Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Bertengkar


__ADS_3

Setelah sarapan pagi jadi, Fatwa memilih kembali ke kamar nya. Sedangkan Feli, ia memanggil Paman dan Bibi nya.


"Feliii" panggil Bi Laura.


Feli menghentikan langkah kaki nya dan berbalik. Ia memandang Bibi nya dengan tatapan bingung.


"Mana minta uang, pasti kamu habis gajihan kan" ucap Bi Laura


"Aku belum gajihan Bi, lagian kalau sudah juga aku kan harus membeli perlengkapan Fatwa sekolah" balas Feli dengan malas.


^^^'Aku tidak akan memberikan uang sepeserpun pada kalian' batin Feli ^^^


"Feli, Fatwa masuk sekolah masih lama. Bibi harus membeli beberapa bahan makanan" bentak Bi Laura dengan keras.


"Maaf Bi, tapi uang gajihan aku bulan ini tidak akan aku ambil, aku sudah menyuruh Mbak Sonia untuk membelikan beberapa keperluan Fatwa dari Kota. Karena Fatwa lebih penting" balas Feli tegas.


PLAK


Feli langsung terhuyung kala tangan kekar sang Paman menampar pipi nya dengan keras.


"Kamu sudah berani melawan hah, bahan dapur juga butuh" bentak Paman Akbar.


"Tapi bahan dapur masih ada, Pak. Bahkan Kak Feli sudah membeli nya kemarin, harus nya kalian mikir, selama aku sekolah aku di biayain sama Kak Feli. Sedangkan kalian apa hah, kalian hanya belanja untuk diri kalian sendiri" teriak Fatwa dengan emosi menggebu.


"Dan ingat ini, Pak. Jika aku melihat tangan itu memukul atau bahkan menyentuh Kak Feli seujung kuku pun, maaf kan aku jika aku lupa bahwa Bapak ku dan aku akan mematahkan tangan itu karena sudah berani melukai malaikat ku" ucap nya kembali dengan tegas.


"Diam saja kau anak kecil, dan malam ini kalian tidak boleh ada yang makan di Rumah" teriak Bi Laura dengan berlalu pergi dari sana.


"Baik, bahkan aku dan Feli dengan senang hati pergi dari sini" balas Fatwa


"Kau sudah mulai berani melawan Orangtua ya , Fatwa. Apa ini didikan Feli selama ini" ucap Pak Akbar.


"Jangan salahkan didikan Kak Feli, salahkan kalian sebagai Orangtua. Apakah kalian pantas di sebut Orangtua? Orangtua itu merawat , menjaga dan mendidik bukan menelantarkan anak" balas Fatwa dengan bentakan.


Tangan Paman Akbar sudah melayang lagi dan siap menampar Fatwa.


"Tampar saja, Pak. Aku ini bukan anak kalian jadi kalian dengan sesuka hati menghamburkan uang kalian untuk diri kalian sendiri, tanpa berpikir bagaimana kondisi aku disini" ucap Fatwa


Sedangkan Feli, ia hanya bisa menunduk takut di belakang Fatwa, bahkan tubuh nya sudah gemetar karena baru pertama kali ini ia di tampar oleh seseorang.


Lalu Fatwa membawa Feli keluar dari Rumah tersebut.


"Fatwa, Feli kenapa?" tanya Tetangga yang tak sengaja lewat.


Feli hanya menggelengkan kepala dengan meringis saja.


"Yaampun ini bengkak, ayo ke Rumah Ibu saja" ajak Tetangga tersebut.

__ADS_1


Fatwa menganggukan kepala dan mengikuti sang Ibu tersebut.


Sesampai di Rumah tetangga, Feli langsung di suruh duduk terlebih dulu.


"Sini biar Ibu kompres dulu, ini seperti bekas tamparan" ucap Ibu tersebut.


"Iyaa Bu Halim, tolong saya titip Kakak saya dulu ya" jawab Fatwa dengan segera.


"Kamu ma mau kemana, Dek?" tanya Feli dengan meringis.


"Aku mau beli makanan di depan, Kakak belum makan sejak tadi" jawab Fatwa dan segera berlalu dari sana.


"Fel, jika kamu tidak kuat kamu pergi saja dari Rumah itu dan bawa serta Fatwa. Ibu kasihan lihat kamu begini, Nak. Dulu Ayah dan Ibu mu tidak pernah memarahimu" ucap Bu Halim dengan sedih.


"Aku juga ingin begitu, Bu. Tetapi aku kasihan pada Fatwa, biarlah mungkin jika suatu saat nanti aku sudah tidak sanggup aku akan pergi" balas Feli tersenyum getir.


"Kamu Istirahat dulu ya disini, badan kamu agak panas" ucap Bu Halim khawatir.


"Tidak usah, Bu, nanti merepotkan" balas Feli tak enak.


"Tidak apa, Nak. Ayo ke kamar anak Ibu" ajak Bu Halim dengan menuntun Feli.


Feli hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Bu Halim dari belakang.


Lalu Feli merebahkan tubuh nya di kasur tersebut, lalu ia memejamkan mata nya. Sedangkan Bu Halim pergi ke depan terlebih dulu.


"Kakak mu lagi istirahat di kamar, ayo" jawab Bu Halim dengan lembut.


Mereka masuk ke kamar dengan beriringan.


Terlihat jika Feli sudah terlelap tidur dengan damai.


"Biarkan dia istirahat dulu ya, kamu kalau mau istirahat juga sana" ucap Bu Halim.


"Tidak Bu, saya akan ke Kota bersama Mbak Sonia untuk membeli beberapa keperluan buat masuk sekolah. Saya boleh titip Kakak saya kan, Bu?" tanya Fatwa dengan tak enak.


"Pergilah, biar Kakak mu dengan Ibu disini" jawab Bu Halim dengan tersenyum.


"Terimakasih, Bu. Kalau ada apa-apa telepon Mbak Sonia saja ya" ucap Fatwa tersenyum.


Bu Halim mengangguk tersenyum. Lalu Fatwa bergegas pergi ke Rumah Bu Rt.


Karena peralatan sekolah disini kurang memadai jadi Fatwa harus pergi ke Kota dengan Mbak Sonia.


'Semoga Kakak tidak apa-apa' batin Fatwa


Fatwa berjalan dengan semangat dan di tengah jalan ia melihat kedua Orangtua nya yang pergi entah mau kemana.

__ADS_1


"Dasar manusia laknat, kalian tidak akan bahagia" gumam Fatwa dengan emosi.


"Tidak punya perasaan dasar" gumam nya lagi.


Lalu ia melangkahkan lagi kaki nya, hingga ia sampai di depan Rumah Bu Rt, lalu Fatwa masuk dan menemui Mbak Sonia.


"Assalamualaikum" teriak Fatwa


"Waalaikumsalam, loh kok sendiri dimana Kakak kamu?" tanya Sonia dengan bingung.


"Emmm Kakak lagi istirahat, Mbak" bohong Fatwa.


"Bener?" tanya Sonia penuh dengan selidik.


"Iyaaa, jadi aku sendiri saja" yakin Fatwa dengan tersenyum.


"Yaudah ayo kita berangkat, biar tidak kemalaman pulang nya" ajak Sonia


Lalu mereka melangkahkan kaki dan masuk ke dalam mobil yang sudah ada disana.


Mereka langsung saja berangkat karena hari sudah siang.


***


Sore hari nya, Fatwa dan Sonia baru saja selesai berbelanja. Mereka membeli hampir banyak barang untuk sekolah Fatwa dan yang lainnya.


"Fat, kamu kenapa?" tanya Sonia.


"Emmm sebenarnya Kak Feli sedang di Rumah Bu Halim, dan aku kepikiran terus" jawab Fatwa dengan gusar.


"Loh kenapa jadi di Rumah Bu Halim?" tanya Sonia.


Lalu Fatwa menceritakan semua yang terjadi saat mereka bertengkar dengan Ibu dan Bapaknya.


Setelah menceritakan semua nya, Fatwa menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Yaampun, kenapa kamu tidak memberitahu pada Mbak, yaudah setelah sampai kita langsung saja lihat keadaan Kakak kamu" ucap Sonia dengan khawatir.


'Mudah-mudahan Kakak tidak papa, kenapa aku jadi khawatir dan tak enak perasaan ya' batin Fatwa dengan gusar.


Lalu ia memilih menatap keluar jendela mobil saja. Ia sangat khawatir pada sang Kakak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2