
Saat ini mereka sangat sibuk, yang cowo sedang membakar beberapa Ikan, Ayam, Sosis dan yang lainnya.
Denis menyuruh Art nya untuk istirahat sejenak dan para penjaga tetap menjaga ke amanan di sekitaran sana.
Arya ikut membakar sosis dan bakso bersama dengan Ayah Adnan dan Pak Akbar.
Feli, Celin, Tari dan Monica sedang membuat bumbu untuk Ayam dan Ikan bakar nya. Sedangkan Bunda dan Budhe sedang menyiapkan Nasi liwet pesenan Feli.
Terlihat kebahagian terpancar dari wajah mereka, begitupun dengan Denis, meski ia orang yang sangat di segani di seluruh pelosok Dunia tetapi di depan keluarga ia akan tetap ramah dan hangat.
"Mas, telpon Raka suruh kesini" ucap Feli pada Denis.
"Itu ponsel nya kan di kamu sayang" balas Denis dengan tersenyum.
Feli membalasnya dengan cengengesan, lalu ia menelpon sang Asisten suami nya tersebut.
"Halo, Tuan" ucap Raka.
"Raka ini aku, Feli. Tolong kamu ke mansion ya sekarang dan tolong belikan beberapa snack, ice cream dan beberapa minuman dingin. Stok di mansion sedang habis" ucap Feli cepat.
"Baik Nyonya, saya sekarang kesana" balas Raka.
Setelah itu Feli menyimpan kembali ponsel suami nya. Ia melihat Arya yang sedang memakan sosis hasil bakarannya bersama sang Paman dan Ayah.
"Aku bahagia sekali Paman, aku bahagia melihat Paman bisa baik kepada aku dan Fatwa. Semoga saja kebahagian ini tidak hilang sekejap mata" batin Feli tersenyum.
Lalu Feli kembali membuat bumbu, ia saling menggoda dengan tawa yang lepas.
"Cie yang pada mau nikah" ledek Feli terkekeh.
"Iya dong, Kak. Kita juga kan ingin uwuan seperti Kakak" balas Celin dengan tawa renyah nya.
"Hahaha, nanti kalian ketagihan loh" ucap Feli kembali.
Tari dan Monica tertawa mendengar perkataan sang Kakak nya.
__ADS_1
"Gapapa dong, berarti itu sangat enak dan endol, Kak" balas Monica.
Hahaha, tawa mereka pecah dan membuat para lelaki menggelengkan kepala nya sambil tersenyum.
"Ada apa nih, tawa nya enak bener" ucap Bunda tersenyum.
"Ini Kak Feli ngolok kita yang mau nikah muda" balas Celin tersenyum.
"Bunda mau tanya pada kalian bertiga, boleh?" tanya Bunda Sonia.
"Boleh Bunda" jawab Tari yang di angguki oleh Celin dan Monica.
"Apa kalian tidak akan menyesal jika nikah muda, apalagi Fatwa, Rehan dan Azri masih muda bahkan mereka harus nya kuliah" ucap Bunda.
"Bagi kami kuliah atau tidak nya itu tidak jadi masalah, Bun. Kuliah bisa menyusul bahkan kita bisa sama-sama belajar berdua, dan kami juga menjauhi Fitnah dan dosa. Setelah menikah nanti, kami bisa mengembangkan usaha yang sedang mereka perjuangkan" jawab Celin tersenyum.
"Benar kata Celin, Bun. Apalagi kami bertiga ini hanya wanita biasa dan bahkan sekolah pun ya Bunda tau sendiri. Kami bisa di anggap dan di berikan kasih sayang seperti ini pun oleh mereka sangat bahagia, biarlah nanti kami sama-sama belajar" timpal Monica.
Tari menganggukan kepala saja, karena apa yang di katakan oleh Celin dan Monica semua nya benar.
Mereka menggelengkan kepala dan tersenyum. Dan memeluk Bunda Sonia bersamaan.
Hingga tak lama kemudian para lelaki bahkan Raka pun sudah ada disana menghampiri mereka, dan menata hasil bakarannya.
"Bunda aku mau bakar Ayam" ucap Arya antusias.
"Iya sayang, ayo sini duduk biar sama Bunda di siapkan dulu" balas Feli lembut.
Lalu mereka duduk bersama dan melingkar, di tengah-tengah nya ada nasi, ikan dan ayam bakar.
Feli memberikan beberapa ikan dan juga ayam pada Bi Surti buat para penjaga dan Art.
Arya makan dengan sendiri, ia tidak ingin di suapi sang Bunda karena sudah besar.
Sedangkan Feli, ia hanya mengangguk dan makan dengan lahap nya. Bahkan ia hampir menghabiskan 2 ekor ikan dan paha ayam.
__ADS_1
"Jangan buru-buru, masih banyak kok" ucap Denis tersenyum.
Feli tersenyum dan menganggukan kepala nya. Lalu ia kembali fokus pada makannya.
"Lapar ya, Nak?" tanya Pak Akbar pada Feli.
"Hehe iya, Paman. Dan ini itu sangat enak" jawab Feli tersenyum malu.
Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala saja.
Setalah selesai makan, mereka kembali duduk di gazebo dengan di temani banyaknya makanan ringan. Mereka menikmati udara malam hari dengan berbincang hangat.
"Bun, aku ke kamar dulu ya" pamit Arya.
"Ngantuk sayang?" tanya Feli lembut.
Arya mengangguk dengan mata sayu nya.
"Mau Bunda temani?" tanya Feli kembali.
"Enggak mau Bun, aku udah besar. Dah aku tidur duluan" jawab Arya lalu mengecup pipi sang Bunda dan pergi dari sana.
"Mau kemana dia?" tanya Denis
"Tidur, katanya uda ngantuk tapi gak mau di temenin" jawab Feli tersenyum.
"Yaudah biarin saja, cukup pantau saja" ucap Denis lembut.
Feli mengangguk dan kembali ikut menimpali obrolan yang lainnya.
.
.
.
__ADS_1