
Pagi hari menyapa dengan senyuman cerah sang surya. Matahari sudah menampakan cahaya dengan sangat indah.
Feli, Deni dan yang lainnya sudah siap untuk ke makan kedua orangtua Feli. Bu Halim dan Pak Halim tidak ikut karena mereka membiarkan kedua pasangan itu saja yang pergi.
"Kak, biar Fatwa saja yang bawa mobil nya" ucap Fatwa
"Baiklah" balas Denis.
Lalu mereka semua masuk dan Fatwa melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Makam kedua orangtua Feli tidak jauh dari sana, tetapi mereka memilih naik mobil agar cepat sampai.
"Bunda kita mau kemana?" tanya Arya
"Kita akan ke makam Orangtua nya, Bunda" jawab Feli mengusap lembut pipi Arya.
Arya mengangguk dan menikmati kembali suasana di Desa tersebut.
"Apa disini yang akan di bangun Rumah sakit?" tanya Denis menunjukan lahan yang cukup besar.
"Iyaa, tapi yahh gitu deh. Kamu sendiri juga tau kan" jawab Feli tak enak.
"Nanti sepulang dari makam, kita ke Rumah Pak Rt ya, Fat" ucap Denis.
"Mau apa, Kak?" tanya Fatwa heran.
__ADS_1
"Aku akan membicarakan tentang pembangunan Rs, dan aku ingin Pak Rt yang memegang kendali nya" jawab Denis.
"Benarkah, Mas?" tanya Feli berkaca-kaca.
"Iyaa, sayang. Disini hanya ada Puskesmas dan itu juga tidak lengkap. Jadi aku memutuskan untuk membangun Rs saja" jawab Denis lembut.
"Anda benar, Tuan. Dan kalau anda mau, anda bisa memberi keringanan untuk warga yang tidak mampu" timpal Celin sopan.
"Ya anda benar, nanti kita bahas semua nya dengan Pak Rt" ucap Denis
Mobil berhenti di depan pemakaman umum, Feli dan yang lainnya langsung saja turun.
Arya memilih di gendong oleh sang Ayah. Sedangkan Fatwa dan Celin mengikuti langkah mereka berdua.
Hingga tiba di makam yang bersih terawat meski Feli jauh dari sana. Lalu Feli berjongkok dan mengusap batu nisan tersebut.
"Iyaa sayang, ayo kita sapa mereka" jawab Denis lembut.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu. Feli datang lagi, maaf karena sudah lama Feli tidak menemui kalian. Feli kesini bersama dengan calon Suami dan Anak sambung Feli, restui hubungan kami dan do'akan Feli selalu dalam lindungannya. Sebentar lagi Feli akan menikah dengannya, do'akan supaya kehidupan rumah tangga Feli damai, tentram dan bahagia" batin Feli lirih.
"Halo Nenek dan Kakek, perkenalkan aku Arya. Aku adalah Putra Bunda Feli dan Ayah Denis" celetuk Arya dengan antusias.
Denis tersenyum ke arah Feli, lalu ia menggenggam tangan Feli dengan erat.
Lalu mereka membaca do'a dengan sangat khusyu. Begitupun dengan Arya.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka pergi dari sana.
"Kita langsung ke Rumah Pak Rt?" tanya Fatwa.
"Nanti saja Om, aku ingin makan itu" ucap Arya menunjukan gerobak bakso yang ada di luar pemakaman.
"Kalian mau?" tanya Denis.
Feli mengangguk dengan semangat, sedangkan Fatwa dan Celin ikut mengangguk.
"Ayo kita makan bakso dulu saja" ajak Denis.
"Tapi apa Tuan tidak akan jijik makan di pinggir jalan begini?" tanya Celin takut.
"Tidak, aku juga sama seperti kalian" jawab Denis tersenyum.
Lalu mereka melangkah kan kaki nya ke tukang bakso disana. Feli memesan bakso dengan cepat, sedangkan yang lainnya sudah duduk lesehan di belakang.
"Bang cepetannn dong" ucap Arya dengan tak sabar.
"Tunggu sebentar lagi, Nak" ucap Feli terkekeh.
"Aku sudah merasa ngiler, Bun" balas Arya
Abang pedagang nya lalu menata pesanan bakso di meja di depan mereka.
__ADS_1
Feli dan yang lainnya memulai menyantap bakso tersebut dengan lahap. Rasanya tak kalah enak dengan bakso yang ada di Restoran.
***