
Menjelang sore hari Arya menghentikan mobilnya di pelataran rumah sederhana milik Rina. Arya yang melihat Bintang tertidur di kursi belakang, dia ke luar lebih dulu lalu membuka pintu untuk Rina, kemudian menggendong bocah kecil itu.
Rina menuju rumah lebih dulu, dia mebuka pintu kemudian membiarkan Arya masuk untuk mengantarkan Bintang ke kamarnya, diikuti oleh dirinya sendiri di belakngnya.
"Terima kasih," ujar Rina setelah Arya membaringkan Bintang di tempat tidur.
Arya tersenyum, dia kemudian berbalik menatap wanita yang kini baru saja menerima pernyataan cintanya.
"Aku senang melakukan itu, kamu dan Bintang adalah kebahagiaanku, Rin. Jadi jangan berterima kasih untuk kebahagiaanku sendiri," jawab Arya, sambil melirik Bintang yang sudah tertidur pulas. Sepertinya anak itu terlalu lelah bermain air, hingga akhirnya tertidur di mobil.
Keduanya kini berjalan ke luar dari kamar milik Bintang, setelah memastikan kalau anak itu tertidur dengan nyaman.
"Maaf soal yang tadi, Umi hanya sedang kesal padaku," ujar Arya, sambil berjalan menuruni tangga.
Sepanjang perjalanan tadi, keduanya hanya menghabiskan waktu dengan keheningan, hingga tidak ada waktu untuk berbicara.
Rina menoleh menatap Arya yang berada di sampingnya. Dia tersenyum tipis kemudian mengangguk samar. Sungguh, kesan pertemuan pertamanya dengan kedua orang tua Arya sama sekali tidak berjalan baik, dan itu membuat sedikit ganjalan di dalam hatinya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," sambung Arya lagi yang seakan mengerti dengan kegelisahan hati Rina. Tangannya pun membelai lembut rabut Rina yang tergerai.
"Sebenarnya Umi baik kok, hanya saja akhir-akhir ini aku memang tidak memiliki waktu untuknya, jadi dia sedikit merajuk." Arya terkekeh kecil dia akhir perkataannya.
Sedangkan Rina langsung menoleh menatap Arya dengan kening berkerut, dia merasa bersalah akan semua itu, karena selama ini dirinya dan Bintang selalu menyita waktu Arya.
"Tidak memiliki waktu untuk orang tuamu, tapi memiliki waktu untukku?" sindir Rina, sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.
"Rumah mereka di luar kota, sayang. Sedangkan kalian ada di sini, jalas saja aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan kalian. Setidaknya untuk bertemu dengan kalian aku tidak harus mengendara lebih dari tiga jam, bukan?" ujar Arya menjelaskan, dengan menyelipkan kata sayang untuk Rina, hingga membuat wanita itu kembali membuang muka, menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Selama ini dirinya memang memiliki rumah sendiri di kota ini, setelah bekerja menjadi dokter di salah satu rumah sakit. Sedangkan kedua orang tuanya tinggal di luar kota, setelah beberapa tahun lalu memutuskan untuk pindah dari kota ini.
Rina menghembuskan napas pelan, dia kemudian menghentikan langkahnya begitu keduanya sudah berada di anak tangga yang terakhir.
"Mau minum apa?" tanya Rina mengalihkan pembicaraan.
"Air putih saja. Aku tidak akan lama," ujar Arya, dia harus pulang secepatnya karena sekarang kedua orang tuanya pasti sudah ada di rumahnya.
Rina mengangguk. "Aku ambil dulu."
__ADS_1
Keduanya pun berpisah, Arya berjalan kembali ke luar rumah, kemudian memilih duduk di bangku yang tersedia di teras, rasanya tidak nyaman jika dia harus berada lama di dalam rumah bersama Rina, sedangkan Heni masih belum pulang dari resto.
Dia tentu tahu, jika tidak boleh dua orang yang bukan mahrom untuk berduka di tempat tertutup. Takut nanti ada setan yang lewat dan merasuki salah satu diantaranya. Apa lagi saat ini status mereka baru saja berubah menjadi sepasang kekasih.
Ah, memikirkan itu, Arya jadi tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian Rina datang dengan membawa segelas air putih untuk Arya, lalu duduk di samping laki-laki itu, dengan batas sebuah meja kecil di tengah keduanya.
"Terima kasih," ujar Arya kemudian mengambil gelas dari tangan Rina dan menenggak air putih di dalamnya hingga habis setengah.
Rina mengangguk samar sebagai jawaban. Keduanya kembali berbincang hal ringan, hingga beberapa saat kemudian Arya pamit untuk pulang.
Rina mengantar Arya sampai ke samping mobilnya, kemudian menatap kepergian laki-laki itu yang terus menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan mata.
.
Belum sampai Rina menutup pintu, tiba-tiba sebuah mobil terlihat berhenti di luar gerbang rumahnya, membuat Rina menghentikan aktivitasnya untuk melihat siapa yang datang.
Namun kemudian dia melebarkan matanya dengan jantung yang bertalu, saat seseorang tampak ke luar dari mobil lalu menoleh kepadanya, hingga pandangan mereka saling bertabrakan untuk sesaat.
Dari mana dia tau rumahku? gumam Rina dalam hati.
"Apa kabar, Rina?"
Suara seseorang yang begitu dia kenal itu, membuat Rina terperanjat. Dia mengerjapkan matanya, saat melihat laki-laki yang kini sudah berdiri tegak di depannya.
"Mau apa, Anda, datang ke rumah saya?" tanya Rina dengan nada waspada. Dia berusaha untuk tetap terlihat tenang, walau sebenarnya tidak sama sekali.
Tidak, bahkan untuk menyebutnya dengan panggilan yang dulu saja sudah tidak mau lagi Rina lakukan.
Anjas ... ya, itulah laki-laki yang kini berdiri di depan Rina, orang yang sudah membuat Rina merasakan rasa sakit akibat sebuah kegagalan rumah tangga, dan mengalami trauma hingga saat ini.
Kini, disaat dirinya sudah mulai mau melangkah menuju hubungan yang baru, mengapa laki-laki itu malah datang lagi ke dalam kehidupannya.
Anjas tersenyum miris saat mendengar pertanyaan dari Rina. Tidak ada lagi nada lembut dan manja yang selalu terdengar dari mulut wanita di depannya itu.
Kini, pertanyaan Rina, terdengar bagaikan dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Belum lagi dengan tatapan yang terlihat sangat mewaspadainya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, ini mengenai Bintang," ujar Anjas dengan seringai di bibirnya.
Deg!
Rina mengepalkan tangannya, saat rangkaian kata itu terucap dari bibir Anjas, kilasan masa lalu di mana dia berusaha mendapatkan pengakuan dari Anjas atas kehadiran anak yang dikandungnya mulai berputar di ingatan.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, terlebih itu soal Bintang. Lebih baik sekarang, Anda, pergi saja dari rumah saya," usir Rina langsung.
"Tidak, sebelum aku menemukan jawaban!" tegas Anjas kemudian memilih duduk di kursi yang ada di sana.
Rina menatap sinis laki-laki yang kini tampak duduk santai tanpa menghiraukan dirinya.
"Baiklah, tunggu saja di sana sampai yang, Anda, bisa!" Rina hendak berjalan ke dalam rumah saat tiba-tiba Anjas mencegahnya dengan sebuah kalimat yang membuat jantungnya semakin berdetak tak menentu.
"Bintang itu anakku, jadi aku berhak membicarakan tentangnya denganmu!" Anjas berbicara lantang, hingga membuat Rina menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke rumah.
Rina mengepakan tangannya dengan decakan kecil dari bibirnya, rasanya itu terdengar lucu di telinganya.
"Heh! Siapa yang bilang kalau Bintang adalah anak Anda?" tanya Rina sarkas, dia berbalik kemudian menatap Anjas dengan sorot mata tajamnya.
"Aku, dan kenyataan itu tidak akan bisa kamu tutupi selamanya, Rina!" jawab Anjas yakin.
"Bintang anakku!" sentak Rina langsung, dia seakan tidak rela ketika Anjas mengatakan kalau Bintang adalah anaknya.
Rina kemudian berjalan mendekat dan duduk di samping Anjas.
"Cih!" Anjas berdecih, dia kemudian menaruh berkas di atas meja. Senyum mengejek itu terlihat jelas mengarah pada Rina. "Aku memiliki bukti!"
Rina menatap berkas yang ada di sampingnya, dirinya kini tahu kalau Anjas tidak datang dengan tangan kosong.
"Itu adalah bukti tes DNA antara aku dan Bintang, yang membuktikan kalau Bintang adalah anak kandungku!" sambung Anjas lagi.
Rina tersenyum miring, dia menatap berkas yang kini tergeletak begitu saja di atas meja, tidak ada niat sedikit pun untuknya membuka, karena tanpa itu semua Rina bahkan sudah tahu kalau Bintang memang anak bioligis Anjas.
Kenyataan itu memang tidak bisa dia bantah. Akan tetapi, tidak dengan ayah secara sikis dan kasih sayang. Selama ini Anjas sama sekali tidak pernah ada untuk Bintang, bahkan mengakuinya pun tidak.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanyanya dengan nada sinis.
__ADS_1
...****************...