
Rina pulang dengan dijemput oleh Heni dan Bintang sepulang dari resto.
"Terima kasih, Ummi," ujar Rina saat ummi mengantarkannya ke luar rumah.
"Gak usah berterima kasih, Ummi hanya melakukan yang seharusnya Ummi lakukan," jawab Ummi sambil tersenyum lembut. Tangannya pun tampak mengusap pundak Rina pelan.
Rina tersenyum, perlakuan Ummi yang memang lembut sejak awal bertemu, membuat Rina tidak tahu apakah Ummi sudah menerimanya sebagai calon menantu atau masih menolaknya.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Assalamualaikum," ujar Rina kemudian mencium punggung tangan Ummi.
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan ya," jawab Ummi. Wanita paruh baya itu tampak melihat mobil Rina yang perlahan pergi menjauh dari rumah sang anak. Setelah itu ummi segera kembali berjalan ke rumah.
.
Sementara itu Arya tidak langsung pulang ke rumah, dia malah asik termenung di dalam mobil sambil melihat air hujan yang turun di sekitarnya. Kenangan saat masih berada di bangku SMA dengan kehidupan yang sempurna bersama dua sahabat terbaik dan satu adik perempuan yang manja dan lucu.
"Kak Anjas, lihat kak Arya, dia bilang aku pendek lagi," adu Sisi saat dia baru saja datang dari sekolah, di belakangnya tampak Arya yang sedang memarkir motornya.
Saat itu mereka masih berada di kelas 10, sedangkan Sisi kelas delapan. Hari ini Arya yang mendapat giliran menjemput adik kesayangan tiga sahabat itu.
"Memang kamu pendek," jawab Hilman yang saat itu baru saja datang dari arah dalam rumah Arya.
Ya, setelah pulang sekolah, mereka memang lebih suka menghabiskan waktu di rumah Arya, mengingat ummi yang ibu rumah tangga dan suka memasak, jadi di sana selalu ada makanan untuk memuaskan perut yang telah keroncongan.
"Kak Hilman!" sentak Sisi tidak terima.
"Eh, kok ngambek sih." Hilman tampak terkejut dengan Sisi yang merajuk.
"Sudah-sudah, kalian juga sih, seneng banget sih godain adikku," lerai Anjas sambil mengacak pelan rambut adiknya itu. Dia pun mendapatkan senyuman dari Sisi.
Gadis yang masih remaja itu tampak menjulurkan lidahnya pada Arya dan Hilman, seolah sangat bangga kepada Anjas yang tengah membelanya.
"Ish, dasar tukang ngadu," gerutu Arya sambil berdecak pelan yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Sisi.
Saat itu, Arya memang paling sering menggoda Sisi, kadang bahkan sampai gadis itu menangis dibuatnya. Namun, walaupun begitu tidak mengurangi kedekatan di antara keduanya, mereka malah terlihat semakin akrab karena Arya yang sering menggoda Sisi.
Anjas sama sekali tidak menyangka jika beberapa tahun kemudian kedekatan antara Arya dan Sisi malah bisa merenggut nyawa sang adik yang begitu dia sayangi.
.
Hampir tengah malam saat Anjas berjalan masuk ke dalam rumahnya, lampu di rumah bahkan sudah mati hingga hanya terlihat cahaya remang dari lampu hias yang ada di sana.
Anjas berjalan gontai menuju ke dalam, tubuhnya ikut terasa remuk dan sedikit menggigil karena bekas perkelahian sore tadi. Pakaian yang tadinya basah kuyup kini sudah kembali kering seperti semula, oleh panas suhu tubuhnya sendiri.
Pikiran dan suasana hati yang kacau tampaknya memengaruhi laki-laki itu, dia yang awalnya sudah memperbaiki diri dan mulai menjaga penampilannya, kini kembali tampak kusut dan tak bersemangat, akibat kenangan sang adik dan para sahabatnya yang kembali teringat.
Belum lagi maslah Tari yang belum juga pulang, padahal saat ini sudah hampor satu bulan berlalu sejak hari pertama Tari meninggalkan rumahnya bersama dengan Syafira, tetapi belum juga ada tanda kalau wanita itu akan kembali.
__ADS_1
Entah di mana keberadaannya sekarang, Anjas sama sekali tidak tahu. Tari bagaikan hilang ditelan bumi, hingga Anjas tak bisa menemukan petunjuk sama sekali tentang keberadaan istri dan anaknya itu.
Anjas menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga, suasana rumah yang hening dan hampa itu, membuat dirinya selalu jatuh dalam kenangan indah saat masih bersama dengan Tari dan Syafira.
Dadanya terasa sesak, hingga matanya mulai terasa memanas seiring dengan pandangannya yang perlahan menjadi buram, terhalang oleh air yang mulai membendung di pelupuk mata. Dingin kini terasa menyelimuti hati, ketika penyesalan mulai merasuk pada hatinya. Jika memang dia diberi kesempatan untuk memohon, maka dia ingin mengulang waktu agar bisa memperbaiki setiap keputusan yang dulu sempat dia ambil dan kini menjadi sebuah penyesalan mendalam. Keputusan yang membawanya pada berbagai masalah dan penyesalan pada dirinya saat ini.
Namun, itu mungkin hanya angan, ini bukanlah sebuah cerita novel fiksi ataupun film yang bisa kembali pada masa lalu untuk memperbaiki diri, Anjas sadar jika saat ini dirinya berada di dunia nyata yang tidak memiliki kesempatan kedua seperti itu.
"Mas?"
Anjas mengerjapkan matanya saat samar telinganya mendengar suara sang istri memanggilnya. Anjas terdiam sambil menajamkan pendengarannya, mencoba mencari suara itu kembali.
Namun, setelah beberapa saat terdiam Anjas tidak lagi mendengar suara Tari, dia kemudian menggelengkan kepala samar, sambil terkekeh miris.
"Aku bakan berhalusinasi mendengar suara kamu, sayang," lirihnya sambil menghembuskan napas kasar, kemudian dia menutup mata, mencoba acuh. Kepalanya terasa pening dengan napas yang berhembus panas membuatnya meyakini itu hanyalah sebuah ilusi semata.
Sudah sering dia mengalami halusinasi seperti itu, bahkan dia sering mendengar suara tangis Syafira yang kemudian menghilang begitu saja beberapa detik kemudian.
"Ngapain kamu malah tidur di sini, Mas?"
Anjas langsung membuka kembali matanya, dia bergerak bangun hingga duduk tegak di atas sofa saat mendengar kembali suara Tari. Kali ini suaranya terdengar lebih jelas, hingga membuat Anjas merasa yakin kalau itu bukan lagi sebuah halusinasi. Matanya mengedar dengan kerutan halus di keningnya, mencoba memperjelas penglihatan di tengah pencahayaan yang sangat kurang.
Tubuh Anjas menegang ketika matanya melihat seseorang yang kini tampak berdiri di depannya. Perlahan dia menyusuri tubuh orang itu dari kaki hingga akhirnya bisa menatap jelas wajahnya.
Anjas melebarkan matanya saat melihat orang yang kini berada di depannya, dia bahkan tidak yakin jika itu bukanlah sekedar halusianasi saja.
Ya, seseorang itu adalah Tari, istri yang sudah hampir sebulan ini pergi meninggalkannya tanpa kabar.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Tari sambil membawa langkahnya ke depan untuk lebih mendekat pada sang suami. Matanya pun tampak berkaca-kaca dengan suara yang sudah parau, melihat penampilan Anjas yang tampak kacau.
Entah bagaimana selama ini Anjas hidup tampak keberadaannya yang selalu mengurus keperluannya, hingga kini laki-laki itu terlihat jauh berbeda. Tubuhnya sedikit kurus, baju berantakan dengan dua kancing teratas kemejanya sudah copot entah ke mana, dan baju bagian bawah ke luar dari celana.
Anjas tidak menjawab, laki-laki itu langsung berajak berdiri kemudian melangkah lebar menghampiri Tari dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Tetes air mata pun terlihat tumpah tak tertahankan. Anjas tidak bisa lagi berpura-pura kuat, dia lemah tampak istri dan anaknya.
"Kamu kemana saja, sayang? Kenapa kamu tidak menepati jajimu? Kenapa lama sekali?" tanya Anjas dengan isak tangis yang mengiringi pertanyaannya.
Tari ikut meneteskan air mata, dia membalas pelukan Anjas yang terasa begitu hangat. Ini adalah pelukan dan rasa yang selama ini telah hilang. Sekarang dia bisa merasakannya kembali. Suaminya sudah kembali.
"Maaf, ternyata aku membutuhkan waktu lebih untuk berfikir dan memantapkan hati," jawab Tari lirih.
"Aku kangen ... aku kangen banget sama kamu, sayang. Aku hampir gila karena enggak bisa menemukan kamu," keluh Anjas masih tetap memeluk Tari dengan erat. Laki-laki itu seolah takut untuk melepas istrinya lagi.
Tari tersenyum, mendengar perkataan Anjas, perlahan dia mengurai pelukan keduanya, walau Anjas tampak masih enggan.
"Tunggu sebentar lagi, aku masih belum percaya jika sekarang kamu sudah kembali. Aku takut jika ini hanya sebuah ilusi saja." Anjas semakin mengeratkan pelukannya pada Tari, beberapa kali dia sempat mencium leher dan kening Tari, mengendus wangi yang sudah lama dia sangat rindukan.
Untuk beberapa saat sepasang suami istri itu tampak masih terdiam dalam posisi yang sama, hingga akhirnya Anjas melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah sang istri dengan seksama, dia seolah masih belum mempercayai jika seseorang yang kini berada di depannya adalah istrinya.
__ADS_1
"Aku senang kamu sudah kembali, sayang. Ini benar-benar kejutan yang sangat aku nantikan," ujar Anjas, sambil kembali duduk di atas sofa dengan Tari di sampingnya.
"Heem, aku juga senang bisa kembali ke sini, Mas," angguk Tari dengan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi terasa canggung.
"Tunggu, tubuh kamu panas, Mas? Kamu sakit?" tanya Tari begitu dia merasakan ada yang berbeda dari tubuh suaminya.
Anjas tersenyum kemudian menggeleng pelan. "Aku gak apa-apa."
"Di mana Syafira, aku juga sangat merindukan anak itu?" tanya Anjas sambil melihat ke arah lantai dua rumahnya, dia berharap Tari juga membawa Syafira pulang.
"Syafira sudah tidur, Mas. Dia menanyakan kamu sejak sampai ke sini," jawab Tari tang membuat Anjas tersenyum.
"Tapi, sekarang lebih baik kamu istirahat dulu, badan kamu panas banget," sambung Tari lagi yang langsung dijawab oleh gelengan kepala Anjas.
"Boleh aku melihatnya, aku benar-benar sangat merindukan anak itu?" tanya Anjas dengan sorot mata penuh harap.
Awalnya Tari menolak, dia khawatir dmegan kesehatan Anja. Namun, laki-laki itu juga berkeras untuk melihat anaknya lebih dulu agar hatinya menjadi tenang. Hingga akhirnya Tari tersenyum kemudian mengangguk.
"Ayo kita lihat bersama," ujarnya dengan wajah sumringah.
Tari kembali mengangguk, kemudian berjalan bersama dengan Anjas menuju kamar milik Syafira.
Tari membuka pintu kamar Syafira untuk Anjas, dia bisa melihat begitu bahagianya Anjas bisa bertemu lagi dengan Syafira, padahal selama ini Anjas tidak pernah begitu dekat dengan anak itu, karena Anjas jarang meluangkan waktu untuk keluarga.
"Sayang, Papa kangen banget sama kamu, Nak," ujar Anjas dengan suara yang bergetar, dia tampak mengusap pelan wajah tenang Syafira.
Tari tersenyum melihat sikap Anjas yang tampak lembut dan penuh kasih pada Syafira, dia ikut merasa senang dan terharu dengan perubahan yang Anjas tunjukkan.
"Maafkan Papa, sayang, selama ini Papa sering mengacuhkan kamu dan Mama," sambung Anjas lagi. Dia kemudian beranjak mencium kening Syafira lama. Tari bahkan bisa melihat ada air mata yang jatuh begitu saja hingga menetes pada pipi Syafira.
Semoga kejadian ini bisa membuat kamu menjadi seseorang yang lebih baik lagi, Mas, batin Tari.
Beberapa saat berlalu, Anjas dan Tari tampak ke luar bersama-sama dari kamar Syafira. Tari langsung menyuruhnya untuk menggantk baju lalu beristirahat, dia khawatir suhu tubuh Anjas akan sukit turun.
Namun, ternyata laki-laki itu bersikeras untuk menyelesaikan masalahnya dulu denagn Tari, dia tidak mau beristirahat sebelum meminta maaf dan mendengar kepitusan dari istrinya itu.
Kini mereka terlihat duduk di sofa yang ada di lantai dua, tepat di depan kamar keduanya dan kamar Syafira.
"Maafkan kesalahanku, Tari, aku menyesali semua itu dan aku berjanji tidak akan pernah terulang kembali. Kepergianmu membuatku banyak berfikir dan merenung, hingga aku mendapatkan banyak kesalahanku di masa lalu, entah itu padamu dan Syafira atau pada Rina dan Bintang," ujar Anjas sambil menundukkan kepalanya penuh di depan Tari, dia benar-benar menyesali semua yang telah terjadi.
Tari tampak terdiam beberapa saat sebelum dia menjawab permohonan Anjas padanya.
"Tolong pertemukan aku dulu dengan Rina, Mas," ujar Tari tiba-tiba, hingga membuat Anjas mengangkat kepala dan menatap wajah sang istri dengan raut terkejutnya.
"Kamu ingin bertemu dengan Rina?" tanya Anjas lagi.
Tari mengangguk yakin sebagai jawaban.
__ADS_1
...****************...