
Semakin siang, semakin banyak tamu undangan yang hadir. Bahkan beberapa kolega bisnis Denis pun ada yang hadir.
Teman-teman Fatwa, bahkan guru nya pun pada datang ke acara pernikahan itu.
"Sayang, duduk dulu dan makan dulu ya" ucap Denis lembut.
"Iya Bunda, lihat ini sangat enak" timpal Arya yang sedang memakan bakso.
Denis menatap Feli dengan memelas, ia sudah sejak tadi membujuk agar Feli mau makan.
"Iya Mas, tapi berdua dengan kamu ya" ucap Feli tersenyum.
Denis mengangguk setuju dan pergi mengambil makanan untuk sang istri. Perlakuan Denis yang sangat manis dan lembut itu hanya di tunjukan pada istri dan putra nya saja.
"Bunda aaaa" ucap Arya menyodorkan satu pentol bakso pada mulut Feli.
Feli menerima dengan sangat antusias, ia mengusap lembut kepala Arya.
"Enak, Nak" ucap Feli tersenyum.
"Kan kata Abang juga enak, Bun" balas Arya terekekeh.
Tak lama kemudian Denis datang membawa sepiring makanan yang menggunung.
"Aku akan menyuapi kalian berdua, oke" ucap Denis tersenyum lembut.
"Siap Ayah" balas Arya dan Feli bersama.
Dengan penuh perhatian dan telaten Denis menyuapi anak dan istri nya. Tak lupa juga ia menyuapi diri nya sendiri.
"Setelah ini aku mau sama, Nenek" ucap Arya menunjuk ke arah Bunda Sonia.
"Jangam buat Nenek repot" ucap Feli lembut.
"Oke Bunda" balas Arya.
Arya memang sangat dekat Budhe dan Bunda Sonia, jika hari weekend tiba Arya selalu mengajak Bunda nya untuk berkunjung ke Rumah, Nenek.
Setelah merasa kenyang, Arya langsung saja berlari ke arah Bunda Sonia dan yang lainnya.
"Mas" panggil Feli.
"Kenapa?" tanya Denis mengeryit.
"Apa aku boleh kuliah kembali?" tanya Feli waswas.
"Boleh, tapi jika kamu sedang mengandung kamu akan cuti kuliah" jawab Denis tenang.
__ADS_1
"Kan tinggal 2 bulan lagi, Mas" rengek Feli yang sudah ingin menyelesaikan study nya.
Denis menghembuskan nafas kasar, lalu ia menganggukan kepala nya.
"Terimakasih, sayang" ucap Feli dengan bahagia.
Lalu Feli dan Denis kembali menikmati acara tersebut dengan tenang.
Denis membawa Feli ke arah kerumunan Keluarga nya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Paman Akbar pada Feli.
Denis langsung menatap Feli dan ia baru menyadari bahwa sang istri terlihat agak pucat.
"Kamu sakit, sayang?" tanya Denis khawatir.
"Aku tidak apa, Mas. Aku hanya ingin makan yang seger" jawab Feli tersenyum.
Lalu Arya menyerahkan ice cream di tangannya pada sang, Bunda.
"Biar Bunda tidak lelah" ucap Arya polos.
Feli mengangguk tersenyum, lalu ia sesekali menyuapi Arya ice cream.
**
Feli masih saja menyambut para tamu, wajah nya sudah terlihat sangat pucat.
"Ya Allah, pusing sekali" gumma Feli.
Lalu ia memilih mendekati Denis yang sedang berbincang dengan Ayah dari Amora.
"Mas" lirih Feli.
Hingga akhir nya ia tak sadarkan diri di pelukan Denis, Denis sangat panik saat melihat istri nya yang tak sadarkan diri.
"Sayang hei" ucap Denis menepuk pelan pipi Feli.
Arya langsung berlari ke arah Denis yang sedang memeluk Bunda nya.
"Bundaaaa" teriak Arya dengan panik.
Semua mata tertuju pada Denis yang sedang menggendong istri nya.
"Raka, tolong siapkan mobil" teriak Denis panik.
Bunda dan Ayah Rizik langsung menghampiri Denis. Mereka sangat khawatir pada keadaan Feli.
__ADS_1
Sedangkan Tari dan Monica langsung saja membawa Arya keluar dari Aula.
Fatwa awalnya ingin menyusul sang Kakak, tapi ia di tahan Rehan dan Pak Akbar.
"Sebentar lagi selesai, kita selesaikan dulu disini, Fat" ucap Rehan
Celin mengelus punggung suami nya dengan lembut, ia juga sama khawatir nya dengan sang suami.
"Benar kata Bapak dan Rehan, Bang. Kita selesaikan dulu" timpal Celin.
Fatwa dan Celin memasang wajah biasa saja sebisa mungkin, meski tangan mereka yang saling menguatkan.
🍄
Raka melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan sepi jadi mereka bisa segera sampai.
Di belakang mereka mobil Azri yang membawa Arya dan Budhe ikut berhenti di pelataran rumah sakit.
Rizik yang sudah lebih dulu memberitahu pihak Rumah sakit dan disana Dokter Mia dan perawat lainnya sudah menunggu.
"Baringkan disini, Tuan Muda" ucap Dokter Mia.
Denis langsung membaringkan tubuh Feli dan ikut mendorong nya masuk ke dalam ruang tindakan.
Di belakang nya, Raka menggendong Arya yang sudah banjir air mata.
"Om, Bunda Feli gak papa kan?" tanya Arya terisak.
"Bunda tidak apa-apa, Tuan. Jangan menangis lagi ya" bujuk Raka dengan lembut.
Arya memeluk leher Raka dengan terisak, ia sangat khawatir melihat mata Bunda nya yang tertutup rapat.
Denis meraih tubuh anak nya dan memeluknya dengan hangat.
"Tenang saja, Boy. Bunda kita tidak akan kenapa-napa" ucap Denis lembut.
Arya mengangguk dengan air mata yang masih tersisa di sudut mata nya.
Disana hanya ada Denis, Raka , Azri , Tari dan Monica. Sedangkan yang lainnya akan menyusul nanti setelah acara selesai.
.
.
.
.
__ADS_1