
Saat ini, Feli sedang duduk bersama dengan Paman dan Bibi nya. Ia akan mengutarakan bahwa diri nya ingin Kuliah.
"Ada apa? Cepat katakan" bentak Bi Laura
"Aku i ingin kuliah, Bi" ucap Feli dengan menunduk takut.
"Hehh kalau kamu kuliah, terus bagaimana dengan anakku, hahh" bentak Paman Akbar dengan kasar.
"Kenapa harus nanya ke Kak Feli, seharus nya kalian yang membuayai ku bukan Kak Feli" ucap Fatwa dengan sinis.
"Diam, kau tak perlu ikut campur. Dan untuk mu Feli, aku tidak akan memberikan izin kau untuk kuliah, karena kalau sampai kau kuliah siapa yang akan bekerja" ucap Paman Akbar dengan nada tinggi.
"Aku masih bisa bekerja Paman, walaupun harus di Kota" balas Feli
"Kauuu berani ya" geram Paman Akbar.
"Stop" ucap Fatwa dengan tegas.
"Cukup Pak, Kak Feli berhak bahagia dan menentukan pilihannya sendiri" teriak Fatwa
"Fat, gak boleh gitu" tegur Feli dengan sendu.
"Baiklah, aku tidak akan pernah meminta kuliah lagi" putus Feli dengan tegas.
Lalu Feli pergi ke Rumah Bu Rt untuk bekerja. Sepanjang perjalan ia hanya bisa terisak saja.
Feli langsung masuk dan memulai pekerjaannya dengan tenang. Meski hati dan pikirannya sangat kecewa tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mbak Sonia langsung menghampiri Feli, ia melihat bahwa Feli terlihat seperti sedang menangis.
"Fel" tegur Mbak Sonia
"Ehhh iya Mbak" kaget Feli dengan cepat menghapus air mata nya.
"Kamu kenapa?" tanya Mbak Sonia
"Tidak kenapa-napa, Mbak. Aku pergi ke dapur dulu ya" jawab Feli tersenyum.
Belum sempat Feli beranjak, Mbak Sonia sudah memegang tangan Feli dan tersenyum lembut.
"Aku benar gak apa-apa, Mbak" ucap Feli lembut.
"Baiklah, jika memang tidak mau cerita sama Mbak. Jika kamu berkenan, meminta izinlah pada Bibi mu untuk kerja di Mansion Mbak di Jakarta" ucap Mbak Sonia
"Mbak pasti tau aku tidak bakal di kasih izin, tidak apa aku akan bekerja disini saja" balas Feli sopan.
"Pikirkan baik-baik, kamu disana bisa kuliah" ucap Mbak Sonia kembali.
"Aku akan tetap disini, Mbak. Permisi" balas Feli dengan berlalu pergi.
"Aku ingin sekali, Mbak. Bahkan aku sangat ingin, tetapi tidak mudah pergi dari Bibi" batin Feli lirih.
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti ingin Fel, tetapi kamu tidak berani berbicara nya dengan Paman dan Bibi-mu. Tetapi aku tidak bisa memaksa nya" gumam Mbak Sonia dengan sendu.
Mbak Sonia memutuskan untuk beberes semua barang nya, ia akan pulang ke Jakarta sore ini.
Sedangkan Feli, ia sedang membereskan bekas sarapan pagi tadi. Lalu setelah itu ia bisa langsung menyetrika pakaian.
"Hah aku rindu dengan kalian, Ayah , Ibu" gumam Feli lirih.
Lalu Feli melanjutkan kembali menyetrika pakaian tersebut.
Hingga tak terasa sore pun sudah datang, Feli sedang bersiap untuk pulang dan ikut melepas kepergian Mbak Sonia dan yang lainnya.
Feli hanya menundukan kepala, ia merasa tak enak karena menolak permintaan sang majikan.
"Fel, jika kamu berubah pikiran kamu boleh hubungi Mbak" ucap Mbak Sonia dengan mengusap lembut pucuk kepala Feli.
Feli hanya menjawab dengan anggukan saja. Ia merasa sangat kelu untuk berbicara dengan Mbak Sonia.
"Ha hati-hati Mbak" ucap Feli lirih.
Mbak Sonia tersenyum dan berlalu dari sana. Semua nya sudah berangkat dan meninggalkan keheningan saja disana.
"Bu, saya pamit pulang dulu" ucap Feli sopan.
"Hati-hati" balas Bu Rt dengan ramah.
Feli melangkahkan kaki nya ke jalan. Ia hanya bisa menghela nafas saja sepanjang jalan.
Sesampai nya ia di Rumah, Fatwa sudah menunggu nya dengan senyum yang mengemvang di bibir nya.
"Ayo Kak cepat, Budhe sudah menunggu Kakak" ucap Fatwa senang.
Mata Feli langsung berbinar dengan bahagia, lalu ia melangkahkan kaki nya dengan cepat. Feli sudah merasa sangat rindu dengan sang Budhe.
"Budheeeeee" pekik Feli bahagia.
Sang Budhe memandangnya dengan tersenyum. Lalu ia merentangkan tangan pada Feli.
"Budhe, aku rindu sekali" lirih Feli dengan menahan tangis.
"Budhe juga Rindu" balas Budhe dengan lembut.
Kemudia mereka duduk dan melepaskan pelukannya.
"Kamu darimana? Kata Fatwa kamu kerja?" tanya Budhe dengan menyeliksik.
"Iya Budhe, kalau Kakak tidak kerja nanti Bapak dan Ibu marah" jawab Fatwa polos.
Feli melototkan mata nya dengan tajam , tetapi Fatwa pura-pura tidak melihat saja.
"Apaaaa" kaget Budhe.
__ADS_1
"Feli, Budhe sudah ngasih semua warisan bagian Ayah kamu pada Paman mu. Dan Paman mu bilang kalau kamu sedang kuliah" ucap Budhe masih dengan kaget.
Lalu tanpa di duga, Fatwa langsung saja menceritakan semua nya, Fatwa sudah merasa sangat kasihan dengan sang Kakak.
Budhe langsung melorot tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Fatwa. Bahkan ia sudah menangis terisak dengan pilu.
"Maafkan aku, Mas. Aku sudah menyerahkan anakmu pada Adik yang jahat. Aku kira Akbar akan menjaga nya dengan baik" batin Budhe dengan lirih.
Sedangkan Feli, ia sudah menunduk dengan menggenggam tangan sang Budhe erat.
Setelah Fatwa menceritakan semuanya, sang Budhe menatap Feli dengan penuh kesedihan.
"Maafkan Budhe, Nak" ucap Budhe dengan memeluk Feli.
Feli memeluk tubuh sang Budhe dengan erat, lalu ia menumpahkan semua nya dengan tangisan yang terdengar pilu.
Bahkan Fatwa sudah ikut terisak dengan menundukan kepala.
"Nak, kalian ikut Budhe saja" ucap Budhe dengan tegas.
"Tidak, apalagi Feli, dia harus membayar hutang pada Rentenir" ucap Bi Laura yang baru saja tiba
"Apa-apaan kalian, memangnya siapa yang meminjam pada Rentenir?" tanya Budhe dengan bentakan.
"Kami, karena untuk mengembalikan uang yang sahabat Ayah Feli kirimkan untuk pembangunan Rumah sakit" jawab Paman Akbar.
"Apa, gilaaaa kamu Akbar. Keponakan sendiri kamu jadikan tumbal" teriak Budhe dengan penuh emosi.
"Dan kemana kan uang warisan untuk Feli?" tanya Budhe dengan menyeliksik.
"Sudah aku pakai, itu untuk membayar jasa kami yang merawatnya sejak dulu" jawab Bi Laura dengan enteng.
Plak.
Satu tamparan melayang pada wajah Bi Laura, Budhe sudah sangat geram dengan kelakuan Adik dan juga istri nya.
"Ibu , apa beda hal nya dengan Kak Feli yang sudah mengurusku sampai saat ini? Apakah kalian memikirkan nya?" teriak Fatwa dengan menahan emosi.
"Dek gak boleh gitu" tegur Feli menggelengkan kepala.
"Kalian sangat serakah, kenapa tidak Istri mu saja kau jadikan tumbal, Akbar" sarkas Budhe dengan emosi.
"Dia Istriku, Kak" bentak Paman Akbar.
"Lalu beda nya apa dengan Feli? Dia juga keponakan mu bahkan sudah seperti Putri mu" bentak Budhe dengan penuh geram.
.
.
.
__ADS_1