Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Sakit


__ADS_3

Malam hari nya, Bu Halim dan Suami nya panik setengah mati. Mereka sangat panik saat melihat tubuh Feli yang mengggigil tetapi badannya sangat panas.


Wajah Feli sudah sangat pucat, dengan segera Suami Bu Halim menelpon Sonia.


"Halo Mbak, tolong bilang sama Fatwa kami akan membawa Feli ke Puskesmas" ucap Suami Bu Halim


"Kenapa harus di Puskesmas?" tanya Sonia di seberang


"Kayak nya Feli demam, tetapi sangat tinggi saya takut dia kenapa-napa" jawab Pak Halim dengan segera


"Baik, bawa ke Puskesmas dan saya akan menelpon Suami saya agar dia cepat menangani Feli" ucap Sonia dengan langsung mematikan sambungannya


Lalu Pak Halim membawa Feli dengan bantuan dari Tetangga nya, mereka membawa Feli ke Puskesmas karena Rumah sakit lumayan jauh.


"Ayah, Ibu" lirih Feli


"Yaampun Pak, panas nya makin tinggi" khawatir Bu Halim.


"Tenanglah, sebentar lagi kita sampai" ucap Pak Halim


Mereka membawa Feli dengan menggunakan mobil tetangga. Tetangga yang lain juga ada yang ikut ada yang tinggal di Rumah Pak Halim.


Sesampai nya di Puskesmas , Feli langsung di bawa oleh Dokter Adnan ke Ruang tindakan.


Sedangkan yang lainnya hanya bisa menunggu di luar ruangan saja.


"Pasti ini gara-gara bengkak di pipi nya" ucap Bu Halim


"Memangnya kenapa jadi sampai bengkak?" tanya tetangga yang lain.


"Aku tidak tahu pasti, tapi kata Fatwa dia di pukul sama si Akbar" jawab Bu Halim dengan emosi.


"Rasanya dia itu g*la , masa keponakan kandung di pukul. Tak tau malu saja si Akbar itu, udah anak di biayain sama si Feli juga" timpal tetangga yang lainnya.


Sedangkan Fatwa dan Sonia baru saja tiba di depan Puskesmas. Fatwa langsung saja lari masuk ke dalam, ia sangat mengkhawatirkan sang Kakak.


"Bu, ba bagaimana keadaan Kak Feli?" tanya Fatwa dengan nafas ngos-ngosan.


"Masih di periksa sama Dokter Adnan, Nak" jawab Bu Halim.


Sonia datang dengan wajah sama khawatir nya seperti yang lain.


Ceklek

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka dan munculah Dokter Adnan dengan wajah khawatir.


"Fat, Feli harus segera di bawa ke Rumah sakit, kondisi tubuh nya semakin menurun. Seperti nya ini karena bengkak di wajah nya" ucap Dokter Adnan segera.


"Siapkan semua nya, kita bawa dia Mas" balas Sonia


Dokter Adnan dengan secepatnya mengangguk, lalu ia masuk kembali ke dalam ruangan tersebut.


"Mbak, ta tapi biaya nya" ucap Fatwa dengan menunduk.


"Jangan pikirkan biaya, sekarang yang terpenting Kakak mu selamat dan sehat kembali" balas Sonia dengan lembut.


"Benar kata Mbak Sonia, yang terpenting kesembuhan Feli dulu" timpal Bu Halim.


Lalu Dokter Adnan keluar dengan membawa brangkar yang berisi Feli sedang terlelap dengan wajah pucat seperti mayat.


"Ayo , kalian ikuti saja mobil ambulance. Biar saya yang di dalam ambulance, kamu ikut Mbak Sonia saja ya" ucap Dokter Adnan pada Fatwa.


Fatwa hanya patuh saja, lalu ia berjalan dengan yang lainnya sambil mengikuti Dokter Adnan.


Dokter Adnan dan 1 perawat langsung masuk ke dalam Ambulance. Sedangkan Fatwa, ia langsung masuk bersama Bu Halim ke dalam mobil Mbak Sonia.


"Kabari kami semua tentang perkembangannya" ucap Pak Halim


"Iyaa Pak, Ibu pergi dulu" jawab Bu Halim


"Jika terjadi sesuatu pada Kak Feli, aku tidak akan memaafkan kalian meski kalian kedua Orangtua ku sendiri" batin Fatwa dengan penuh kebencian.


Tangan Fatwa mengepal kuat, ia ingin sekali marah dengan Bapak nya, tetapi yang lebih penting sekarang adalah keselamatan sang Kakak.


"Tenanglah, Mbak yakin Kakak kamu adalah wanita yang kuat" ucap Sonia dengan mengelus lembut kepala Fatwa.


"Aku hanya begitu emosi saja, Mbak. Aku merasa gagal menjaga Kak Feli" balas Fatwa dengan sedih.


"Kamu bukan gagal, Nak. Ini semua sudah takdir. Saran Ibu, kamu harus lebih waspada dan juga jangan tinggalkan Kakak kamu disaat kamu tidak ada. Besar kemungkinan Ibu dan Bapak mu pasti akan melakukan hal serupa atau mungkin akan lebih" ucap Bu Halim.


"Aku juga takut seperti itu, Bu" khawatir Fatwa.


"Sekolah yang rajin dan sukseslah. Setelah itu kamu bawa Kakak kamu pergi dari sini, bahagia kan dia" ucap Sonia tegas.


"Itu janji ku, Mbak. Suatu hari nanti aku akan memberikannya kebahagian" balas Fatwa dengan yakin.


"Kasihan kamu, Nak. Seharus nya sekarang masa-masa kamu menikmati remaja, tetapi kamu harus di tuntut dewasa dan menjaga Kakak kamu. Tapi Ibu yakin, kamu pasti bisa" batin Bu Halim dengan sedih.

__ADS_1


Setelah hampir 1 jam berkendara, akhirnya mereka sampai juga di Rumah sakit. Dokter Adnan langsung saja membawa masuk Feli.


"Ya Allah, selamatkan lah Kak Feli. Hanya dia yang hamba punya sekarang" batin Fatwa dengan sedih.


Fatwa , Sonia dan Bu Halim menunggu di luar ruangan. Mereka tampak sangat khawatir dan gelisah.


Fatwa terus saja menghela nafas kasar, manik mata nya tak menatap yang lainnya, ia terus saja menatap pintu ruangan yang masih di tutup.


Berbagai do'a telah ia ucapkan, tetapi hati dan pikirannya masih saja tak tenang memikirkan keadaan sang Kakak.


Setelah 1 jam akhir nya Dokter Adnan keluar dari UGD. Lalu Dokter Adnan mendekati Fatwa yang terlihat sangat panik.


"Tenanglah, Feli tidak apa-apa. Dia hanya demam karena bengkak dari wajah nya dan juga karena kelelahan" ucap Dokter Adnan tersenyum.


"Bener Dok, tidak ada penyakit yang berbahaya kan?" tanya Fatwa dengan serius.


"Tidak ada sama sekali, dia hanya butuh istirahat sampai 3 hari kedepan" jawab Dokter.


Fatwa menghela nafas lega, ia tersenyum lalu memeluk Dokter Adnan.


"Terimakasih, Dok" ucap nya dengan lirih.


"Jangan lemah, kamu harus kuat demi Kakak kamu" ucap Dokter Adnan dengan lembut.


Sedangkan Sonia , ia sedang mengurus Administrasi nya terlebih dulu.


Lalu Fatwa dan Bu Halim mengikuti perawat yang sedang membawa Feli masuk ke ruangan rawat.


"Apa kamu sudah makan, Nak?" tanya Bu Halim.


"Nanti saja Bu, aku tidak lapar" jawab Fatwa


"Jangan seperti itu, pergilah sana makan biar Ibu yang menjaga Kakak kamu" ucap Bu Halim dengan mendudukan bokongnya di sofa kamar rawat.


"Tapi aku


"Kalau kamu sakit nanti Feli akan sedih" ucap Bu Halim memotong ucapan Fatwa.


"Nih uang nya, sekalian beli cemilan buat kita nanti menunggu disini. Jangan terlalu jauh hari sudah larut" ucap nya lagi dengan memberikan uang pada Fatwa.


Fatwa hanya mengangguk patuh, lalu ia melangkahkan kaki nya keluar ruangan sang Kakak.


Sedangkan Feli, ia masih tidur dengan pulas nya. Karena Dokter Adnan memberikan obat agar ia bisa tidur dengan tenang.

__ADS_1


.


.


__ADS_2