni tampak berlari menghampiri mobil Anjas, kemudian membantu Anjas untuk memapah Rina yang sudah tampak lemas, mereka berjalan menembus kerumunan untuk sampai di rumah.


Ucapan bela sungkawa yang terus mengalir seiring dengan semakin dekat langkah Rina menuju rumah. Untaian kata tabah dan sabar terus terdengar walau itu sama sekali tidak menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga akibat kehilangan.


"Menangis boleh. Tapi, jangan sampai air mata kamu menyentuh tubuh orangtuamu, Rin, kasihan mereka," salah satu tetua kampung memberi petuah saat Rina hendak masuk ke rumah.


Itu hanya terdengar samar untuk Rina, walau begitu dia mengangguk, dengan tatapan mengarah ke dalam rumah.


Tangis Rina pecah saat melihat dua tubuh yang kini sudah rapih, terbalut oleh kain kafan, di tengah rumahnya. Tubuh Rina merosot dia bersimpuh di samping jenazah kedua orang tuanya.


"Bapak, Ibu, maafin Rina," lirihnya dengan tangis yang semakin menjadi, rasa sakit kini menjalar memenuhi dada, hingga rasanya sulit untuk bernapas.


Anjas dan Heni duduk di belakang Rina dengan menundukkan kepala, mereka berdua juga tidak bisa menahan air matanya, melihat kesedihan Rina.


"Maafin, Rina yang terlambat untuk datang .... maaf," ulang Rina lagi, dengan suara lirih dan menyayat hati, di sela isak tangis yang masih terdengar memilukan.


Anjas menghampiri Rina, dia memeluk tubuh ringkih istrinya, berusaha memberi kekuatan, walau mungkin itu tidak akan menghapus kesedihan yang kini Rina rasakan.


Setelah sekitar lima belas menit Rina berada di sana, seorang tetua kampung mendatanginya, untuk meminta izin melanjutkan prosesi pemakaman, mengingat sebentar lagi langit akan berubah gelap.


Rina mengusap air matanya yang masih terus menetes, dia mendongak untuk melihat wajah tetua kampung itu, kemudian perlahan menganggukkan kepala.


Jenazah kedua orang tua Rina pun akhirnya dibawa untuk disolatkan di mesjid terdekat, sebelum dimakamkan di pemakaman umum yang berjarak sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki.

__ADS_1


"Kamu yakin akan kuat jika ikut ke pemakaman?" tanya Heni yang sejak tadi setia mendampingi Rina, kini keduanya masih berada di rumah, sedangkan Anjas dan yang lainnya sudah pergi ke mesjid untuk menyolatkan janzah.


"Aku yakin, Hen. Aku ingin mengantarkan Bapak dan Ibu sampai tempat peristirahatan terakhirnya," jawab Rina.


"Baiklah, kalau begitu lebih baik kamu naik motor saja bersamaku, kita akan mengiringinya di belakang," ujar Heni, yang melihat tubuh Rina sudah sangat lemah.


Rina mengangguk, kakinya terasa begitu lemas sekarang, dia tidak mungkin sanggup untuk berjalan sejauh itu.


"Kalau gitu aku ambil motor dulu, kamu tunggu di sini, ya," ujar Heni, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Rina untuk mengambil motornya.


"Kamu ini gimana sih jadi anak, orangtua meninggal malah datang paling terakhir, kasihan sekali orang tuamu, memiliki anak seperti kamu."


Salah satu kerabat dari pihak Bapak langsung menghadik Rina tanpa merasa iba sama sekali atas kesedihan yang sekarang sedang Rina rasakan.


Rina menatap wanita paruh baya yang kini sedang duduk di sampingnya, itu adalah kakak Bapak, dia memang selalu iri pada Bapak karena usaha Bapak yang maju di dalam bidang pertanian, hingga bisa memperluas ladang warisan dari orang tua mereka.


Rina tidak menanggapi, dia memilih diam seolah tidak mendengar ocehan dari wanita paruh baya itu.


Kini datang lagi wanita paruh baya lainnya, itu adalah adik sepupu dari ibunya yang sering meminjam uang untuk modal, akan tetapi, usahanya selalu gagal dan akhirnya Ibu dan Bapa tidak mau lagi meminjam uang, karena tidak pernah dibayar.


Heni datang tepat waktu, dia membantu Rina untuk bangun. Rina melihat kedua paruh baya itu saat sudah berdiri.


"Gak usah sok peduli pada ibu dan bapakku, aku lebih tau apa yang sebenarnya kalian pikirkan sekarang," ujar Rina sebelum berlalu menggunakan motor milik Heni.


"Heh, dasar anak tidak tahu sopan santun, dikasih tau kok malah ngeyel." Wanita paruh baya itu tapak menatap kepergian Rina dengan kesal.


Pemakaman berlangsung dengan cahaya lagit senja yang tampak indah. Suasana makam sore itu sangat ramai oleh orang-orang yang mengantarkan kepergian kedua orang tua Rina.

__ADS_1


Ibu dan Bapak memang terkenal ramah dan banyak mengenal orang, hingga sekarang banyak juga yang mengantarkan kepergiannya.


Rina menaburkan bunga di dua gundukan tanah yang terlihat berdekatan, air mata pun kembali menetes seiring dengan doa yang terucap di dalam hati untuk kedua orang tuanya.


Proses pemakaman sudah selesai, satu per satu orang pun meninggalkan area pemakaman, hingga kini yang terisisa tinggal Rina, Anjas, dan Heni.


Tidak ada kata yang terucap dari bibir yang tampak kering itu, Rina hanya terus terdiam dengan air mata yang mengalir deras. Kejadian ini adalah pukulan paling menyakitkan yang diterima Rina. Kepergian kedua orang tuanya menyisakan beribu luka di dalam hainya, yang entah kapan akan bisa sembuh.


"Ayo kita pulang, Rin, hari sudah mulai gelap," ujar Ajas yang berusaha untuk merangkul istrinya itu.


Namun, Rina terus menepis tangan Anjas, rasa kecewanya pada sang suami kini sudah tidak bisa dia maafkan lagi. Hatinya begitu sakit saat ingatanya kembali pada ketika Anjas menahannya di rumah, alih-alih mengatarkannya pulang secepatnya.


Jika saja pagi tadi Anjas mau mengantarkannya, mungkin setidaknya Rina akan dapat mengurus jenazah kedua orang tuanya lebih dulu, sebelum dimakamkan.


Akan ada banyak waktu mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kalinya, walau mungkin hanya terucap dalam hati.


Anjas menyerah, dia kini menatap Heni, meminta tolong agar membujuk Rina untuk segera pulang. Anjas khawatir pada kesehatan istrinya yang bahkan belum makan sejak tadi siang.


"Rin, jangan begini ya, kasihan Bapak dan Ibu, mereka pasti akan sedih kalau lihat kamu begini." Heni mendekat kemudian memeluk tubuh Rina.


"Kenapa mereka tega meninggalkan aku sendiri di sini? Sekarang aku sendiri, Hen," gumam Rina lirih, sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Heni, dia membalas pelukan sahabatnya itu.


"Kamu tidak sendiri, Rina. Ada suami kamu dan ada aku juga, kita gak akan pernah ninggalin kamu, Rin," ujar Heni sambil melirik pada Anjas.


Rina terdiam, suami yang seperti apa? Anjas bahkan sudah meninggalkannya sejak lama. Heni juga pasti kembali ke suaminya, yang berada di luar pulau.


Lalu, pada siapa lagi kini dia harus mencari sandaran setelah kepergian kedua orang tuanya? Semuanya tampak gelap, tanpa ada satu nama pun yang terlintas, pikiran Rina buntu.

__ADS_1


Sedangkan Anjas tampak tersentak oleh perkataan Heni, dalam hati dia merasa menyesal atas semua kesalahan yang telah dia lakukan untuk Rina. Dirinya begitu egois dan hanya memikirkan perasaannya sendiri, tanpa bisa melihat perasaan Rina yang selalu berusaha bertahan di dalam rumahtangga mereka.


...****************...


__ADS_2