
Semua nya sedang menunggu di depan Ruangan UGD. Bahkan Mbak Sonia juga sudah di perjalanan pulang karena ia mendapatkan kabar tak enak ini.
Sudah hampir 2 jam Dokter di dalam menangani Feli tetapi belum ada tanda-tanda akan keluar. Budhe sudah terduduk lemas dengan memeluk tubuh Fatwa.
"Budhe, kenapa lama sekali" ucap Fatwa dengan lirih.
"Sabarlah , kita berdoa semoga Kakak tidak apa-apa" balas Budhe.
Terlihat dari arah luar Mbak Sonia dan Dokter Adnan datang dengan wajah yang khawatir.
"Fatwa, bagaimana keadaan Kakak kamu?" tanya Mbak Sonia cepat.
Fatwa hanya menggelengkan kepala dan menunduk. Lalu Dokter Adnan dengan cepat masuk ke Ruangan UGD.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Budhe?" tanya Mbak Sonia sendu.
"Aku juga tidak tahu, Son. Saat itu aku , Fatwa dan Halim sedang ke sekolah Fatwa mengurus ke pindahannya, karena aku berniat akan membawa mereka ke Kota Y. Tetapi saat pulang aku sudah menemukan Feli bersimpuh di lantai dengan banyak luka di sekujur tubuh nya, bahkan luka itu mengeluarkan darah" cerita Budhe dengan menahan tangis.
Mbak Sonia langsung terduduk, ia tidak menyangka nasib Feli akan jadi seperti ini.
Ceklek.
Dokter Adnan keluar dengan wajah panik nya.
"Mah, telpon Rizik sekarang juga dan suruh dia untuk menyiapkan tempat untuk Feli, karena Feli harus segera di bawa ke Jakarta, keadaannya semakin kritis" ucap Dokter Adnan cepat.
"Apaaaa" kaget Budhe dan Fatwa.
Dengan gerakan cepat Mbak Sonia sudah menghubungi Rizik yang kebetulan sedang tugas di Rumah sakit.
Lalu tak lama kemudian Dokter Adnan membawa ranjang pasien berisi Feli. Di sekujur tubuh nya banyak sekali alat medis.
"Budhe dan Fatwa ikut ke Ambulance saja, dan Pak Halim serta istri Bapak ikut ke mobil Istri saya saja. Ibu dan Ayah tunggu saja disini ya" ucap Dokter Adnan dengan tegas.
Mereka hanya mengangguk saja. Dengan cepat Feli di masukan ke mobil Ambulance di ikuti oleh Budhe dan Fatwa. Sedangkan Dokter Adnan duduk di depan dengan sang sopir.
Setelah semua siap , mereka langsung saja berangkat dengan kecepatan agak tinggi.
"Kak, Kakak bertahan ya. Kakak pernah janji kan sama aku kalau Kakak akan lihat aku sukses dan aku juga akan bawakan Kakak kebahagian. Aku mohon ja jangan tinggalkan aku, Kak" ucap Fatwa dengan lirih.
"Aku janji , kalau Kakak bangun aku akan semakin giat belajar dan tidak akan meninggalkan Kakak lagi. Ayah , Ibu jangan ambil Kakak dulu, karena aku belum bisa membahagiakannya, aku mohon hiks" ucap nya lagi dengan pilu.
Budhe hanya bisa memeluk Fatwa dengan berderai air mata saja. Ia juga tidak menyangka bahwa nasib Feli seperti ini.
__ADS_1
"Fel, Dokter mohon bertahanlah sayang. Kau wanita tangguh dan kuat, kau pasti bisa melewati nya. Bangunlah Nak, wujudkan cita-cita mu sekarang" batin Dokter Adnan sendu.
Semua orang merasakan sakit yang di alami Feli. Mereka sangat menyayangi Feli, karena dia adalah wanita yang baik, rendah hati serta penolong.
Sedangkan di Rumah sakit NataHospital, Rizik dan Raisa menunggu kedatangan mobil yang membawa Feli.
Bahkan Raisa sudah menangis sejak tadi karena mendengar kondisi Feli.
"Mas, andai saja kemarin kita bawa Feli dengan paksa mungkin keadaannya tidak akan begini" ucap Raisa dengan terisak di pelukan Rizik.
"Sabar sayang, kita berdoa saja semoga Feli tidak apa-apa" balas Rizik mengusap lembut punggung sang Istri.
"Apa Paman Feli sudah di penjara?" tanya Raisa
"Sudah, karena salah seorang warga disana langsung melaporkannya" jawab Rizik lembut.
"Pokoknya aku tidak akan menyuruh dia kembali ke sana lagi, aku akan kuliahkan dia disini, boleh ya?" tanya Raisa dengan menggebu.
"Boleh, dia itu sudah seperti Adik ku juga" jawab Rizik.
Ya memang mereka menganggap Feli adalah Adik nya. Karena umur Rizik 29 tahun dan Raisa 27 tahun sedangkan Feli ia masih 25 tahun.
Raisa terus saja menatap jam di pergelangan tangannya. Ia sudah hampir 1 jam menunggu disana.
"Mungkin sebentar lagi, Ayah pasti membawa nya ke jalan pintas jadi mereka akan segera sampai" balas Rizik
Bahkan mereka sampai menyuruh staf Ruang operasi untuk bersiap. Rumah sakit itu memang bukan milik mereka, tetapi Rizik adalah Direktur Utama nya, karena Denis Natakusuma adalah Sahabat karib Rizik.
Wuing
Wuing
Begitulah terdengar suara mobil Ambulance, Raisa dan Rizik langsung melihat dan memang benar itu adalah rombongan Ayah nya.
Dengan gerakan cepat Rizik memanggil beberapa perawat disana.
"Yaampun Feliiiii" pekik Raisa dengan berlari.
Raisa langsung menghampiri tubuh Feli yang sangat menyedihkan, hanya tersisa wajah nya saja yang terbilang tidak parah.
"Ayah ayo cepat bawa ke Ruang Operasi" teriak Raisa dengan panik.
Rizik dan yang lainnya mendorong berangkar tersebut dengan cepat. Bahkan Raisa sudah berderai air mata melihat keadaan Feli.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang, mereka menunggu dengan hati berdebar.
Raisa tidak ikut masuk karena ia adalah Dokter Kandungan. Ia mendekati Fatwa dan langsung memeluk nya.
"Mbak, Kak Feli" lirih Fatwa dengan terisak.
"Aku gagal Mbak, aku gagal menjaga nya Mbak" ucap nya lagi dengan isak tangis.
"Kak Bahar maafkan aku, aku lalai menjaga amanat mu, maafkan aku Kak, ampuni aku Kak" batin Budhe dengan menunduk.
Sedangkan di dalam Ruang Operasi, Rizik dan Dokter Adnan langsung saja memeriksa keseluruhan dan mulai mengobati luka Feli.
Mereka semua nampak ngeri dengan luka Feli yang sudah sobek sejak tadi. Bahkan perawat yang sedang membersihkan luka nya pun ada yang sampai menangis.
Hampir 3 jam mereka menunggu dengan hati berdebar dan akhirnya Rizik serta sang Ayah keluar juga.
"Abang, bagaimana Kak Feli?" tanya Fatwa cepat
"Hah , Kakak mu sudah melewati masa kritis nya tetapi dia" jawab Rizik dengan menjeda.
"Tapi apa, Nak?" tanya Budhe penasaran.
"Dia Koma, Bu" jawab Rizik dengan memejamkan mata nya.
DEG.
Jantung mereka seperti berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari mulut Rizik.
Fatwa langsung duduk dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata nya.
"Luka yang ada di tubuhnya sangat banyak dan kondisi tubuh Feli sedang tidak sehat. Jadi luka tersebut memicu ke lemahan dalam tubuh Feli. Kita berdo'a saja semoga Feli cepat sadar dan pulih" jelas Dokter Adnan.
Budhe , Fatwa , Mbak Sonia dan Raisa sudah terduduk lemah di kursi tunggu. Mereka menangis dalam diam.
Sedangkan Bu Halim hanya bisa memeluk tubuh sang suami dan menangis disana.
"Kenapa seperti ini, Nak. Padahal kamu anak baik" lirih Budhe dengan derai air mata.
.
.
.
__ADS_1