
Hari sudah malam, dan semua orang sudah kembali pulang. Tinggal hanya Budhe dan Fatwa saja yang ada disana.
"Nak, makan malam dulu ayo sama Budhe" ajak Budhe
"Iyaa Budhe" balas Fatwa.
Mereka makan malam di sofa kamar tersebut, Nyonya Maya benar-benar memberikan fasilitas yang sangat lengkap dan baik.
Mereka menyantap makanan dengan lahap, sesekali mata mereka melihat ke arah ranjang Feli.
Setelah selesai makan , Fatwa memutuskan untuk belajat terlebih dulu di balkon kamar.
Sudah 1 Minggu ini Fatwa sekolah di Jakarta, dekat dengan Rumah Rizik dan Raisa. Fatwa belajar bersungguh-sungguh agar ia bisa mendapatkan kembali beasiswa untuk ke Universitas.
Hampir tengah malam Fatwa baru masuk ke dalam kamar rawat tersebut. Ia melihat sang Budhe yang sudah tertidur, lalu Fatwa melangkahkan kaki nya untuk mengunci pintu.
"Kapan kau akan bangun, Kak" gumam Fatwa lirih.
Lalu Fatwa melangkahkan kaki menuju tempat tidur nya. Karena besok ia akan naik kendaran umum jadi harus bangun pagi-pagi sekali.
***
Pagi hari nya, Fatwa sudah siap dengan seragam dan juga semua alat sekolah nya.
"Budhe, aku berangkat dulu ya" pamit Fatwa dengan menyalami sang Budhe.
"Hati-hati ya, masih ada kan uang nya?" tanya sang Budhe.
"Masih ada Budhe, aku titip Kak Feli" jawab Fatwa tersenyum.
Lalu Fatwa pergi dengan sejuta semangat nya. Ia akan membuat Kakak nya bangga.
Bruk
"Maaf Tuan saya tidak sengaja" ucap Fatwa sedikit takut.
"Kenapa jalan terburu-buru?" tanya Denis dengan datar.
Fatwa mendongkak dan tersenyum melihat wajah tampan Denis.
"Maaf Tuan, saya takut ketinggalan angkutan umum untuk ke sekolah" jawab Fatwa sopan
"Tunggu disini sebentar, saya akan menebus Vitamin buat Putra saya terlebih dulu" ucap Denis tegas.
Fatwa mengangguk patuh, ia melihat kembali jam tangan yang sudah usang di pergelangan tangannya.
"Yaampun bagaimana kalau aku telat" gumam Fatwa gelisah.
Tetapi tak lama kemudian, Denis datang dan membawa Fatwa ke dalam mobil nya.
"Tuan, biar saya naik angkutam umum saja" ucap Fatwa tak enak.
"Tidak apa, lebih baik berangkat bareng saja kita satu arah kok" balas Denis santai.
__ADS_1
Fatwa hanya menghela nafas dan duduk dengan tenang saja. Ia melihat pemandangan di luar jendela mobil.
"Kau ambil jurusan apa?" tanya Denis.
"Aku akan mengambil ke Dokteran, Tuan" jawab Fatwa tersenyum.
"Baguslah, sekolah yang rajin dan belajar yang semangat karena itu adalah salah satu kunci menuju sukses" ucap Denis lembut.
"Iyaa Tuan, saya ingin membawa kebahagian dengan membanggakan semua nya pada Kakak saya. Karena dia sudah saya anggap seperti Ibu saya sendiri" balas Fatwa dengan bangga.
Denis hanya tersenyum dan fokus kembali ke jalanan. Karena hari ini Raka akan berangkat ke luar Kota jadi ia memilih menyetir sendiri.
Sesampai nya di sekolah, Fatwa langsung pamitan dan tak lupa menyalami Denis.
Setelah memastikan Fatwa masuk, Denis langsung saja melajukan mobil nya ke arah perusahaan.
Di sepanjang perjalanan Denis terus saja tersenyum. Entah mengapa ia selalu saja memikirkan akan Feli.
Sesampai nya di perusahaan, Denis memasang wajah dingin dan datar nya. Semua karyawan menyapa dengan sopan dan hormat, tetapi hanya di balas anggukan saja oleh Denis.
***
Saat ini di ruang rawat Feli, Mbak Sonia sudah berada disana. Ia di antarkan oleh Dokter Adnan kesana.
Budhe menceritakan semua nya pada Mbak Sonia apa yang terjadi kemarin, Mbak Sonia hanya tersenyum dengan haru saja.
"Feli itu orang baik, tetapi kenapa Paman nya tega sekali ya. Bahkan ini sudah 1 minggu lebih tetapi Feli belum sadar juga" ucap Mbak Sonia lirih.
Mbak Sonia menggenggam tangan Feli dengan sedih, ia merasa dunia nya ikut runtuh saat sakit yang di derita Feli.
"Boleh, sarapan lah dulu. Biar Feli bersama ku" balas Mbak Sonia tersenyum.
Lalu Budhe pergi keluar dari kamar tersebut, ia melangkahkan kaki nya menuju ke kantin.
"Fel, bangun sayang. Mbak akan membawa kamu jalan-jalan keliling Jakarta. Kamu wanita kuat sayang, kamu harus bertahan demi Fatwa. Dia sedang menuju ke suksesannya" ucap Mbak Sonia lirih.
"Kamu harus bangun, Nak. Agar kamu bisa melihat bahwa Adik yang selalu kamu perjuangkan sukses" ucap nya lagi.
Mbak Sonia tersentak saat melihat jari lentik Feli yang bergerak-gerak.
Dengan cepat Mbak Sonia menekan tombol yang ada di pinggir
"Sayang , ayo bangunn Mbak sudah rindu" ucap Mbak Sonia bahagia.
Brak
"Bun, kenapa sama Feli?" tanya Rizik dengan nafas memburu.
"Jari nya bergerak, Nak" jawab Mbak Sonia dengan derai air mata.
Rizik langsung memeriksa Feli, ia lalu tersenyum saat kelopak mata Feli bergerak-gerak.
Tak lama kemudian, Dokter Adnan, Budhe dan beberapa perawat datang dengan wajah panik.
__ADS_1
"Mbak, apa yang terjadi?" tanya Budhe dengan panik.
Mbak Sonia hanya menunjuk ke arah Feli.
Feli mengerjabkan mata nya dan perlahan membuka mata, ia menatap sekeliling dengan perasaan bingung.
"Bu budhe" lirih Feli.
"Kenapa sayang? Mau apa , mau minum?" tanya Budhe dengan senang.
Feli hanya mengangguk lemah. Seorang perawat dengan cekatan langsung memberi Feli air.
Dokter Adnan mendekat dan memeriksa Feli. Ia menyuruh perawat untuk melepaskan alat yang ada di tubuh Feli.
"Jangan banyak gerak dulu ya, Nak. Kamu baru saja sadar" ucap Dokter Adnan mengusap lembut kepala Feli.
"Fatwa d dimana?" tanya Feli dengan melihat kembali ke sekeliling nya.
"Fatwa sedang sekolah, sayang" jawab Mbak Sonia.
Feli mengangguk walau masih penasaran, tetapi kepala nya masih terasa pusing.
Feli kembali memejamkan mata nya dan membuka kembali.
"Sayang, istirahat dulu saja ya. Nanti Mbak dan Budhe ceritakan semua nya" ucap Mbak Sonia yang seolah tahu dengan ke gelisahan Feli.
"Iyaa Mbak, tapi aku merasa bingung saja. Ini dimana?" tanya Feli heran.
"Kita di Jakarta, Nak" jawab Mbak Sonia.
Lalu Budhe menceritakan semua nya, bagaimana dia bisa berada disini dan Feli yang koma selama hampir 2 minggu lamanya.
Setelah memastikan bahwa Feli baik-baik saja. Dokter Adnan dan Rizik langsung kembali ke tugas nya begitupun dengan perawat tersebut.
Feli sudah lebih baik lagi, hanya tinggal proses pemulihan saja.
Mbak Sonia mengupas beberapa buah untuk Feli, sedangkan Feli masih setia mendengar cerita sang Budhe.
"Apakah Feli akan tinggal disini, Budhe?" tanya Feli.
"Iyaa kamu akan tinggal disini, jika tidak ingin disini kamu bisa ikut bersama Budhe. Tetapi jika disini kamu bisa bekerja pada sahabat Ayah mu" jawab Budhe
"Aku disini saja Budhe, soal nya kasihan Fatwa jika harus pindah lagi" putus Feli dengan yakin.
"Itu terserah kamu, Nak. Budhe tidak akan memaksa nya, yang penting sekarang kamu sehat dulu saja" ucap Budhe lembut.
"Benar apa kata Budhe mu, Nak. Yang penting kamu sehat dulu , jangan pikirkan apa-apa dulu" timpal Mbak Sonia.
Feli mengangguk patuh, lalu mereka memutuskan menyuruh Feli istirahat kembali agar cepat pulih.
.
.
__ADS_1
.