Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Lega


__ADS_3

Sejak semalaman Denis tidak bisa memejamkan mata nya, ia terus saja khawatir kepada Feli.


Meski Denis tahu, bahwa Feli sengaja di beri obat agar lebih tenang dan rilexs.


"Jangan buat aku khawatir, sayang" lirih Denis dengan mengecup kening Feli.


"Kak, istirahatlah. Sejak semalam kau belum makan dan tidur, biar aku yang jaga Kak Feli" ucap Fatwa bangkit dari duduk nya.


"Nanti saja, Dek. Aku belum ngantuk dan lapar" balas Denis lemah.


Fatwa hanya menggelengkan kepala saja, ia tahu bahwa Kakak Ipar nya sangat lelah, terlihat jelas di wajah nya yang tampan.


Fatwa memilih diam dan kembali duduk, ia sedang melakukan pekerjaan lewat Laptop yang sengaja ia bawa.


Denis terus saja menatap Feli yang tenang, damai dalam tidur nya.


"Eungggg" lenguh Feli


Denis mengerjap dan langsung tersenyum. Ia lalu memegang tangan Feli dengan erat.


"Sayang" panggil Denis dengan bahagia.


Fatwa langsung mendongkak dan ia juga sangat bahagia karena melihat Kakak nya yang sedang mengerjapkan mata.


Denis tersenyum saat melihat kelopak mata sang Istri terbuka. Ia langsung mengecup tangan Feli dengan lembut.


"Mas" lirih Feli dengan senyuman.


"Iyaa, mana yang sakit?" tanya Denis dengan khawatir.


Lalu tanpa menunggu jawaban dari sang Istri, Denis langsung saja menekan tombol yang ada di samping ranjang nya.


"Mau minum?" tanya Denis lembut.


Feli menganggukan kepala dengan tersenyum.


Dengan sigap, Denis langsung mengambil dan membantu Feli untuk minum. Ia dengan sangat lembut kembali menidurkan Feli.

__ADS_1


Hingga terdengarlah pintu di buka dan munculah Dokter Via dan Rizik.


Rizik langsung memeriksa Feli setelah itu di lanjutkan oleh Dokter Via.


"Kandungan Nyonya baik-baik saja, bahkan sangat kuat dan sehat. Tetapi anda harus istirahat jangan banyak gerak dan terlalu lelah" jelas Dokter Via dengan lembut.


"Terimakasih, Dok" balas Feli.


Lalu sang perawat mengambilkan Vitamin dan obat yang di perlukan oleh Nyonya-Nya.


Setelah memeriksa dan memastikan bahwa Ibu dan Janin nya sehat, Dokter Via langsung undur diri.


"Kau wanita kuat, lebam dan sedikit goresan hanya kecil bagi-mu bukan. Tetapi, lain kali jangan so jago, untung semua nya tidak fatal" omel Rizik


"Hehe" cengengesan Feli.


Fatwa langsung mendekat dan memeluk Kakak nya dengan menangis.


"Terimakasih sudah kuat untuk ke dua kali nya, maafkan Ibu yang selalu saja jahat pada Kakak" lirih Fatwa dengan terisak.


Fatwa melerai pelukannya dan menganggukan kepala, ia sangat terharu dengan kebaikan Kakak nya.


"Jangan benci pada Ibu mu, dia hanya sedang khilaf jadi biarkan Allah yang membalas nya" ucap Feli dengan tersenyum.


Fatwa menganggukan kepala saja, ia tidak mau Kakak nya banyak pikiran.


"Dek, Abang harus pulang ke kampung. Putri Abang rewel, cepat sehat dan jangan membuat Abang khawatir lagi, ya" pamit Rizik mengecup kening Feli.


"Hati-hati, salam buat Mbak Raisa dan keponakan ku" balas Feli


Setelah Rizik pergi, Fatwa pun ikut pamit karena ia juga kepikiran dengan Istri nya.


Semua orang pergi, tinggallah Feli dan Denis.


Denis langsung menutup pintu dan mengunci nya. Lalu ia langsung naik ke ranjang yang muat untuk mereka berdua.


Denis memindahkan kepala Feli pada lengannya, lalu ia memeluk nya dengan sangat hangat.

__ADS_1


"Maafkan, Mas" lirih Denis di telinga Feli.


Feli mendongkak dan melihat gurat wajah sedih dan lelah di wajah tampan suami nya.


"Bukan salah, Mas. Ini hanya cobaan buat kita saja. Jangan menyalahkan diri Mas begini" balas Feli mengusap lembut pipi Suami nya.


Mata mereka bertemu dan Denis langsung saja mengecup kening Feli dengan lembut.


"Istirahatlah, aku tahu kamu lelah, Mas" ucap Feli dengan lembut.


Denis menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Feli. Ia merasa sangat nyaman berada disana.


Perasaannya sangat lega setelah melihat bahwa Istri nya tidak kenapa-napa dan sudah sadar.


Denis memejamkan mata nya yang lelah, terdengar dengkuran halus di telinga Feli.


Dengan gerakan halus, Feli mengelus kepala Denis dengan lembut.


Hingga ia juga tidak sadar ikut terlelap karena hangat nya pelukan Denis.


***


Sedangkan di markas, Boy dan Raka sedang memberi ke dua wanita tersebut pelajaran. Mereka akan menyiksa dan memberikannya kembali pengobatan pada luka tersebut.


Mereka tidak akan membiarkan wanita tersebut cepat mati.


"Biarkan saja kita, mati" teriak Zia dengan histeris.


"Nyonya, anda pasti tahu bagaimana sifat Tuan muda bukan" ucap Boy dengan tegas.


Zia memilih diam dan menundukan kepala nya, ia sangat tahu Denis, Denis adalah manusia kejam jika ada yang mengusik keluarga dan orang-orang terdekat nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2