Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.57 Panti asuhan


__ADS_3

Menjelang makan siang, mobil yang Arya kendarai sudah mulai mamasuki kota di mana keluarganya tinggal, dia kemudian mengajak Rina dan Bintang mampir dulu ke salah satu super market, untuk membeli oleh-oleh bagi para anak yatim di panti.


"Bukannya acaranya setelah dzuhur, nanti kalau kita terlambat bagaimana?" tanya Rina, masih dengan hati yang tidak tenang.


"Kita akan langsung bertemu di panti, jadi gak mungkin terlambat," jawab Arya sambil menghentikan mobilya di parkiran super market.


"Lagi pula, kasihan Bintang kalau kita gak makan siang dulu, takutnya nanti acaranya lama," sambung Arya lagi, sambil membuka sabuk pengaman di tubuhnya kemudian turun dari mobil lebih dulu.


Rina menjawab dengan hanya menganggukkan kepala. Karena terlalu gugup dia sampai lupa jika ini sudah hampir waktu makan siang. Wanita itu pun mengikuti Arya untuk turun dari mobil.


Mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan bersama-sama, membeli berbagai oleh-oleh untuk anak panti dan menyempatkan makan siang serta beribadah dulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit lagi.


Benar saja, lima belas menit kemudian Arya kembali menghentikan mobilnya di halaman sebuah panti asuhan yang cukup besar. Di depannya terdapat papan nama yang bertuliskan Pelita Harapan.


"Ini panti asuhannya?" tanya Rina, ini adalah panti asuhan yang Arya dirikan beberapa tahun lalu.


Di depan mereka ada sebuah bangunan bertingkat yang masih terlihat kokoh dan juga luas, tidak lupa dengan halaman yang luas, dan banyak tempat bermain anak-anak. Sepertinya Arya memang tidak main main saat mendirikan panti asuhan ini.


Arya mengangguk sambil mengedarkan pandangannya melihat sekitar di mana banyak anak yang sedang asik bermain bersama.


"Wah, besar banget panti asuhannya, Pah. Di sini juga pasti banyak teman-teman ya, Pah?" tanya polos Bintang dengan senyum cerianya, tampaknya anak laki-laki itu senang karena akan bertemu banyak teman baru.


"Tentu saja, nanti jagoan Papa, main sama teman-teman di sini ya," jawab Arya yang langsung mendapat anggukkan dari Bintang.


"Ayo ke luar, sebentar lagi ummi dan abi pasti datang," ujar Arya saat melihat sudah ada satu mobil dengan bak tertutup yang datang.


Selain di panti asuhan milik Arya, biasanya mereka juga akan berkeliling ke beberapa panti asuhan yang lain untuk berbagi kebahagiaan di sana.


Arya ke luar lebih dulu, yang langsung disambut oleh para anak-anak panti yang melihatnya, rupanya kedatangan Arya sudah sangat ditunggu oleh mereka.


Rina tersenyum melihat betapa sabar Arya dalam menghadapi anak-anak panti, itu membuat hati Rina semakin yakin telah memilih Arya sebagai kekasihnya.


"Ayo ke luar, aku kenalkan kamu dan Bintang pada anak-anak asuhku," ujar Arya, setelah membuka pintu mobil untuk Rina.


Rina pun ke luar dari mobil bersamaan dengan Bintang yang langsung digendong oleh Arya.

__ADS_1


"Nah, anak-anak, kenalkan ini adalah Bintang -- anak Bapak, dan ini Ibu Rina -- teman dekat Bapak dan juga ibu dari Bintang," ujar Arya memperenalkan Bintang dan Rina pada anak asuhnya.


Arya memang terbiasa dipanggil Bapak jika di panti, berbeda dengan panggilan Bintang padanya yang biasa adalah Papa.


Anak-anak panti pun tampak menyambut Rina dan Bintang dengan bahagia, bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk Bintang bisa bermain bersama dengan mereka, hingga kini hanya tinggal Rina dan Arya yang sedang berjalan menyusuri panti untuk menemui pengurus di sana.


Ibu Haryati, seorang wanita berumur sekitar lima puluh tahunan yang sudah lama ditinggalkan meninggal oleh suaminya dan tidak memilik buah hati, adalah kepala panti milik Arya.


Sosok wanita yang sangat sabar dan mau memperjuangkan hak para anak yatim. Sikapnya memang tegas, walau sebenarnya dia begitu lembut dan penyayang terhadap anak-anak.


Arya bertemu dengan Bu Haryati saat dia baru saja meresmikan panti asuhan itu. Saat itu, Bu Haryati adalah seorang guru ngaji di salah satu musala yang juga mengajar anak-anak jalanan di hari-hari tertentu.


Setelah cukup lama berbincang, kini Rina dan Arya tengah berjalan menuju ke depan kembali untuk menunggu kedatangan keluarga Arya.


"Sepertinya kamu cukup terkenal ya di sini?" tanya Rina, saat dia melihat sejak tadi Arya terus menerima sapaan hangat dari pengurus panti atau para anak-anak lainnya.


Tidak hanya itu, bahkan para relawan yang dengan suka rela membantu di panti pun tampak ikut senang saat melihat kedatangan kekasihnya itu.


Ah, Rina merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya, ketika Arya terus mendapatkan senyum hangat dari mereka yang kebanyakan adalah perempuan muda.


"Tidak, siapa bilang?" bantah Rina sambil memalingkan wajahnya yang terasa panas seperti sedang terbakar.


"Tapi aku melihat kalau kamu sedang cemburu," goda Arya lagi sambil terus melanjutkan langkahnya beriringan dengan Rina. Dia terkekeh saat melihat wajah Rina yang tersipu malu hingga tampak bersemu merah.


"Sudah diam, ih. Aku gak cemburu." Rina masih tetap pada pendiriannya.


"Tapi, kalau aku memang cemburu juga tidak apa-apa dong. Aku kan kekasihmu," sambung Rina lagi sambil menatap Arya dengan wajah tegasnya.


Arya tersenyum mendengar pengakuan Rina, hatinya berbunga hanya dengan sedikit kata yang Rina ucapkan untuknya.


"Tentu. Aku sangat senang, kalau kamu memang cemburu padaku," jawab Arya dengan binar bahagia.


Keduanya kini berdiri di teras panti saat dua mobil tampak mulai memasuki halaman panti asuhan.


"Itu, mereka sudah datang, ayo kita ke sana," ujar Arya sambil menggandeng tangan Rina untuk berjalan bersamanya.

__ADS_1


"Sebentar sebentar," Rina menahan langkah Arya, hingga laki-laki itu kembali menoleh melihat wajahnya.


"Gak usah takut, mereka gak akan gigit kok," ujar Arya sambil terekeh ringan, dia hanya ingin menghilangkan rasa gugup Rina.


"Ish, aku tau mereka gak akan gigit, tapi tetap saja ini sangat menegangkan untukku," gerutu Rina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Selama ada aku di sisimu, aku janji tidak akan terjadi apa-apa padamu dan Bintang," ujar Arya meyakinkan.


Rina menghirup napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba meredam rasa gugup di hatinya sebelum melanjutkan langkahnya, mengikuti Arya.


"Assalamualaikum, ummi, abi," sapa Arya ketika kedua orang tuanya ke luar dari dalam mobil.


"Selamat hari jadi pernikahan, abi, ummi," sambungnya lagi, sambil memeluk kedua orang yang telah membesarkannya itu bergantian.


"Semoga abi dan ummi semakin bahagia, langgeng pernikahannya, dan selalu diberikan kesehatan. Juga selalu dilimpahkan rezeki yang berkah--" Arya kembali mengucapkan doa dan harapan bagi kedua orang tuanya.


"Amiin," jawab abi, ummi, juga Rina yang kini berdiri cangggung di belakang Arya.


Setelah selesai dengan urusan tentang hari jadi pernikahan abi dan ummi, kini Arya beralih untuk mengenalkan Rina pada kedua orang tuanya.


Rina maju untuk mengucapkan selamat juga pada kedua orang tua Arya. Tanpa dia duga ummi dan abi menerimanya dengan baik, walau senyum ummi masih tidak terasa tulus untuknya.


"Terima kasih sudah mau hadir di acara keluarga kami, semoga kamu suka berada di sini," ujar ummi setelah dia memeluk Rina.


Rina tersenyum, dia kemudian mengangguk dengan wajah haru, tidak menyangka keluarga Arya akan menerimanya dengan baik.


Arya ikut tersenyum, sejak awal dia sudah percaya dengan keluarganya. Abi dan ummi tidak akan memperlihatkan kebencian pada Rina walau nyatanya mereka masih belum memberikan restu, dan itu memang terbukti sekarang.


Ray tampak menyusul ke luar dari mobil, kemudian berkumpul dengan mereka bersama.


"Selamat ulang tahun Ray --" Arya beralih memeluk sang adik dengan senyum cerianya, doa pun terucap begitu banyak untuk adiknya itu, walau kadang dicampuri dengan sesikit candaan di dalamnya.


Namun, senyum di wajah Arya langsung menghilang begitu dia melihat seorang perempuan berjilbab yang kini terlihat turun dari mobil yang sama dengan Ray, lalu berjalan ke arah mereka dengan senyum malu-malu terlihat di wajahnya. Dengan gerakan cepat Arya melihat pada abi, ummi, dan Ray bergantian. Keningnya pun tampak berkerut dalam, seolah keberatan atas kehadiran perempuan itu dalam acara ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2