Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.86 Tamu tak diundang


__ADS_3

Rina mengernyitkan keningnya saat dia berhasil memarkirkan mobilnya di depan toko kuenya, entah mengapa resto miliknya kini terlihat jauh lebih ramai dari biasanya. Dia bahkan sulit untuk mendapatkan tempat parkir hingga terpaksa parkir di toko kue.


"Ada apa ini?" gumamnya sambil membuka sabuk pengaman, kemudian menoleh pada Bintang yang juga terlihat bingung.


"Mungkin ada artis yang sedang makan, Mah. Bukannya sekarang artis pada bikin video makan begitu?" tebak Bintang dengan polosnya.


Anak berumur enam tahun itu sering melihat video para artis yang sedang memberi review berbagai makanan di tempatnya langsung ataupun di rumahnya.


"Masa sih?" tanya Rina, walau mungkin saja yang dibicarakan Bintang memang benar terjadi.


Keduanya tampak keluar dari mobil, mereka berjalan bersama menuju Resto yang terlihat begitu ramai. Namun langkah Rina terhenti sesaat ketika ujung matanya melihat sosok yang begitu familiar.


"Ada apa, Mah?" tanya Bintang seraya mendongak melihat sang ibu. Dia kemudian mengikuti arah pandangan Rina, hingga melihat dua orang paruh baya yang sedang menikmati makannya dan menjadi bahan pembicaraan para pengunjung restoran.


"Siapa mereka, Mah? Kayaknya bukan artis deh," tanya Bintang dengan wajah menelisik hingga membuat keningnya berkerut.


Rina mengalihkan pandangannya dari dua orang paruh baya yang tengah duduk di salah satu meja pada Bintang. Kedua orang tua Anjas, ya merekalah yang ada di sana.


"Mereka?" Rina kembali menatap kedua paruh baya itu.


Deg!


Jantung Rina sempat tiba-tiba berdetak lebih cepat saat pandangan matanya bertabrakan dengan mata tajam laki-laki paruh baya yang merupakan ayah dari Anjas itu.


Ada apa ini? Kenapa mereka ada di sini? Dan, kenapa tatapannya begitu? mungkin itulah yang saat ini Rina pikirkan.


Segera Rina memutus tautan mata mereka.


"Enggak tau, ayo kita ke atas saja, kamu harus ganti baju dulu." Rina kemudian menggandeng tangan Bintang untuk kembali berjalan menuju ke lantai dua Resto tempat ruangannya berada.


Namun, baru beberapa saat mereka berada di sana, seorang karyawan tiba-tiba datang dan memberitahu Rina jika salah satu pelanggan ada yang ingin bertemu dengan Rina, dan sayangnya pelanggan itu juga sudah berada di luar ruangan Rina.


"Baiklah, suruh masuk saja, dan tolong ajak Bintang ke toko," ujar Rina sambil menatap Bintang yang baru saja selesai mengganti baju.


Jantungnya kini terasa berdetak tak menentu, hingga ujung jarinya terasa dingin begitu juga dengan telapak tangan yang lembab oleh keringat.


Perlahan Rina menutup mata sambil menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya, seolah sedang membangun kekuatan dan keyakinan baru di dalam dirinya. Entah apa yang akan laki-laki paru baya itu lakukan padanya, hingga tiba-tiba ingin bertemu.


Rina berdiri sambil tersenyum ramah saat melihat ayah Anjas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Selamat siang, Bapak Gunawan," sapa Rina dengan ramah, sepertinya dia cukup berhasil menutupi rasa gugupnya dengan senyum manis yang terlihat.


"Selamat siang, Rina. Apa aku mengganggu waktu kamu?" jawab ayah Anjas dengan senyum tipisnya, laki-laki paruh baya itu pun tampak mengulurkan tanganya untuk bersalaman dengan Rina.


"Ah, tidak sama sekali, Pak. Sialahkan duduk." Rina tersenyum sambil menyambut uluran tangan ayah Anjas, dia kemudian mempersilahkannya untuk duduk di kursi yang tersedia di depannya.


"Terima kasih," jawab ayah Anjas sambil kemudian mendaratkan bokongnya di kursi, yang langsung diikuti oleh Rina.


"Apa kamu sakit? Tanganmu terasa dingin," sambung ayah Anjas lagi sambil tersenyum, walau terlihat seperti mengejek.


"Tidak, saya hanya merasa gugup karena Bapak tiba-tiba ingin bertemu dengan saya," ujar Rina salah tingkah, walau di dalam hati dia juga berdecak kesal saat melihat senyum remeh laki-laki paruh baya itu.


Ayah Anjas tampak tersenyum saat mendengar perkataan Rina. Dia sudah biasa melihat orang yang gugup untuk bertemu dengannya, atau bahkan dengan malu-malu meminta berfoto bersama.


"Tenang saja, saya masih manusia biasa." Ayah Anjas terkekeh ringan untuk menanggapi perkataan dari Rina.


Rina mengangguk pelan, sambil tersenyum samar.


Begitulah Ayah Anjas membangun citranya di hadapan publik. Seorang tokoh masyarakat yang ramah, baik, dan dermawan. Kini sepertinya Rina pun masih mempercayai semua itu, tanpa tahu jika sebentar lagi dia akan menghadapi sikap asli dari laki-laki bermuka dua di depannya itu.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Rina, mencoba mengalihkan pembahasan.


"Ah, itu ...." Ayah Anjas tampak menghentikan perkataannya sambil mengedarkan pandangannya melihat isi ruangan itu hingga kemudian kembali pada Rina.


Rina mengernyitkan kening sambil sedikit memundurkan tubuhnya, merasa bingung dengan laki-laki paruh baya itu.


Lalu, untuk apa dia ingin menemuiku jika tidak ada keperluan? Bukannya dia adalah orang sibuk? Lagi pula aku lihat dia tadi makan dengan istriya. Batin Rina bergumam penuh tanya.


"Ah, maafkan aku, kamu pasti bingung ya?" Ayah Anjas kembali menengakkan tubuhnya hingga duduk tegak.


Rina terekeh canggung sambil sedikit mneundukkan kepala, saat melihat sorot mata berbeda dari laki-laki di depannya. Entah mengapa, dia merasa sorot mata itu terasa berbeda dari sebelumnya.


"Sebenarnya aku memang tidak memiliki kepentingan dengamu, aku ke mari hanya ingin menemui cucuku, tapi sayang sekali kamu malah menyuruhnya pergi," ujarnya dengan nada santai.


Deg!


Rina kembali merasa tersentak oleh perkataan ayah Anjas, hingga rasanya dia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa gugupnya.


Apa Anjas sudah memberitahu tentang Bintang pada ayahnya? Tapi, kenapa? batin Rina kembali menambah pertanyaan di sana.

__ADS_1


"Maaf, maksudnya?" Rina tampak bertanya dengan suara sedikit goyah.


"Oh, apa mungkin Tari dan Syafira juga ada di sini? Tapi, saya tidak pernah mengusir mereka, Pak," kilah Rina dengan suara yang berusaha dia buat setenang mungkin.


"Tidak, aku hanya datang bersama istriku yang sekarang pasti sedang menungguku kembali dengan membawa cucu laki-lakinya."


Jantung Rina berdebar semakin cepat saat mendengar kata cucu laki-laki. Selama ini yang dia tahu Anjas tidak memiliki saudara dan keponakan. Lalu, apa maksud dari kata cucu laki-laki itu?


"Oh, ternyata Bapak juga mempunyai cucu laki-laki? Maaf, saya tidak tahu," ujar Rina masih mencoba menyangkal pemikirannya yang mengatakan jika yang sedang mereka bicarakan saat ini adalah Bintang.


"Sebenarnya kamu sangat tau, kamu juga sangat mengenal cucu laki-laki aku," ujar ayah Anjas masih mempertahankan senyumnya.


Rina mengernyitkan keningnya sambil tersenyum canggung. "Maaf, saya tidak mengerti apa yang Bapak maksud."


"Sudahlah, Rina. Kamu tidak usah terus berpura-pura bodoh seperti ini. Padahal kamu sendiri tahu siapa yang sedang aku bicarakan. Jadi sebaiknya kamu suruh karyawanmu itu membawa kembali cucu laki-lakiku ke mari dan perkenalkan aku sebagai kakeknya." Ayah Anjas yang sudah tidak sabar dengan Rina yang terus tidak mau jujur lebih dulu akhirnya mulai mengatakan apa maksud sebenarnya.


Rina melebarkan matanya, tanpa sadar kedua tangan yang berada di pangkuan pun mengepal kuat, menahan rasa sesak di dalam dada saat kenyataan jika ayah Anjas menemuinya hanya untuk Bintang.


Rina marah, dia mengira kalau Anjas telah memberitahu tentang Bintang kepada keluarganya, tanpa membicarakannya lebih dulu.


Padahal, sebelumnya mereka sudah sepakat untuk melupakan masa lalu, dan tidak akan mengungkapkan masa lalu mereka pada siapa pun, termasuk Bintang. Setidaknya sampai Bintang bisa mengerti apa yang terjadi ada Rina dan Anjas.


"Maaf, Pak, tapi saya benar-benar tidak mengerti. Siapa sebenarnya yang Bapak sebut sebagai cucu?" Rina tempak menengakkan tubuhnya, seolah sedang menunjukan jika dirinya bukanlah wanita yang mudah untuk ditindas.


Namun walau begitu, Rina masih menahan suaraya, hingga nada bicaranya masih sopan dan lebih rendah dibandingkan ayah Anjas. Setidaknya Rina masih melihat jika laki-laki paruh baya di sampingnya itu adalah ayahnya Anjas dan kakek dari Bintang. Walau dia juga tidak tahu entah kapan dirinya akan siap untuk mengungkapkan semua itu pada sang anak.


"Ck! Kamu masih belum mengerti juga? Atau kamu sedang berpura-pura bodoh, hem?" Ayah Ajas tampak berdecak, laki-laki itu sudah mulai kesal dengan Rina yang terus mengelak.


"Aku sedang membicarakan anak kamu, Bintang. Sampai kapan kamu mau menyembunyikannya dari kami, heh?" tanya Ayah Ajas sambil menatap Rina dengan remeh.


Genggaman tangan Rina semakin erat, dia tidak menyangka jika pigur wakil rakyat satu ini ternyata tak sebaik yang dia pikirkan.


"Bawa cucuku kemari, aku ingin bertemu dengannya. Lagi pula ... Sepertinya akan lebih baik kalau dia tinggal bersamaku," sambung ayah Anjas sambil kembali mengedarkan pandangannya melihat ruangan kerja Rina.


Seharusnya aku sudah tahu dari awal jika dia hanya sedang bermain peran padaku, batin Rina menggeram marah.


"Heh! Cucu?" Rina menatap sinis wajah laki-laki paruh baya di depannya, tampaknya wanita itu sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Mama."

__ADS_1


...**************...



__ADS_2