Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Tamu


__ADS_3

Di Apartemen yang sangat mewah, tepatnya di kediaman Zia, dia tersenyum karena ia kembali lagi ke tanah air.


"Apa kau sudah sampai, sayang?" tanya Pria di seberang sana.


"Baru saja aku tiba di Apart, kapan kau akan menyusul? Rasanya aku sudah sangat Rindu" ucap Zia dengan manja.


"Besok aku akan langsung kesana, dan kita akan memulai nya" balas Pria tersebut.


Zia langsung menghempaskan tubuh nya ke atas ranjang size yang ada disana. Ia akan istirahat terlebih dulu sebelum menemui Putra nya.


***


Sedangkan di Desa, Arya menolak tegas untuk pulang. Dia ingin disana selama liburan, karena kalau dia pulang dia akan bertemu dengan Zia.


"Nek, aku tidak mau pulang dan aku tidak mau menemui Ibu Zia. Aku akan disini sampai waktu liburan ku habis" tegas Arya dengan sorot mata yang tajam.


Bu Maya dan Bunda Sonia hanya mengangguk pasrah, pasalnya saat mereka baru saja tiba di Desa, Arya sudah melihat kepulangan sang Ibu.


"Aku tahu maksud kedatangan Ibu dan aku tidak akan membiarkannya" batin Arya tegas.


Arya memilih untuk menelpon Bunda nya, ia sudah rindu sekali dengan Bunda Feli.


Tetapi sejak tadi teleponnya tidak kunjung di angkat oleh Feli, Arya hanya mendesah kesal.


"Mungkin Bunda lagi tidur" gumam nya saat melihat sudah jam 7 malam.


***


Pagi hari nya, di mansion sangat riuh karena kedatangan Fatwa dan Celin.


Fatwa sengaja datang karena sudah mengetahui tentang Zia. Jadi dia akan berkunjung dan menginap disana selama 3 hari.


"Kak Feli yuhuuuuuu" teriak Fatwa dengan masuk ke dalam mansion.


"Bang" tegur Celin kesal.


"Maaf sayang" balas Fatwa cengengesan.


Celin mendengus dan berlalu ke arah dapur, ia menata makanan yang di bawa nya.

__ADS_1


Sedangkan di lantai atas, Feli dan Denis terkekeh mendengar teriakan Fatwa yang selalu saja membuatnya tersenyum.


"Mas, ayo keluar" ajak Feli dengan semangat.


Denis mengangguk dan menggandeng tangan istri nya keluar kamar.


Dari atas, Feli bisa melihat bahwa sang Adik yang sedang menunggu nya dengan tersenyum senang.


"Yaampun Kak itu perut udah kelihatan saja" kekeh Fatwa dengan memeluk sang Kakak.


Tak lupa Fatwa juga mengusap lembut perut Kakak nya yang terlihat buncit.


Setelah itu mereka langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Kamu sendiri kesini?" tanya Feli.


"Enggak, aku sama istriku" jawab Fatwa.


"Lalu dimana Celin?" tanya Denis yang di angguki oleh Feli.


"Eh iya kemana dia, apa dia tertinggal di mobil ya" ucap Fatwa dengan bingung.


"Hehe becanda sayang ih" kekeh Fatwa dengan membawa Istri nya duduk di sisi nya.


Sedangkan Feli dan Denis terkekeh melihat kelakuan mereka yang absurd.


Mereka terus bercerita dengan riang, hingga tak terasa waktu sudah siang.


Feli dan Celin memutuskan untuk memasak bersama, walaupun ruang gerak Feli terbatas tetapi ia masih di izinkan asal ada yang membantu.


Celin dengan semangat kesana kemari dan tidak membiarkan Feli yang mendominasi memasak.


Setelah hampir 1 jam berkutat dengan alat tempur di dapur, akhirnya masakan mereka dan langsung menata nya di meja makan.


"Aku panggil mereka dulu ya, Kak" ucap Celin


Feli mengangguk dan ia duduk terlebih dulu disana.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Denis saat masuk ke ruang makan.

__ADS_1


Feli menggeleng seraya tersenyum lembut.


"Tidak apa, Mas. Ayo makan" ucap Feli lembut.


Denis mengangguk dan duduk di kursi biasa nya. Lalu Feli mengambilkan makanan untuk Denis.


Mereka makan siang dengan tenang, tidak ada yang bersuara sama sekali. Fatwa dan Celin sudah tahu kebiasaan di mansion tersebut.


Setelah selesai makan siang, Denis mengajak mereka kembali berbincang di ruang tamu.


"Tuan, maaf di luar ada tamu" ucap Bi Surti.


Denis menatap Art nya dengan tatapan bingung, pasalnya ia tidak memiliki janji ataupun tamu yang akan datang.


"Ingin bertemu siapa, bi?" tanya Feli.


"Dengan Tuan Muda, Nyonya. Em em itu anu Nyonya" jawab Bi Surti gelagapan.


"Yang jelas dong, Bi" gerutu Feli.


"Mas Denis" panggil seorang wanita dengan senyum merekah nya.


Feli dan yang lainnya langsung menatap ke arah suara berasal.


Feli langsung saja menegang ketika melihat siapa yang mencari suami nya.


Denis menggenggam tangan Feli dengan lembut, ia menatapnya dengan tersenyum.


"Apa kamu tidak punya sopan santun, Nyonya? Tuan Rumah belum mengizinkan masuk anda sudah nyelonong saja" ucap Fatwa dengan sinis.


"Memang masalah bagi anda? Dan lagi pula siapa anda" balas wanita tersebut dengan ketus.


"Mau apa kau kemari, Zia?" tanya Denis dengan nada dingin dan datar nya.


Ya, wanita tersebut adalah Zia. Dia sengaja datang ke mansion tersebut untuk bertemu dengan Denis.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2