
Saat makan malam, Arya terlihat sangat lahap. Meskipun rindu dengan Ayah dan Bunda nya tetapi ia bisa menahan nya sampai esok pagi.
"Nak, kamu sudah masuk sekolah 1 minggu lagi?" tanya Adik sepupu Denis.
"Iya Onty dan aku akan di antar oleh Bunda" jawab Arya dengan bahagia.
Vivi tersenyum melihat putra dari Kakak sepupu nya terlihat bahagia, ia sangat menyesalkan atas perlakuan Zia pada anak kandung nya sendiri.
"Ar, apa Ibu Zia tidak pernah menemui kamu?" tanya Vivi hati-hati.
"Tidak , bahkan menelpon pun tidak pernah. Aku sudah tidak perduli, Ibu yang membuangku dan Ayah jadi aku tidak akan menemui nya sebelum dia meminta maaf padaku" jawab Arya dengan santai.
Vivi dan Bu Maya terlihat tercengang dengan jawaban dari Arya. Mereka tahu, meskipun dia masih kecil tetapi dia sudah paham dengan situasi.
"Nenek, apa Nenek jadi ikut dengan Onty Vivi?" tanya Arya setelah selesai makan.
"Iyaa Nak, apa kamu tidak ingin ikut? Nenek akan lama disana soalnya Onty kamu kan akan melahirkan sebentar lagi" jawab Bu Maya lembut.
"Tidak Nek, aku akan bersama Bunda disini dan akan menantikan Adik bayi ku. Nanti jika Onty sudah punya bayi aku akan kesana dengan Ayah dan Bunda" ucap Arya
Vivi tersenyum melihat tingkah menggemaskan Arya.
"Yaudah sekarang ayo kita ke ruang keluarga dulu" ajak Bu Maya.
Vibi dan Arya langsung saja mengikuti langkah Bu Maya. Arya selalu saja mengelus perut Vivi yang sudah membuncit.
"Onty, jika Bunda hamil maka perut nya akan besar juga?" tanya Arya dengan polos.
"Iya sayang, perut Bunda Feli akan sama seperti Onty saat ini" jawab Vivi tersenyum.
"Emang Arya gak takut nanti Ayah dan Bunda lebih perhatian sama Adik di bandingkan Arya jika punya Adik?" tanya Bu Maya
Vivi sangat penasaran dengan jawaban dari bocah 5 tahun tersebut.
"Tidak Nek, karena aku sudah besar dan aku harus menyayangi dan menjaga nya kelak karena aku adalah Abang. Dan aku juga yakin kalau Bunda dan Ayah tidak akan pilih kasih" jawab Arya dengan tenang.
"Uh pintar sekali anak ganteng ini" ucap Vivi memeluk Arya.
__ADS_1
Bu Maya tersenyum dan mengusap lembut kepala Arya.
Setelah puas berbincang, Arya memutuskan untuk masuk ke kamar lebih dulu.
Sesampai nya di kamar, Arya membuka laci dan mengambil poto sang Ibu Zia.
"Ibu, aku tidak membenci Ibu tetapi aku kecewa dengan Ibu. Jika kelak Ibu datang padaku, maafkan aku yang tidak bisa menerima Ibu karena aku sudah kecewa dengan Ibu" ucap Arya meremas poto Zia dan membuang nya ke tong sampah.
Lalu ia mengambil poto diri nya dengan Feli dan memajang nya di nakas dekat ranjang.
"Bunda, aku yakin kalau Bunda tidak akan sama dengan Ibu Zia. Bunda adalah Bunda aku yang paling hebattttt" ucap Arya dengan bangga.
Arya lalu memejamkan mata nya dan terlelap dengan pulas. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok , ia sudah rindu dengan Ayah dan Bunda nya.
***
Pagi ini Arya sudah sangat rapih dan wangi, bahkan Art yang ingin membangunkan dan membantu nya mandi pun sangat terkejut melihat Arya yang sudah tampan.
"Mbak, aku sudah tampan. Jadi ayo kita keluar" ajak Arya dengan gembira.
"Ayo Tuan Muda" balas Mbak nya dengan tersenyum.
"Mbak, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bunda dan Ayah" ucap Arya dengan senang.
"Wah wah siapa nih sudah tampan" goda Bi surti dengan mencubit gemas pipi Arya.
Arya tersenyum malu lalu duduk di kursi ruang makan.
"Selamat pagi, Nona , Nyonya besar" sapa Mbak dan Bi surti dengan sopan.
"Pagi" balas Vivi dan Bu Maya.
"Wahh Abang Arya sudah tampan" goda Bu Maya dengan terkekeh.
"Hehe iya dong, Nek. Aku kan akan menyambut Ayah dan Bunda" jawab Arya tersenyum malu.
"Ck, menggemaskan sekali kamu sih" gemas Vivi mencubit pipi Arya.
__ADS_1
Arya terkekeh dan memulai sarapan pagi nya. Bu Maya ikut tersenyum melihat rona bahagia di wajah Cucu kesayangannya.
Setelah selesai sarapan pagi, mereka lalu duduk di ruang tamu menunggu kedatangan pengantin baru.
Bahkan Arya sudah tidak sabar menunggu sang Orangtua pulang ke mansion.
"Ini pasti Ayah yang lama" gerutu Arya karena Orangtua nya tak kunjung datang.
Vivi terkekeh melihat wajah Arya yang di tekuk. Hingga tak lama kemudian terdengar mobil yang berhenti.
Arya langsung berlari ke depan dengan sangat girang.
"Ayahh , Bundaaaa" pekik Arya dengan bahagia.
Denis langsung saja menangkap sang Putra yang berlari ke arah nya, sedangkan Feli hanya tersenyum dan mengecup pipi putra nya.
"Bunda kenapa lama sekali sih" gerutu Arya.
"Bunda dan Ayah beli ini dulu buat kamu, sayang" jawab Feli menunjukan beberapa ice cream dan camila kesukaan Arya.
Arya mengangguk tersenyum dan mereka langsung saja masuk ke dalam mansion.
Di ruang tamu, Bu Maya dan Vivi sudah menunggu dengan senyuman hangat.
Feli langsung saja menyalami dan memeluk Bu Maya serta Vivi.
"Bagaimana? Apa suami mu tangguh?" tanya Vivi dengan menggoda.
Feli menundukan kepala nya dengan tersenyum malu.
"Tangguh dong, bahkan sebentar lagi Arya akan punya Adik" jawab Denis dengan bangga.
"Mass" kesal Feli dan mencubit pinggang suami nya.
Sedangkan yang lainnya tertawa renyah. Arya sendiri sudah anteng dengan makanan yang di bawa oleh Feli.
.
__ADS_1
.
.