Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Kebahagian Fatwa


__ADS_3

Sudah 1 Bulan sejak Zia membuat ke ricuhan di Restoran. Dia sama sekali tidak pernah menampakan diri nya di hadapan Denis maupun Feli.


Besok pagi, keluarga Denis akan berkunjung ke Kota S. Feli merengek ingin bertemu dengan sang Adik.


"Mas, usap-usap dong" rengek Feli saat mereka akan tidur.


Denis tersenyum, rutinitas sebelum tidur dia harus mengelus perut buncit istri nya.


"Kenapa?" tanya Feli


"Gak papa, tapi aku merasa kamu semakin sexy saja sayang" jawab Denis dengan tersenyum.


"Bukan tambah gendut?" tanya Feli meneliksik.


"Nama nya juga lagi hamil, sayang. Lihatlah perutmu, pipi, bo*ong apalagi dada mu semakin berisi. Tapi ini sangat bagus dan eumm" jawab Denis dengan mengerlingkan mata nya.


Feli terkekeh dan langsung memeluk sang suami dengan hangat.


Begitupun dengan Denis, ia membalas pelukan istri nya.


"Tidurlah, ini sudah malam" ucap Denis lembut.


Feli mengangguk dan mulai memejamkan mata nya.


**


Berbeda dengan keadaan di Kota S, tepat nya di Rumah Fatwa. Mereka masih melakukan makan malam yang sempat tertunda karena ada Tamu.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Fatwa khawatir melihat wajah pucat sang istri.


"Aku udah dari kemarin pusing, Mas. Mungkin masuk angin" jawab Celin


"Yaudah cepat makannya dan istirahatlah" ucap Pak Akbar.


Celin mengangguk dan memulai kembali makannya, sedangkan Fatwa ia sudah tidak bernafsu lagi karena merasa sangat khawatir pada Celin.


Setelah selesai makan, Celin langsung membereskannya meski sudah di larang tegas oleh Fatwa.


Belum juga Celin sampai ke dapur, ke gaduhan sudah terdengar.


Prang.


Bruk.

__ADS_1


"Celin" teriak Fatwa dengan panik.


Pak Akbar pun langsung menghampiri anak dan menantu nya.


"Sayang hei bangun" ucap Fatwa menepuk pelan pipi Celin.


"Bawa ke kamar Fat, biar Bapak hubungi Dokter" ucap Pak Akbar.


"Iya, Pak" balas Fatwa.


Fatwa langsung saja membawa Celin ke kamar nya, ia sangat panik dan khawatir melihat istri nya yang tak sadarkan diri.


Sesampai nya di kamar, Fatwa merebahkan tubuh Celin dengan hati-hati.


"Sayang, bangunlah jangan buat aku khawatir. Kata nya besok akan berjalan-jalan dengan Kak Feli" lirih Fatwa dengan sendu.


Fatwa terus saja menggenggam tangan Celin, ia sangat takut melihat istri nya yang tak kunjung membuka mata.


Hingga Dokter datang bersama Pak Akbar, Fatwa membiarkan Dokter memeriksa sang istri.


"Bagaimana, Dok?" tanya Fatwa setelah melihat Dokter selesai.


"Bu Celin tidak apa-apa, Pak. Dia hanya kelelahan saja, apalagi kandungannya yang masih muda. Besok bawa Bu Celin cek ke Dokter kandungan saja ya, Pak" jelas sang Dokter.


"Ja jadi istri saya hamil?" tanya Fatwa.


"Iyaa, Pak. Kalau begitu saya permisi, sebentar lagi juga sadar" pamit Dokter.


Fatwa hanya menganggukan kepala saja. Lalu ia mencium seluruh wajah istri nya dengan perasaan yang membuncah bahagia.


"Terimakasih, sayang" ucap Fatwa dengan penuh kebahagian.


Pak Akbar langsung masuk kembali dan melihat sang Putra sedang menangis bahagia.


"Pak, aku akan menjadi Ayah" ucap Fatwa dengan bahagia.


"Iya, Nak. Jaga istri dan calon anak mu ya" balas Pak Akbar tersenyum.


Lalu Pak Akbar pamit untuk membereskan pecahan yang ada di dapur.


"Bangunlah, sayang" ucap Fatwa kembali.


Celin melenguh dan mengerjapkan mata nya dengan perlahan. Fatwa tersenyum saat melihat kelopak mata istri nya terbuka.

__ADS_1


"Ma mas" lirih Celin.


"Iya sayang, mana yang sakit? Mau apa?" tanya Fatwa dengan tak sabar.


"Aku ingin minum" jawab Celin.


Dengan cekatan Fatwa langsung mengambilnya dari nakas dekat tempat tidur nya.


Lalu Fatwa memberikannya pada Celin dengan sangat pelan-pelan.


"Sudah mendingan?" tanya Fatwa sambil membantu Celin duduk bersandar.


"Masih agak pusing" jawab Celin lirih.


"Gak papa, besok kita ke Rumah sakit. Dan kamu harus lebih hati-hati" ucap Fatwa lembut.


"Kenapa, Mas?" tanya Celin bingung.


"Karena disini sedang ada nyawa yang harus kamu jaga" jawab Fatwa mengusap lembut perut Celin.


Celin langsung kaget dan tersenyum bahagia. Lalu ia menatap kembali netra mata sang suami.


"Mas, a aku hamil?" tanya Celin dengan mata berkaca-kaca.


"Iya sayang, kita akan menjadi orangtua" jawab Fatwa dengan memeluk tubuh Celin lembut.


"Alhamdulilah" ucap Celin dengan membalas pelukan suami nya


"Sekarang istirahat ya" ucap Fatwa dengan mengusap lembut pipi istri nya.


"Tapi sama, Mas" balas Celin malu.


"Iya-iya, ayo sini aku peluk" ucap Fatwa dengan tersenyum.


Lalu mereka memutuskan untuk memejamkan mata nya, karena memang sudah malam dan mereka merasa lelah.


Celin terus saja memeluk tubuh suami nya dengan hangat, ia tersenyum karena merasa sangat bahagia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2