Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Melepas Rindu


__ADS_3

Feli terlihat sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga nya. Ia sangat bahagia mendengar kabar bahagia dari Fatwa.


"Tokcer juga kamu, Dek" goda Feli sambil memakan Cake buatan Celin.


"Iyalah, Fatwa gituloh" bangga Fatwa dengan menepuk dada nya.


Arya dan Pak Akbar sedang bermain di kebun belakang. Arya ingin memetik buah strawberry.


"Ck, untung saja Putra ku tidak ada. Kalau ada ia akan ilfil melihat Om nya narsis" ketus Feli dengan mencebikan bibir nya.


Sedangkan Fatwa hanya mengangkat bahu nya acuh.


"Bagaimana kalau nanti kita bakar-bakar, Fat?" tanya Denis.


"Boleh tuh, Kak. Kalian nginap disini kan?" tanya Fatwa balik.


"Iyaa, besok siang baru pulang" jawab Denis.


"Yaudah ayo kita belanja" ajak Feli semangat.


"Gak usah, itu Paman sudah ambilkan Ayam dan Ikannya. Sedang di bersihkan oleh Bibi" ucap Pak Akbar yang baru saja masuk dengan menenteng sekeranjang strawberry.


Glek.


"Paman"


"Bapak"


Ucap ke dua Bumil tersebut dengan menatap buah yang di bawa Pak Akbar dengan sangat minat.


"Makanlah, ini sudah Bapak bersihkan" ucap Pak Akbar memberikan keranjang tersebut kepada ke dua Bumil.


Denis dan Fatwa hanya terkekeh kecil dan menggelengkan kepala nya.


"Bunda, aku sama Kakek pergi ambil Ikan yang besar loh" ucap Arya dengan antusias.


"Wah benarkah? Lalu Abang ngambil berapa?" tanya Feli dengan tersenyum.


"Eummm 5 yang besar dan 2 Ayam yang bohay" jawab Arya dengan berbinar.


Uhuk.

__ADS_1


"Dapat dari mana itu kata bohay?" tanya Feli yang tersedak minuman.


"Kata Bibi kalau Ayam nya besar berarti bohay" jawab Arya santai.


Tawa Fatwa dan yang lainnya pecah mendengar peruturan Arya. Mereka sangat gemas melihat wajah polos dan menggemaskan Arya.


"Sekarang kalian istirahat saja dulu, nanti jam makan malam baru kita bakar-bakar" ucap Pak Akbar.


Feli mengangguk kecil, lalu ia mengajak Arya masuk ke kamarnya dengan di ikuti oleh Denis.


"Mau istitahat juga?" tanya Fatwa lembut.


"Huum, aku merasa lelah padahal tidak ngapa-ngapain" jawab Celin..


Fatwa lalu mengajak Celin masuk ke kamar nya. Mereka akan istirahat terlebih dulu sebelum nanti akan melepas rindu.


***


Sedangkan di suatu rumah pinggiran kota Jakarta. Dua wanita sedang tersenyum senang dan terus saja meminum-minum.


"Kita akan hancurkan mereka sampai sehancur-hancur nya" ucap wanita tersebut dengan terbahak.


"Kau benar, kita akan musnahkan mereka" timpal temannya.


Sedangkan temannya hanya menganggukan kepala saja. Setelah cukup bersenang-senang mereka kembali ke rumah nya masing-masing.


***


Jam makan malam pun datang, semua sudah berkumpul di Halaman belakang.


Feli dan Celin duduk santai saja karena mereka di larang keras oleh suami nya.


Sedangkan Bi Iyem yang membuat sambal nya.


Arya dan Pak Akbar membakar Ikan, sedangkan Denis dan Fatwa membakar Ayam.


"Bagaimana keadaan Restoran dan Caffe?" tanya Denis.


"Alhamdulilah lancar, Kak" jawab Fatwa.


"Ingat, jangan terlalu percaya selain dengan Romeo karena dia adalah Adik dari Raka. Kakak juga sudah menempatkan beberapa anak buah di dekat kalian" ucap Denis dengan pelan.

__ADS_1


"Aku tahu, Kak. Dan Kakak juga selalu waspada ya" balas Fatwa pelan juga.


Mereka memang sering berkomunikasi lewat telepon. Bahkan Fatwa selalu meminta pendapat tentang semua nya pada Raka atau Denis.


Hampir 1 jam lebih akhir nya semua matang, Feli langsung bertepuk tangan karena bahagia.


"Woahhh makan besar" pekik Feli dengan bahagia.


Denis tersenyum kecil dan juga langsung memberikan nya pada Feli.


Mereka lalu makan dengan hening, bahkan Bi Iyem pun ikut serta makan disana.


Feli dan Celin makan seperti anak kecil yang belum makan. Bahkan Arya pun hanya melongo melihat Bunda nya makan dengan lahap.


"Bunda enak ya?" tanya Arya.


"Hehe iya sayang" jawab Feli terkekeh.


Denis menggelengkan kepala dan membiarkan saja. Fatwa pun sama dengan Denis, ia hanya terkekeh melihat makan sang istri.


"Maklum ya, Bumil" kekeh Feli dan Celin.


"Makan saja yang banyak, Nyonya. Agar sehat babby dan Bunda nya" ucap Bi Iyem dengan tersenyum.


"Hehe iya, Bi" balas Celin.


Mereka kembali makan dengan fokus, bahkan Denis pun ikut senang melihat Feli dan Arya yang makan sangat lahap.


Di luar, anak buah Denis sedang melihat seseorang yang sejak tadi mengawasi rumah Fatwa.


Awalnya dia agak jauh tetapi saat akan malam tiba, dia semakin mendekat memantau nya.


"Bagaimana, Bos?" tanya Temannya.


"Biarkan saja dulu, kalau dia semakin berani baru kita sikat. Tetapi tetap pantau" jawab Tangan kanan Raka.


"Baik Bos" balas temannya. Lalu ia menyuruh anak buah nya yang lain untuk mengikuti orang tersebut.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2