Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Sakit 2


__ADS_3

Sudah 2 hari Feli di Rumah sakit, Fatwa sekalipun tak pernah pulang. Bahkan baju ganti pun ia di bawakan oleh Bu Halim.


Selama itu juga, Paman dan Bibi Feli tidak pernah pulang ke Rumah nya.


"Kak, makan dulu" ucap Fatwa dengan membawa makanan.


"Dek, Kakak ingin pulang, kalau terlalu lama disini bagaimana kita akan membayar nya. Sedangkan uang Kakak kan buat kamu nanti sekolah" ucap Feli dengan menatap Fatwa


"Tidak perlu khawatir, Nak. Semua biaya kamu para tetangga sudah membayarkannya, yang penting kamu sekarang sehat terlebih dulu" ucap Bu Halim dengan lembut.


"Maafkan aku, Bu. Aku merepotkan kalian semua" balas Feli menunduk


"Tidak sama sekali, kamu juga sering membantu kami" ucap Bu Halim tersenyum.


"Sudah, makan saja dulu" ucap Bu Halim kembali.


Feli mengangguk patuh, lalu ia makan di suapi oleh Fatwa.


Keadaan Feli sudah membaik, ia hanya perlu istirahat saja sementara waktu.


Setelah menyuapi sang Kakak, Fatwa kembali mengambil makanan untuk dirinya.


"Kamu belum makan, Dek?" tanya Feli


"Ini baru mau, hehe" jawab Fatwa cengengesan.


"Padahal udah sore, ishh kau tak boleh telat makan" omel Feli dengan kesal.


"Enggak, ini juga udah ke 3 kali nya makan, tanya saja sama Bu Halim" ucap Fatwa santai.


"Tenang saja, Fel. Dia sudah makan sejak tadi" ucap Bu Halim lembut.


"Bu, maafkan Feli jadi merepotkan Ibu. Feli tak enak pada Pak Halim" ucap Feli dengan tak enak.


"Tidak apa kok, Suami Ibu juga tidak marah. Kamu jangan banyak pikiran biar cepet sembuh" balas Bu Halim dengan mengusap lembut kepala Feli.


"Terimakasih banyak ya, Bu. Feli bersyukur masih selalu di kelilingi orang baik seperti Ibu dan para tetangga. Maafkan Feli juga karena tidak bisa membalas nya" ucap Feli dengan berkaca-kaca.


"Kau tau Nak, dulu Ayah dan Ibu mu adalah orang yang sangat baik dan dermawan. Mereka selalu saja membantu kami semua, pernah Ibu dengar sebelum ke-dua Orangtua mu meninggal , mereka akan membangun sebuah Rumah sakit di Desa kita dan dana nya dari Teman Bapak mu. Tetapi setelah mereka meninggal semua dana itu mengalir ke Paman mu dan kita tidak tahu apa lagi yang terjadi selanjutnya" cerita Bu Halim dengan serius.


"Kok aku baru tahu ya, Bu. Pantesan Paman ngotot ingin aku ikut bersama nya" balas Feli dengan bingung.


"Sudahlah mungkin orang tersebut tidak jadi memberikan dana nya pada Desa kita" ucap Bu Halim.


Sedangkan Fatwa ia hanya mendengarkan saja sambil makan dengan santai nya.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu kamar terbuka dan munculah Sonia , Bu Rt serta Dokter Adnan.


"Bagaimana kondisi mu sekarang, Fel?" tanya Dokter Adnan.


"Sudah lebih baik, Dok" jawab Feli tersenyum.


"Saya periksa dulu ya, jika sudah membaik besok pagi juga sudah boleh pulang" ucap Dokter Adnan


Lalu Dokter Adnan memeriksa Feli dengan teliti, ia tidak mau sampai ada yang terlewatkan.


Sonia dan Dokter Adnan sudah menganggap Feli sebagai Putri nya, karena umur Feli tidak terlalu jauh dengan Rizik.


"Semua nya sudah membaik dan besok sudah boleh pulang" ucap Dokter Adnan tersenyum.


"Benarkah? Aku sudah rindu bekerja" balas Feli dengan senang.


"Kau akan di liburkan selama 1 minggu" ucap Bu Rt dengan cepat.


"Loh kok lama, Bu. Aku sudah sehat kok" balas Feli dengan cepat.


"Mending libur apa mending di pecat?" tanya Bu Rt


"Libur saja deh, Bu" jawab Feli menunduk.


"Ohh iya, Paman dan Bibi apakah tidak pernah kesini?" tanya Feli dengan pelan.


"Mana mungkin mereka kesini, kalau butuh uang baru mereka kesini" ceplos Sonia dengan kesal.


Fatwa hanya tersenyum kecut , ia bahkan tidak habis pikir dengan kedua Orangtua nya. Mereka terlampau sangat egois.


"Maafkan Mbak, Mbak hanya refleks saja karena merasa kesal" ucap Sonia tak enak.


"Tidak apa, Mbak. Memang begitu kenyataannya, mereka hanya akan mencari kita jika butuh uang" balas Fatwa tersenyum lembut.


"Kak, jangan pikirkan mereka, sekarang pikirkan kesehatan Kakak saja" ucap Fatwa lembut.


Feli tersenyum hangat, ia merasa beruntung memiliki Fatwa di hidupnya. Walau usia Fatwa masih terbilang remaja tetapi ia sudah sangat dewasa.


"Kapan kamu mulai sekolah, Nak?" tanya Bu Rt mengalihkan topik


"Minggu depan, Bu. Kalau buat latihan beladiri aku ngambil libur dulu sampai 1 minggu" jawab Fatwa sopan.


"Kenapa ngambil libur, Dek?" tanya Feli

__ADS_1


"Kan di sekolah akan diadakan pengenalan dulu terus yang lainnya, jadi aku akan pulang sore terus" jawab Fatwa


"Ohh yaudah tapi nanti di lanjutin lagi ya. Biar kamu punya bekal nanti saat ada yang mau jahatin kamu, tapi jangan di pakai sombong" nasihat Feli dengan lembut.


"Benar apa kata Kakak-mu , jangan tunjukan kelebihan kita pada oranglain" timpal Bu Rt dengan mengusap lembut kepala Fatwa.


"Dan 1 minggu itu juga Kakak jangan dulu pulang sebelum aku pulang sekolah" ucap Fatwa tegas.


"Loh kenapa gitu, Dek?" tanya Feli bingung.


"Aku gak mau terjadi sesuatu lagi sama Kakak" jawab Fatwa tenang.


Bu Halim , Sonia dan Bu Rt tersenyum melihat Fatwa yang begitu menyayangi Feli.


"Yang dikatakan Fatwa benar, Fel. Kamu bisa menunggu Fatwa di Rumah Ibu" timpal Bu Halim.


"Nah benar , mau di Rumah Ibu juga gapapa yang penting jangan di Rumah Paman mu" ucap Bu Rt.


"Terimakasih, kalian sungguh sangat baik. Walaupun Feli tidak bisa membalas nya, biar yang kuasa membalas kebaikan kalian" ucap Feli dengan tulus.


"Aminnn" balas Mereka semua.


"Dan jika kalian butuh sesuatu dari Kota jangan sungkan, bilang saja sama Mbak. Soalnya besok Mbak akan pulang ke Jakarta dengan Suami Mbak" ucap Sonia tersenyum.


"Loh kok pulang, Mbak?" tanya Bu Halim.


"Sudah habis masa kerja Suami saya nya, Bu. Soal-nya di Desa kita juga sudah ada Dokter lainnya" jawab Sonia sopan.


"Saya titip mereka ya, Bu. Soal nya saya sudah anggap mereka seperti Adik dan Anak saya sendiri" ucap Sonia lagi dengan sedih.


Sonia merasa sangat berat meninggalkan Feli dan Fatwa. Entah kenapa pikirannya tidak bisa tenang.


"Tenang Mbak, aku akan selalu memantau mereka" balas Bu Halim yakin.


"Yaampun aku terharuuuuuuu" ceplos Fatwa dengan tertawa ngakak.


"Aihhh kau merusak suasana saja, Dek" balas Feli tertawa renyah.


Mereka tertawa dengan bahagia, seperti tidak ada beban sama sekali. Lama mereka bercerita tak terasa waktu sudah malam.


Bu Halim, Bu Rt dan Sonia akan pulang. Sedangkan Fatwa akan menunggu sang Kakak di Rumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2