Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Akhir Kisah Laura 2


__ADS_3

Mentari sebentar lagi akan terbenam tetapi Feli masih saja duduk di halaman belakang. Ia merasa sangat kesepian, meski ada begitu banyak Art juga.


"Huhhhhhh, Mas Denis kenapa belum pulang juga sih" gerutu Feli dengan kesal.


Lalu Feli bangun dan menghentakan kaki nya karena merasa kesal.


"Nyonya" sapa Mbak sopan.


"Hmmm" balas Feli malas.


Feli langsung saja pergi tanpa berbicara apapun lagi, Mbak dan Bi Surti hanya terkekeh melihat raut wajah Nyonya nya yang sedang kesal.


Mereka langsung saja menyiapkan makan malam untuk keluarga tersebut.


Hingga akhir nya jam makan malam sudah siap tetapi Feli belum juga keluar dari dalam kamar nya.


"Loh dimana Feli?" tanya Denis yang baru saja masuk ke ruang makan.


"Masih di dalam kamar nya, Tuan. Mbak sedang memanggil nya" jawab Bik Surti ramah.


Denis langsung saja berjalan menghampiri ke kamar tersebut. Disana terlihat Mbak sedang mengetuk-ngetuk pintu nya.


"Biar saya saja, Mbak" ucap Denis


"Eh iya Tuan, kalau begitu saya permisi" balas Mbak dengan sopan.


Denis membuka pintu kamar tersebut, ia langsung masuk dan melihat kamar yang gelap.


"Sayang" panggil Denis.


"Kemana dia? Tumben sudah gelap begini" gumam Denis.


Denis langsung saja menghidupkan lampu tersebut dan nampaklah Feli yang sudah terlelap di ranjang.


"Loh tumben-tumbenan sudah tidur" gumam Denis dengan menghampiri Feli.


"Sayang, makan malam dulu" ucap Denis lembut.

__ADS_1


Feli menggeliat dan membuka pelan kelopak mata nya.


Denis langsung tersenyum dan mengusap lembut pipi Feli.


"Makan malam dulu ya" ucap Denis kembali.


"Gak mau, udah kenyang" balas Feli memejamkan kembali mata nya.


"Kata Bibik kamu belum makan, sayang" ucap Denis mengecup pipi chabby Feli.


"Udah kok, makan-nya aku kenyang" balas Feli tanpa membuka mata nya.


"Kayak nya merajuk" batin Denis terkekeh.


Denis langsung saja berjalan ke arah kamar mandi, ia sudah sangat ingin menyegarkan tubuh nya.


Sedangkan Feli, ia semakin memberenggut karena Denis tidak peka sama sekali. Feli memutuskan untuk tidur kembali meski perut nya sedikit lapar.


***


Saat ini Raka, Fatwa dan Akbar sudah berada di ruangan yang mana Laura ada disana.


"Aku tidak ada lagi hak denganmu, Laura. Fatwa yang masih mempunyai hak dengan-mu" balas Akbar datar.


"Nak, kamu akan bebaskan Ibu kan" ucap Laura dengan memohon.


"Setelah Ibu hampir membunuh Kakak ke dua kali-nya?" tanya Fatwa dengan dingin.


"Bukan Ibu, Nak" jawab Laura mengelak.


Fatwa mengepalkan tangannya dengan erat, Ibu nya sangat keterlaluan.


"Bu, apa Ibu tahu bagaimana Kak Feli berjuang untukku? Apa Ibu tahu berapa lama Kak Feli membuang tenaga, waktu dan keringat nya untuk memberikan aku makanan dan biaya?" tanya Fatwa dengan emosi.


Laura hanya diam dan menundukan kepala nya, ia merasa sangat tertampar dengan ucapan Putra nya.


"Ibu tidak bisa menjawab bukan? Karena Ibu tidak akan pernah tahu itu semua" ucap Fatwa dengan memalingkan wajah nya.

__ADS_1


"Ini kesempatan untuk Ibu, agar Ibu bisa memperbaiki diri dan lebih baik lagi. Aku ingin Ibu berubah menjadi pribadi baik" ucap Fatwa kembali.


"Tuan Raka, aku mengizinkan anda untuk mengucilkan Ibu dan aku mohon berikan dia ajaram agar bisa lebih baik lagi" putus Fatwa dengan tegas.


Pak Akbar langsung menepuk pundak sang Putra dengan lembut. Lalu mereka memilih pergi dari sana.


"Fatwaa biarkan Ibu bebas, Nak" teriak Laura histeris.


Tetapi anak buah Denis langsung saja menyuntikan sesuatu ke diri nya dan Laura langsung saja tidak sadarkan diri.


"Boy, lakukan tugas mu kembali" ucap Raka datar.


"Baik, Tuan" balas Boy.


Lalu Raka keluar dan menghampiri Fatwa serta Bapak nya.


"Apa Kak Feli sudah kembali sehat?" tanya Fatwa saat sudah di jalan.


"Sudah Tuan, ia terlihat sangat lebih baik" jawab Raka yang sempat menoleh dan kembali fokus pada jalanan di depan.


"Ahh syukurlah, antarkan kami ke Hotel saja dan besok pagi akan kesana" ucap Fatwa.


"Baik Tuan" balas Raka.


Pak Akbar dan Raka diam dalam hening. Mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing dan menatap ke arah luar jendela.


"*Aku berdo'a agar Ibu bisa lebih baik di tempat itu agar kita bisa bersama dan menggantikan waktu yang terbuang selama ini" batin Fatwa dengan sedih.


"Laura, aku mohon berubah lebih baik lagi. Agar kelak kita bis menjaga Putra, Putri dan Cucu-cucu kita. Meskipun kau bukan lagi Istriku tetapi aku masih mencintai-mu" batin Pak Akbar*.


Hingga lamunan mereka terpecah saat sampai di Hotel. Setelah mengucapkan terimakasih Fatwa dan Pak Akbar langsung saja turun.


Sedangkan Raka, ia langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang saja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2