
Denis terus saja mondar-mandir di depan ruangan pemeriksaan. Ia sangat khawatir dan cemas, sudah hampir 1 jam lebih tetapi Dokter belum juga menampakan hidung nya.
Terlihat Fatwa dan Rizik berlari ke arah nya. Ia memberitahu ke dua nya karena tak ingin di salahkan karena menyembunyikan masalah Feli.
"Kak" ucap Fatwa dengan terengah-engah.
Denis memeluk Fatwa dan menangis di pelukan Adik dari Feli. Ia sangat khawatir karena melihat keadaan Feli.
Rizik menepuk pundak sahabat sekaligus bos nya tersebut.
"Tenang lah, Kak. Semua nya akan baik-baik saja" ucap Fatwa dengan membalas pelukan Kakak Ipar nya.
Rizik memilih duduk bersama Raka, ia lalu menoleh ke arah Raka. Raka tahu apa yang di pikirkan oleh Rizik, lalu ia menceritakan semua nya dan memberitahukan siapa yang menculik sang Nyonya.
Deg.
Jantung Fatwa berdetak dengan cepat, lalu ia melihat Kakak Ipar nya dengan wajah meminta penjelasan saat Raka menyebutkan siapa pelaku nya.
Denis mengangguk mantap, dan ia juga membenarkan bahwa Ibu Kandung Fatwa dan mantan Istri nya yang membuat Feli sampai begini.
"Dimana Ibu sekarang, Kak?" tanya Fatwa dengan penuh emosi.
"Mereka sudah di bawa sama anak buah Kakak, kamu tenang saja dan jangan bertindak gegabah. Ingat, istri mu sedang hamil" jawab Denis mengelus pundak Adik nya.
Fatwa meraup wajah nya dengan kasar, ia sangat emosi saat tahu bahwa sang Ibu yang membuat malaikat nya tersakiti kembali.
Mereka diam dengan semua pikiran masing-masing. Bahkan Denis terus saja menatap ke arah pintu ruangan tersebut dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
Hingga mereka di kejutkan dengan pintu yang terbuka dan munculah Dokter keluarga Natakusuma.
__ADS_1
"Bagaimana istri dan anak saya, Dok?" tanya Denis dengan cepat.
Dokter tersenyum dan membuka masker yang ia pakai. Lalu ia menghela nafas nya yang lumayan lelah.
"Mereka baik-baik saja, hanya perlu istirahat total untuk menyembuhkan luka-luka nya. Untung saja Nyonya melindungi kandungannya jika tidak, mungkin saja kandungannya akan tidak terselamatkan" jawab Dokter tersebut dengan helaan nafas.
"Tuan tenang saja, Nyonya tidak ada luka serius hanya saja ia merasa lemas dan lelah jadi tubuh nya drop" lanjut Dokter tersebut.
"Boleh saya melihat nya?" tanya Denis.
"Silahkan Tuan, tetapi Nyonya akan di pindahkan terlebih dulu ke ruangan khusus keluarga" jawab Dokter tersenyum.
Denis dan yang lainnya mengangguk dan langsung saja pergi ke ruangan keluarga setelah Dokter berpamitan.
Denis bernafas lega saat mendengar bahwa Istri nya baik-baik saja.
Pintu di buka oleh Denis, lalu mereka masuk dan melihat Feli yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
Wajah yang lebam dan bibir yang sedikit robek, meski sedikit tetap saja membuat mereka menahan sesak di dada nya.
"Sayang" lirih Denis dengan mencium tangan Istri nya yang memejamkan mata nya.
"Maafkan aku, aku sudah gagal menjaga-mu" ucap Denis dengan menenggelamkan kepala nya di samping kepala Feli.
Denis menangis dalam diam, meski ia tahu bahwa Istri nya tidak apa-apa, tetapi tetap saja ia merasa gagal menjaga nya.
Bahu kokoh itu bergetar dengan seiring nya isak tangis itu lolos dari bibir nya.
"Sudahlah, Nis. Feli tidak apa kok, dia akan sedih jika lo begini apalagi sampai menyalahkan diri lo sendiri" ucap Rizik menepuk pundak Denis lembut.
__ADS_1
"Benar kata Abang, Kak. Kak Feli akan merasa sangat sedih melihat Kakak begini" timpal Fatwa dengan lembut.
Denis bangkit dan menyeka air mata nya. Ia menganggukan kepala nya pada sahabat dan Adik nya.
"Aku mohon jangan sampai keluarga tahu, karena aku tidak ingin membuat mereka cemas" ucap Denis.
Mereka mengangguk mengerti dan duduk di sofa yang ada disana. Fatwa menghampiri sang Kakak, ia memegang tangan tak berdaya itu dengan lembut.
"Kak, maafkan aku yang tak bisa menjaga Kakak. Aku merasa malu, karena lagi dan lagi Ibu ku yang membuat mu masuk ke dalam sini. Aku tahu kau kuat, maka bangun dan segera hiburlah Suami-mu, dia sangat kacau melihat Kakak begini" bisik Fatwa dengan lirih.
Fatwa menyeka air mata nya dan mengecup kening sang Kakak dengan lembut, setelah itu ia langsung bergabung dengan Abang dan Kakak ipar nya.
Sedangkan Raka, lelaki itu sedang memgurus perusahaan karena ada sedikit masalah.
"Bagaimana kandungan Istri-mu, Dek?" tanya Rizik.
"Baik, Bang. Mungkin sekitar 3bulan lagi akan lahiran. Beda nya dikit dengan Kak Feli" jawab Fatwa tersenyum.
"Dan bagaimana keadaan Putri cantik mu, Zik?" tanya Denis.
"Hah dia semakin lincah saja kesana kemari dan mengoceh saja, tetapi aku sangat gemas pada nya" jawab Rizik tertawa pelan.
Mereka terkekeh dan tersenyum menceritakan pengalamannya masing-masing. Rizik sengaja mengalihkan pikiran mereka agar tidak sedih dengan kondisi Feli.
.
.
.
__ADS_1