
Jika ada yang bertanya kabarnya saat ini, Rina mungkin akan menjawab bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya, tetapi luka di dalam hatinya lebih terasa sangat menyakitkan dan menyiksa daripada luka yang terlihat oleh kasat mata.
Rina bergerak gelisah dengan selimut menutupi bagian tubuhnya, dia kemudian beranjak duduk di ujung ranjang, lalu menekuk kaki dan memeluk lututnya bersama air mata yang berderai.
Tidak ada malam yang bisa dia lewatkan dengan tertidur lelap, semenjak dirinya ke tersadar beberala hati lalu, hampir setiap jarum jam berputar melewati angka, dia akan terbangun bersama hati yang gelisah.
Terpisah dari Bintang bukanlah hal yang mudah untuknya, mengingat dia selalu tidur di samping anak itu ketika banyak pikiran seperti ini. Hanya menghirup wangi tubuh anak itu saja sudah membuat Rina merasakan ketenangan walau hanya sementara, setidaknya dia bisa tertidur nyenyak jika bersama Bintang.
Keberadaan Arya yang juga masih belum diketahui membuat Rina semakin bertambah gelisah, berulang kali di berusaha menghubungi keluarga suaminya, tetapi selalu tidak tersambung hingga membuatnya hampir putus asa.
Keterbatasan fisik yang masih sering terasa pusing saat berjalan lama membuat Rina tidak bisa ke luar dari rumah, ditambah dia juga tahu kalau anak buah ayah Anjas sesekali masih sering mendatangi rumahnya untuk memastikan kalau di berada di rumah.
Semua itu tentu membuatnya yakin jika saat ini dirinya masih berada di dalam pengawasan mantan mertuanya itu. Entah apa lagi yang ingin orang tua itu dapatkan darinya, hingga dia terus menerima tekanan seperti ini.
Suara bel yang terdengar samar mengalihkan perhatian Rina, dia menoleh ke arah jam weker yang berada di atas nakas, memastikan kalau waktu belum berganti pagi.
"Baru jam tiga. Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?" gumam Rina setelah dia mendengar kembali suara bel untuk yang ketiga kalinya.
Rina mengusap air mata yang membasahi pipi kemudian menurunkan kedua kakinya dan beranjak berdiri, dia mulai melangkahkan kaki dengan kening yang tampak berkerut dalam begitu suara bel itu kembali terdengar.
Ke luar dari kamar, dia mendapati Heni yang juga baru saja ke luar dari kamarnya. Keduanya tampak saling tatap dengan kening yang sama-sama berkerut.
__ADS_1
Heni menghembuskan napas kasar saat melihat mata Rina yang terlihat sembap. Heni sudah cukup tahu jika pasti Rina kembali terbangun di tengah malam hanya untuk menangis di dalam kegelapan.
"Siapa ya, kok dateng malam-malam begini? Enggak tau aturan banget," gerutu Heni sambil menghampiri Rina. Wanita itu tidak mau menanyakan sebab mata Rina yang sembap dan merah, karena itu tidak akan membuat sahabatnya itu senantiasa bercerita padanya.
"Enggak tau ... kita lihat saja, yuk," jawab Rina sambil mengambil tangan Heni agar keduanya bergandengan seraya berjalan bersama.
Ada rasa takut dan khawatir di hati keduanya mengingat ini adalah pertama kalinya ada yang datang di malam menjelang pagi seperti ini, apa lagi mereka hanya tinggal berdua saja, tanpa ada penjaga.
Padahal Arya pernah menyarankan Rina untuk mempekerjakan seorang satpam atau penjaga gerbang, walau itu hanya malam hari. Namun, Rina langsung menolaknya karena merasa lingkungan yang dia tinggali sudah aman.
Kini Rina menyesali keputusannya. Jika saja dirinya menyetujui saran Arya dulu, sekarang dirinya tidak mungkin berjalan mengendap-endap di tengah lampu rumah yang dibiarkan gelap, kemudian mengintip di balik tirai jendela, memastikan jika itu adalah orang yang keduanya kenal.
"Siapa dia?" tanya Heni, saat melihat seseorang yang menggunakan hoodie tempak sedang berdiri di luar gerbang dengan mobil yang terparkir di belakangnya.
Heni mengernyit saat Rina tidak juga bersuara, dia kemudian menoleh dan mendapati Rina masih menatap penuh selidik orang di luar sana. Wanita itu bahkan sampai memicingkan mata agar penglihatannya lebih jelas. Hingga matanya melebar saat dia bisa mengenali orang di luar sana ketika orang itu tidak sengaja melihat ke arahnya.
Walau hanya beberapa detik, tetapi Rina sudah bisa mengenali dan yakin jika itu adalah orang yang dia tunggu. Bergegas dia berlari menuju pintu utama kemudian membukanya.
"Rin," panggil Heni pelan. Dia melongo saat melihat Rina yang berlari tunggang langgang ke depan, seolah tengah mendapatkan sesuatu yang sangat dia nantikan.
Alih-alih menyusul Rina, dia malah kembali menyibak tirai dan melihat dari balik jendela kaca.
__ADS_1
Sementara itu Rina membuka kunci gerbang kemudian membukanya perlahan, napasnya tidak beraturan dengan dada yang terlihat naik turun. Matanya kembali memanas saat mendapati seseorang yang ada di depannya adalah Arya.
Kepala Rina sedikit mendongak untuk menjangkau wajah laki-laki yang sempat tidak ada kabar selama beberapa hari ini, genangan air di pelupuk akhirnya tumpah membasahi pipi begitu suara yang begitu dia rindukan akhirnya menyapa telinganya.
"Assalamualaikaum, sayang," ujar Arya sambil tersenyum tipis. Khas sekali saat laki-laki itu tengah menggodanya.
Rina menghambur memeluk suaminya, dengan air mata berderai. Isak tangis pun terdengar begitu pilu. Sementara Arya menahan tubuhnya yang hampir saja terjerembap karena terdorong oleh Rina. Laki-laki itu menutup mata menahan tangan yang terasa ngilu karena terhimpit tubuh sang istri dan tubuhnya.
Namun, semua itu terasa menghilang begitu saja ketika mendengar isak tangis yang diiringi dengan perkataan bernada manja dari sang istri. Itu pertama kalinya dia mendengar Rina mengeluh dan mengucapkan rindu padanya, walau itu pun tidak secara langsung.
"Kamu ke mana aja sih, Arya? Kenapa enggak hubungin aku? Kamu jahat banget sih." Rina mengeluarkan keluh kesahnya di tengah isak tangis yang masih terdengar.
Arya tersenyum dia membalas pelukan Rina dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih tertahan karena cedera yang masih butuh perawatan.
"Maaf," lirih Arya sambil terus mengusap punggung sang istri. Laki-laki itu menaruh dagunya di atas pundak Rina, hidungnya mencium aroma manis yang menguat dari wanita kesayangannya itu.
Perlahan Arya mengurai pelukan Rina dia menatap wajah tanpa riasan sang istri yang terlihat masih sedikit pucat. Sementara itu mobil temannya Arya melaju begitu saja meninggalkan mereka, setelah memastikan Rina ke luar.
"Ayo masuk dulu, di sini dingin." Heni yang baru ke luar dari rumah akhirnya menghampiri kemudian mengambil koper milik Arya.
"Iya, ayo masuk dulu, kita bicara di dalam." Rina mengangguk sambil mengambil tangan Arya dan menggandengnya sambil berjalan beriringan.
__ADS_1
Ada rasa lega yang tercipta ketika dia meliaht Arya telah kebali, tetapi sebisa menahan perasaannya, agar Arya tidak menyadari kegelisahanya.