Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Pernikahan Rizik dan Raisa


__ADS_3

Hari ini, Feli dan warga kampung membantu di Rumah Bu Rt dan yang sebagian lagi membantu para tim WO.


Ya, besok adalah hari pernikahan Rizik dan Raisa, mereka sengaja menggelar Resepsi nya di Desa.


Untuk Akad, mereka sudah melakukannya 2 hari yang lalu. Para Ibu-ibu di Desa sangat antusias membantu persiapan tersebut.


Bahkan Feli di tunjuk sebagai pemegang keuangan oleh Sonia.


Feli berjalan kesana-kemari mengecek semua bahan, barang dan yang lainnya. Pernikahan ini akan menjadi yang termewah di Desa tersebut.


"Nak, makan dulu jangan sibuk terus" ucap Bu Rt dengan lembut.


"Sebentar Bu, ini makanan harus secepat nya di antarkan ke Orang WO" balas Feli tersenyum.


"Yaudah kamu suruh sopir saja, dia juga lagi nganggur kok" ucap Pak Rt yang baru saja datang.


"Iyaa nganggur kan Bapak nya udah disini, hehe" balas Feli terkekeh.


Sedangkan Pak Rt sudah tertawa karena tingkah Feli.


"Yaudah kalau begitu Feli kesana dulu" pamit Feli dengan sopan.


"Ingat makan" tegas Bu Rt.


"Siap Bu Bos" balas Feli tersenyum.


Bu Rt hanya menggeelengkan kepala saja, ia merasa sangat senang jika sudah bersama Feli. Lalu Bu Rt dan suami nya langsung masuk ke dalam Rumah nya.


Feli mengajak semua yang sedang bekerja untuk makan siang terlebih dulu. Mereka hanya menurut saja dan langsung mengambil makanan yang memang sudah di sediakan.


"Fel, Fatwa belum pulang?" tanya Bu Halim.


"Belum Bu, mungkin nanti sore dia akan pulang" jawab Feli tersenyum.


"Ohhh, yaudah ayo kamu juga makan" ajak Bu Halim menggandeng Feli.


Sedangkan Feli, ia hanya mengangguk patuh saja. Mereka makan sambil istirahat sejenak sebelum melanjutkan memasak dan yang lainnya.


***


Soni, Adnan , Rizik dan Raisa baru saja berangkat dari Jakarta menuju Desa. Mereka sengaja mengambil perjalanan siang agar nanti malam sampai di Desa.


"Bun, apakah Feli dan Fatwa baik-baik saja. Aku sudah lama tidak mendengar mereka?" tanya Raisa.

__ADS_1


"Mereka baik, Nak. Bunda selalu saja menanyakan nya pada Bu Halim, Paman dan Bibi nya juga jarang di Rumah" jawab Sonia lembut.


"Bagus dong, jadi aman buat Feli dan Fatwa" ceplos Raisa dengan terkekeh.


"Hmm emang iya, tapi entah kenapa Bunda merasa curiga pada mereka, Bunda takut mereka akan melakukan hal tak terduga di Kota" ucap Sonia dengan cemas.


"Maksud Bunda?" tanya Adnan dengan bingung.


"Bunda pernah mendengar dari Ibu, kalau Bapak Feli itu punya sahabat dari Jakarta bahkan sahabat nya itu adalah seorang Milliarder, nah Bapak Feli dan si sahabat nya itu akan membangun Rumah sakit di dekat lapang yang ada di Desa, tetapi Bapak Feli keburu meninggal tapi," ucap Sonia terhenti.


Wajah Adnan, Rizik dan Raisa sudah sangat penasaran, bahkan mereka sudah merenggut karena melihat wajah Sonia malah cengengesan.


"Bunnnnnn" ucap mereka serempak.


"Hahaha, tapi uang dari sahabat nya itu masih mengalir ke Paman Feli. Nah dan Bunda takut mereka nanti akan melimpahkan pada Feli" lanjut Sonia dengan serius.


"Siapa nama sahabat nya?" tanya Rizik dengan serius.


"Entahlah, Nenek kamu yang tahu" jawab Sonia dengan tersenyum.


"Kirain Bunda tahu" ucap Rizik


Sedangkan Sonia hanya terkekeh saja. Lalu mereka diam dengan pikiran masing-masing.


Sebelum sampai ke Desa, mereka mampir ke supermarket yang ada di pintu keluar Desa. Sonia dan Raisa membeli banyak makanan dan minuman untuk para pekerja yang ada di Desa.


"Hmmm kamu benar juga ya, yaudah nanti Bunda akan bicarakan pada Feli. Sekalian Bunda akan tanyakan masalah yang tadi Bunda ceritakan pada kalian" balas Sonia dengan semangat.


Lalu mereka langsung membayar semua belanjaan nya. Setelah itu, mereka kembali melakukan perjalan ke Desa.


***


Pagi hari nya, semua sudah siap dengan penampilannya masing-masing. Mereka akan datang ke tempat acara resepsi tersebut.


Feli datang dengan memakai dress selutut pemberian dari Raisa. Ia terlihat sangat cantik, anggun dan elegant.


Hampir semua mata tertuju pada nya, tak terkecuali dengan seorang Pria yang sejak tadi memperhatikan Feli.


"Yaampun, apa aku jelek? Kenapa mereka menatapku dengan begitu" ucap Feli dengan lirih.


"Itu karena kamu cantik, Nak" balas Bu Halim terkekeh.


"Ahh Ibu bisa saja, mungkin mereka menatap ku karena memakai baju bagus saja" ucap nya dengan malu.

__ADS_1


Laku Bu Halim dan Feli bergabung dengan Mbak Sonia dan Bu Rt.


Terlihat di atas pelaminan sana, Raisa dan Rizik tersenyum dengan hangat bahkan mereka tak lepas dari senyumannya.


Seorang Pria terus saja menatap kagum pada Feli, ia merasa sangat segar menatap bagaimana mata teduh Feli.


"Seperti nya aku mengenal dia, tapi dimana ya" gumam Denis.


Ya, Pria tersebut adalah Denis Natakusuma. Dia hadir karena memang sahabat dari Rizik.


"Raka, tolong kamu cari tau semua tentang wanita itu" ucap Denis tegas.


Raka langsung menoleh dan memotret Feli. Setelah itu dia langsung menyuruh anak buah nya mencari.


"Sudah Tuan, besok semua data nya akan sampai di tangan anda" balas Raka sopan.


Lalu Denis dan Raka menghampiri sang pengantin dan memberi nya ucapan selamat.


Setelah selesai, Denis pamit undur diri karena akan ke luar Kota.


Acara demi acara terus saja berlangsung meriah, hampir semua warga Desa menikmati acara tersebut dan berbahagia disana.


Meskipun keluarga Raisa orang kaya, tetapi mereka sangat bahagia bisa melangsungkan pesta Putri tunggal nya di Desa tersebut.


"San, maaf ya di Desa mah gini" ucap Mbak Sonia pada Besannya.


"Tidak apa, malahan saya senang. Apakah saya boleh menginap? Karen besok pagi saya ingin berjalan-jalan disini" ucap Ibu Raisa


"Ohh tentu boleh, dengan senang hati saya akan menunjukan ke indahan di Desa ini" balas Mbak Sonia.


Lalu Mbak Sonia menceritakan semua tentang Desa tersebut, dengan rasa penasaran Ibu Raisa akan menginap agak lama disana.


Hingga sore hari nya, semua acara berlangsung dengan baik dan lancar. Satu persatu tamu undangan dari Kota pun sudah pada pulang.


Feli , Fatwa , Bu Rt dan Pak Rt sudah pulang lebih dulu. Feli dan Fatwa akan menyiapkan kamar untuk Ibu dan Ayah Raisa.


"Nak, kamu makan dulu sana sama Fatwa. Jangan telat makan" ucap Bu Rt dengan lembut.


"Iyaa Bu, saya ke dapur dulu" pamit Feli


Feli dan Fatwa makan terlebih dulu sebelum melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Feli memang sudah sangat lapar karena sejak tadi tidak makan sama sekali.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2