Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Insiden.


__ADS_3

Feli, Fatwa , Denis dan Celin langsung saja melakukan makan malam di Restoran yang cukup mewah.


Sedangkan yang lainnya memilih untuk pulang karena tidak ingin mengganggu acara mereka.


Denis sengaja memilih duduk di kursi biasa tanpa harus memesan ruangan VIP.


"Bagaimana persiapan pernikahannya, Mas?" tanya Feli


"Semua nya sudah di handel oleh Mommy, Budhe dan Tante Sonia. Mereka yang akan menyiapkan semua nya, kita hanya tinggal fitting baju saja" jawab Denis lembut.


"Kamu hanya harus fokus pada kesembuhan kamu saja, oke" ucap Denis kembali.


"Iyaa Kak Denis benar, Kak Feli harus fokus agar sembuh secepat nya" timpal Fatwa dengan tersenyum.


Lalu mereka memesan beberapa makanan dan juga minuman, tidak lupa dengan hidangan penutup nya.


"Kapan kamu lulus, Fat?" tanya Denis


"3 bulanan lagi, Kak" jawab Fatwa


Mereka mengobrol membahas acara pernikahan Feli dan Denis. Bahkan Celin ikut serta menyiapkan semua nya.


Hingga pelayan menyajikan pesanan mereka semua. Feli dan yang lainnya langsung saja menyantap makanan tersebut.


Hingga manik mata Celin melihat seorang wanita paruh baya masuk dengan menggandeng tangan pria seumurannya.


Uhuk Uhuk


Fatwa langsung memberikan air pada Celin, setelah itu ia langsung mengusap tengkuk Celin.


"Kamu gak papa?" tanya Fatwa


"Hemmm tidak" jawab Celin dengan masih batuk.


"Ada apa?" tanya Feli.


Celin menatap Denis dan Fatwa bergantian, lalu melihat lagi ke arah wanita tersebut.


"Hei ada apa, sayang?" tanya Fatwa ikut bingung.


"Tidak apa kok, Bang" jawab Celin tersenyum.


Lalu Celin mengetik pesan dan di kirimkan langsung pada Fatwa.


Ting.


Fatwa mengeryit bingung, tetapi membuka juga pesan chat tersebut.


"Aku melihat Ibu mu masuk ke Restoran ini" pesan Celin yang membuat Fatwa hampir tersedak.


Lalu Fatwa mengambil minuman nya dan meminum nya dengan tandas.


"Kenapa sih, Dek?" tanya Feli penasaran.


"Pedas Kak" jawab Fatwa dengan mengelak.

__ADS_1


Tetapi Denis menatap Fatwa dengan penuh pertanyaan, dan Fatwa langsung mengirim pesan pada Denis.


Sedangkan Feli, ia masih tidak menyadari apapun dan hanya fokus pada makanan saja.


Denis membaca pesan dari Fatwa dan langsung melotot tak percaya. Sebelum mereka bertiga pergi, ternyata wanita tersebut sudah berada di hadapannya.


"Selamat Malam, Feli , Fatwa" sapa Bi Laura dengan tersenyum.


Deg.


Tubuh Feli langsung kaku dan langsung menatap siapa yang ada disana. Tetapi Feli langsung mengendalikan diri nya seperti apa kata Dokter Ine.


Fatwa langsung mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Selamat malam, Bik" balas Feli tersenyum.


"Kamu seperti nya sangat bahagia ya, apa kamu tidak merasa bersalah dengan memasukan Paman mu sendiri ke penjara" ucap Bi Laura dengan emosi.


"Apa yang harus Kakak ku sesali, karena memang pantas untuk Bapak dapatkan" ucap Fatwa dengan santai.


Plak.


Bi Laura langsung menampar wajah tampan Fatwa. Sedangkan Fatwa, ia sudah menahan amarah nya dengan mengepalkan tangan.


Hampir semua mata memandang pada mereka, tak terkecuali pria tadi yang bersama Bi Laura.


"Siapa mereka, sayang?" tanya Pria tersebut tak tau mahu.


Fatwa semakin mengeraskan rahang nya, ia tidak menyangka jika Ibu nya melakukan hal tersebut di belakang sang Bapak.


Feli langsung melotot seraya menggelengkan kepala nya. Sedangkan pria tadi sudah tersenyum nakal pada Feli.


"Bawa saja dan aku akan nikahi dia. Dan kamu akan aku bebaskan" ucap Pria tersebut enteng.


"Jangan mimpi kalian akan membawa Kakak ku pergi, br*ngs*k" bentak Fatwa dengan penuh emosi.


Bik Laura sudah ingin meraih tangan Feli tetapi dengan sigap Celin mendorong nya.


Celin lalu berdiri dan menghalangi tubuh Feli yang sudah bergetar. Sedangkan Denis, ia sedang menerima panggilan penting.


Brugh.


Bi Laura terjatuh dengan sangat keras. Hampir semua para tamu restoran menatap mereka dengan wajah yang berbeda.


"Siapa kamu hah, berani sekali kau mendorong wanita ku" bentak pria tersebut.


"Dan siapa kalian yang ingin mengganggu Kakak ku" bentak Fatwa dengan lantang.


Lalu Celin memeluk Feli yang sudah agak tenang tetapi tubuh nya masih bergetar.


Bi Laura langsung saja menyuruh anak buah pria tersebut membawa Feli.


Feli di seret paksa oleh ke dua anak buah Bi Laura tersebut.


"Fat, tolong Kakak" teriak Feli yang sudah terisak.

__ADS_1


Saat Celin akan menolong, dia langsung saja di pegang oleh anak buah Bi Laura.


"Jangan bawa Kak Feli, kalian akan menyesal" teriak Celin dengan keras.


Fatwa langsung menghampiri Feli , tetapi dia langsung di halangi oleh anak buah Bi Laura.


"Ayo cepat kita bawa perempuan itu" ucap pria tersebut dengan penuh senyuman.


"Jangan berani sentuh Kakak ku" teriak Fatwa yang sedang berkelahi dengan anak buah Bi Laura.


Bugh.


"Fatwaaaaaaa" teriak Celin dan Feli menggema disana.


"Jangan so jagoan anak kecil" ucap pria tersebut.


Saat akan memerintahkan anak buah nya, pria tersebut langsung di buat tercengang dengan apa yang ada di hadapannya.


"Berani sekali kau menyakiti calon istriku, Heru" ucap Denis dengan penuh emosi.


Pria yang bernama Heru tersebut langsung di buat pucat pasi oleh kehadiran Denis.


"Ayo bawa dia, kenapa malah berhenti Mas" ucap Bi Laura dengan geram.


Yaps, pria tersebut adalah Heru. Rekan kerja Denis Natakusuma, wajar saja jika Heru akan terlihat pucat, karena ia tahu bagaimana sifat Denis.


"Lepaskan dia atau akan ku bunuh kau" ucap Denis dengan aura dingin.


"Maafkan saya tuan" ucap Heru dengan bersujud di kaki Denis.


Lalu anak buah Denis memukuli habis-habisan anak buah Heru dan Bi Laura.


Feli langsung memeluk Denis dengan menangis tersedu-sedu. Sedangkan Celin, ia membantu Fatwa bangun dan duduk di kursi.


"Pergi kalian, atau aku akan membuat kalian menyesal" ucap Denis.


Heru membawa Bi Laura dan anak buah nya untuk pergi. Bi Laura sempat berontak tetapi Heru langsung saja menyeret nya.


Denis langsung membawa Feli duduk. Ia mengusap lembut punggung Feli.


"Tenanglah semua nya sudah aman" bisik Denis dengan lembut.


Lalu mereka memilih untuk pulang dan Raka membereskan sisa di restoran tersebut.


Denis menyuruh salah satu anak buah nya untuk mengantarkan mereka pulang, karena Fatwa tidak akan mungkin menyetir disaat kondisi nya sedang kesakitan.


Feli terlelap di pelukan Denis, sisa air mata nya bahkan masih ada di pelupuk mata indah Feli.


"Seperti nya Kakak sudah bisa mengendalikan emosi dan trauma nya" ucap Fatwa


"Kau benar Fat, lihatlah dia sudah tidak bergetar ataupun yang lainnya" balas Denis dengan tersenyum.


Lalu mereka memilih diam dengan perasaan masing-masing.


.

__ADS_1


.


__ADS_2