Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Rumah Sakit


__ADS_3

Hari ini Denis menyerahkan semua pekerjaan nya pada sang Asisten. Ia hari ini akan menemani Feli untuk berobat.


"Sudah siap?" tanya Denis pada Feli.


"Sudah, Mas. Maaf ya jadi repotin gini" jawab Feli sendu.


Denis menghampiri Feli dan menangkup pipi nya dengan lembut.


"Hei dengar sayang, aku dan semua orang disini tidak sama sekali di repotin. Jangan sedih ya, semangat biar sembuh" ucap Denis lembut.


"Terimakasih" balas Feli berkaca-kaca.


Denis mengangguk dan memeluk tubuh Feli dengan hangat. Lalu mereka memutuskan untuk langsung keluar dari kamar.


Di ruang tamu, semua orang sudah menunggu dan tidak ada satupun yang memasang wajah sedih ataupun khawatir.


"Selamat pagi, Bundaaaa" sapa Arya dengan ceria.


"Pagi, wah udah ganteng. Maaf ya Bunda nya gak mandiin" ucap Feli lembut.


"Tidak apa Bunda, aku mandi di bantu sama Om dan Onty" balas Arya dengan tersenyum.


"Ayo kita berangkat" ajak Ayah Adnan.


Feli menatap Ayah Adnan dengan perasaan berkecamuk. Ayah Adnan lalu menghampiri Feli dan memeluk nya sejenak.


"Semua nya akan baik-baik saja, kamu hanya perlu di terapi dan kamu harus punya semangat yang tinggi agar cepat sembuh" ucap Ayah Adnan tersenyum.


"Benar apa kata Ayahmu, disini kami mendukung kamu, Nak. Semangat agar cepat sembuh dan kita akan melakukan jalan-jalan" timpal Bu Maya dengan tertawa kecil.


Feli lalu memeluk Bu Maya dan menganggukan kepala nya.


"Bunda hati-hati ya, jangan sedih dan harus semangat" ucap Arya dengan mengecup seluruh wajah Feli.


Setelah itu mereka langsung saja pergi dengan menggunakan 2 mobil saja. Celi, Arya dan Bu Maya memutuskan untuk menunggu saja di mansion daripada disana nanti ikut sedih.


"Onty, Bunda Arya pasti sembuh kan?" tanya Arya sendu.


"Sembuh sayang, kamu harus semangatin Bunda dan jangan sedih di depan Bunda, oke" jawab Celin memangku Arya


"Oke Onty" balas Arya dengan riang.


Bu Maya hanya tersenyum saja, ia hanya bisa merutuki semua perbuatan Adik Sahabat nya tersebut.


"Bagaimana jika Budhe dan Pakdhe nya tahu, dia pasti akan sangat marah dengan Akbar" ucap Bu Maya lirih.

__ADS_1


"Semalam saja mereka sudah menelpon, Nyonya. Seperti nya mereka merasakan ikatan nya, tetapi Fatwa tidak bilang bahwa Kak Feli sakit" ucap Celin


Terlihat seorang Art yang datang dengan tergesa dan langsung menunduk saat sampai di depan Bu Maya.


"Nyonya, di depan ada tamu. Kata nya Budhe dan Pakdhe nya Nona Feli" ucap Art tersebut.


"Sudah ku duga" ucap Bu Maya pelan.


Sedangkan Celin melotot tak percaya.


"Bagaimana ini, Nyonya?" tanya Celin panik.


Bu Maya menghela nafas kasar lalu menyuruh Art tersebut membawa tamu nya.


"Biarkan saja, aku tahu ini akan terjadi" balas Bu Maya pasrah.


Sedangkan Arya, ia sudah di ajak bermain dengan Bi Surti di ruangan bermain.


Budhe dan Pakdhe Feli langsung saja mendekati Bu Maya.


"May, aku tahu Fatwa menyembunyikan sesuatu kan? Katakan May" ucap Budhe dengan terisak.


"Iya May, sejak kemarin perasaan kami sangat tidak tenang. Kamu sendiri tahu bukan, bahwa kami sangat dekat dengan Feli dan Fatwa" timpal Pakdhe.


"Celin tolong siapkan air minum dan beberapa makanan kecil" ucap Bu Maya.


Celin mengangguk dan langsung pergi ke dapur.


***


Denis dan yang lainnya langsung saja menuju ke ruangan Dokter Ine.


Sepanjang perjalanan ke ruangan Dokter, Denis terus saja menggenggam tangan Feli dengan erat.


Dokter Adnan langsung saja berbicara pada suster yang ada disana, tak lama kemudian mereka langsung masuk.


"Selamat pagi, Tuan muda" sapa Dokter Ine sopan.


"Hmmmm" balas Denis.


Lalu Dokter Adnan menceritakan semua nya tentang Feli, sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan saja.


"Dari semua cerita Dokter Adnan, saya rasa ini tidak akan memakan waktu lama. Apalagi suport dari orang terdekat akan berpengaruh" ucap Dokter Ine.


Lalu Dokter Ine membawa Feli ke ruang pemeriksaan. Sedangkan yang lainnya menunggu dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


"Ayah, Abang. Budhe dan Pakdhe sudah di jalan menuju kemari" ucap Fatwa


"Biarkan saja, kita akan menceritakan semua nya saja" ucap Rizik tenang.


Sedangkan Denis, ia duduk dengan gelisah. Ia takut terjadi sesuatu pada wanita nya.


"Tenanglah, Nak. Feli itu wanita kuat, jadi Om rasa dia akan cepat sembuh dan kita semua akan pergi ke Paris" ucap Dokter Adnan lembut.


Denis mengusap wajah nya kasar dan mengangguk.


"Iyaa Om, aku hanya merasa takut saja" balas Denis lirih.


"Kita harus mensuport nya dengan semangat, kita juga tidak boleh menampilkan wajah apapun selain wajah semangat dan bahagia" ucap Rizik tegas.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan munculah Bu Maya, Budhe , Pakdhe dan Celin. Mereka langsung duduk disana dan menunggu Feli yang sedang di periksa.


Ceklek.


Ruangan pemeriksaan terbuka, munculah Feli dan Dokter Ine.


"Nyonya Besar" sapa Dokter Ine sopan.


Bu Maya menganggukan kepala saja, lalu manik mata nya menatap ke arah Feli yang terlihat sembab.


"Sayang" panggil Denis lembut.


"Aku akan berusaha demi kalian" ucap Feli tersenyum lembut.


"Jangan sedih, kami akan selalu mendukung dan berada di sisi kamu, Nak" ucap Budhe tersenyum.


"Loh Pakdhe , Budhe kapan kemari?" tanya Feli.


"Tadi pagi, Budhe mu merasa rindu katanya padamu, Nak" jawab Pakdhe terkekeh.


Feli tersenyum memeluk sang Budhe. Lalu Dokter Ine menyebutkan kondisi Feli dengan perinci.


Mereka semua hanya mendengarkan saja tanpa menyela maupun membantah.


Setelah selesai, mereka langsung saja pulang dan akan makan siang terlebih dulu di Restoran dekat sana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2