
Malam hari nya, Feli tidur bersama sang Budhe. Ia masih syok tentang dirinya yang di pakai alat untuk membayar hutang pada Bandot Tua.
Budhe memutuskan akan lebih lama lagi disana, ia akan mengurus serta ke pindahan sekolah Fatwa.
"Akbar, kau sudah terhasut oleh istri-mu. Aku akan membawa mereka berdua. Lihat saja nanti, kau akan menyesal" batin Budhe memeluk tubuh Feli.
Sedangkan Fatwa, ia sudah tertidur karena memang ia sangat lelah dengan hari ini.
Paman dan Bibi Feli, saat ini sedang memikirkan bagaimana cara membawa Feli ke Bandot Tua yang akan menikahi, Feli.
***
Pagi hari nya, Budhe dan Fatwa pergi untuk mengurus ke pindahan sekolah Fatwa. Mereka meninggalkan Feli yang memang akan bekerja sebentar lagi.
Setelah kepergian Kakak dan Anak nya, Paman Akbar langsung saja menuju kamar Feli.
"Feliii, bukaa Felii" teriak Paman Akbar.
Ceklek.
"Ada apa, Paman?" tanya Feli
"Kamu sekarang bersiap, karena calon suami kamu akan tiba. Kamu akan menikah dengan Rentenir itu" jawab Paman Akbar cepat.
"Apaaa, tidak mau Paman. Feli akan bekerja untuk membayar nya tapi jangan nikahkan Feli" mohon Feli dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak bisa, masuklah ke kamar. Aku akan mengurung mu sampai orang itu tiba" ucap Bi Laura tersenyum.
"Tidakk Bibi, Feli mohonn jangan Bi" ronta Feli saat tubuh nya di seret ke dalam kamar.
Brak.
"Bibi Bukaaaaaa" teriak Feli dengan terisak.
"Tidak akan, kau harus menikah dengannya" bentak Bi Laura.
"Aku benci kalian, kalian sama sekali tidak punya perasaan. Aku yang membiayai kalian selama ini bahkan aku juga yang telah membiayai sekolah Fatwa" teriak Feli dengan emosi.
Paman Akbar langsung membuka kembali pintu itu dan menyeret Feli ke ruang tengah.
"Lalu bagaimana dengan kami yang membasarkan mu selama ini hah" bentak Paman Akbar.
Feli langsung bangkit dan mendongkak menatap manik mata Paman.
"Apakah semua nya kurang? Pengorbanan aku? Kerja kerasa ku, bahkan harta peninggalan Ayah ku saja sudah kalian habiskan. Sekarang kalian menanyakan masalah membesarkan aku? Lalu bagaimana dengan aku yang juga membesarkan, membiayai bahkan mengasih makan kalian selama ini? Apa Paman berpikir aku tidak punya cita-cita dan ke inginan hah" jawab Feli dengan penuh tekanan.
Plak
Plak
__ADS_1
"Dasar kau kurang ajar, kau berani melawan pada kami, Hah" bentak Bi Laura dengan penuh emosi.
"Untuk apa aku takut, lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan bandot tua itu" balas Feli dingin.
Sret.
Karena geram, Paman Akbar langsung saja membuka sabuk pinggang nya. Lalu ia mencabuk Feli dengan keras nya.
Ctar
Ctar
Seolah mati rasa, Feli menahannya dengan air mata yang sudah menetes deras. Bahkan saat ini tubuh nya sudah ambruk di lantai.
"Kau mau mati bukan? Aku akan membunuh mu saat ini juga" ucap Paman Akbar dengan penuh emosi.
"Silahkan, aku dengan senang hati menerima nya karena dengan begitu aku akan bertemu dengan Ayah dan Ibu ku" balas Feli dengan nada dingin.
Sedangkan Bi Laura sudah tersenyum puas karena seluruh tubuh Feli penuh dengan tanda bahkan luka yang mengeluarkan darah.
"Ayah, Ibu , aku sudah tidak sanggup lagi. Aku memilih mengikuti kalian saja" batin Feli dengan memejamkan mata.
Entah sampai berapa kali Paman Akbar mencambuk tubuh Feli, hingga saat ini Feli sudah tidak sadarkan diri karena badannya lemah.
Ceklek.
"Feliiiiiiiiiiii" teriak Budhee dengan panik.
"Kak Feliiii" teriak Fatwa.
Sedangkan Bu Halim menatapnya dengan kaget, lalu ia menelpon sang suami dengan cepat.
Fatwa langsung saja menatap ke arah kedua Orangtua nya yang sedang menatap tubuh terluka Feli.
"Apa yang kalian lakukan pada Kakak ku hah, kalian sungguh keji. Aku benci kalian, kalian akhhhhh
Bugh
Bugh
"Fatwa hentikan, dia Bapak mu" teriak Bi Laura.
"Bapak? Aku tidak sudi mengakui dia sebagai Bapak ku. Dia pantas nya di sebut dengan I*lis, dan hari ini juga aku tidak akan menganggap kalian sebagai Orangtua ku" bentak Fatwa dengan derai air mata.
Budhe langsung bangun dan menghampiri Paman Akbar.
"Akbar, apakah kamu tidak ingat? Bagaimana dulu Ayah Feli menyayangi-mu bahkan ia sampai rela membagi makanan ku demi mu. Kau akan menyesal Akbar. Aku akan laporkan kalian pada polisi" ucap Budhe penuh tekanan.
Sedangkan Paman Akbar, ia hanya diam dengan mata yang menatap tubuh lemah Feli.
__ADS_1
"Apa yang sudah aku lakukan" batin Akbar.
"Permisii" ucap seseorang.
Bu Halim langsung saja menengok dan mengeryit bingung.
"Siapa kalian?" tanya Budhe
"Saya anak buah dari Bos yang mereka pinjam uang nya , dan kami kesini ingin membawa Feli untuk di nikahkan dengan Bos kami" ucap salah satu orang itu.
"Bawa dia, karena dia mungkin sudah sekarat saat ini" tunjuk Budhe pada Feli.
Anak buah Rentenir tersebut langsung melongo dan melaporkan pada sang Bos. Setelah itu mereka langsung masuk dan membawa Laura.
"Loh kenapa harus saya yang di bawa" bentak Laura dengan meronta.
"Karena Bos tidak mau menikah dengan dia, jadi ganti nya kamu yang akan menikah dengan Bos kami" ucap salah seorang Pria tersebut.
"Apaaa? Tidak aku tidak mau" bentak Laura.
Tetapi dengan cepat mereka langsung menyeret Laura dan membawa nya masuk ke dalam mobil.
"Budhe, ayo bawa Kakak ke Rumah sakit" ucap Fatwa dengan terisak karena tubuh sang Kakak yang kejang-kejang.
Tetapi belum sempat mereka pergi , seorang Polisi datang bersama Pak Halim.
"Penjarakan dia, karena dia yang membuat Kakak saya begini" ucap Fatwa dingin seraya menunjuk Bapak nya.
Polisi pun langsung membawa Paman Akbar. Lalu Budhe dan yang lainnya membawa Feli ke Rumah sakit.
Pak Halim mengendarai mobil dengan sangat kencang, mereka sangat khawatir dengan kondisi Feli.
Hampir semua tetangga melihat tubuh Feli yang terluka dan berita itu sampai ke telinga Bu Rt.
Bu Rt dan suami nya langsung saja menyusul mereka ke Rumah sakit yang ada di perbatasan Desa.
***
Sedangkan saat ini Laura sedang meronta meminta di lepaskan, tetapi tenaga nya kalah dengan anak buah itu.
"Awas saja kau Feli, aku akan membalas semua nya" batin Laura dengan geram
Dan pernikahan itu pun terjadi dengan Laura yang menjadi pengantin wanita nya.
"Aku akan memanfaatkan Bandot Tua ini dan aku juga akan menguras harta nya. Lalu aku akan menjemput kembali Suami ku yang di penjara" batin Laura menahan emosi. Karena ia tadi sempat melihat Polisi yang datang ke Rumah nya.
.
.
__ADS_1
.