
Berita Feli yang sudah sadar sampai di Nyonya Maya. Nyonya Maya langsung saja pergi ke Rumah sakit bersama dengan Cucu kesayangannya.
"Oma, apa kita akan bertemu Onty cantik?" tanya Arya dengan gemas.
"Iya sayang, kita akan bertemu dengannya karena Onty cantik nya sudah bangun" jawab Nyonya Maya.
"Wahh benarkah, Oma?" tanya Arya antusias.
"Iyaa sayang, kita beli buah-buahan dulu buat Onty nya ya" ucap Nyonya Maya.
Arya mengangguk patuh, di perjalanan Nyonya Maya membeli buah terlebih dulu agar tidak kosong tangan.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Arya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Feli.
Sedangkan di Rumah sakit, Raisa tidak bisa jauh dari Feli. Ia sangat bahagia mendengar bahwa Feli sudah sadar.
"Kamu mau apa?" tanya Raisa
"Aku mau ke kamar kecil, Mbak" jawab Feli sedikit malu.
"Yaudah Mbak bantu ya, kamu jangan sungkan , Dek" ucap Raisa lembut.
Feli mengangguk dengan tersenyum, lalu ia di bantu Raisa ke kamar kecil.
Saat ini sedang jam makan siang, jadi Raisa , Rizik dan Adnan berkumpul di ruangan Feli. Sekalian mereka akan melihat keadaan Feli.
"Apa Fatwa belum pulang?" tanya Rizik
"Belum, dia pulang nya nanti sore. Biarkan saja, biar dia terkejut" jawab Budhe terkekeh.
"Pasti dia sangat bahagia melihat Kakak nya sudah sadar. Bahkan 2 hari lagi bisa pulang" ucap Dokter Adnan.
Ceklek.
Feli dan Raisa keluar dari kamar kecil.
"Mbak, aku mau duduk dong. Pegel tiduran mulu" ucap Feli dengan tatapan memohonnya.
"Tapi jangan terlalu lama" balas Dokter Rizik tegas.
"Nah denger tuh" ucap Raisa terkekeh.
"Hehe iyaaaa Dokter" sahut Feli tertawa kecil.
Mereka duduk dengan melakukan makan siang bersama. Mbak Sonia sengaja membawa makanan agar mereka bisa makan siang bersama.
Setelah selesai, Feli kembali lagi ke ranjang pasiennya. Dan Raisa, Rizik serta Dokter Adnan sudah bersiap untuk kembali bertugas.
"Kami kembali kerja dulu, nanti biar Aku dan Raisa yang menjaga Feli. Budhe dan Bunda serta Fatwa pulang ya" ucap Rizik dengan terkesan tidak ada penolakan.
"Iyaaa, sana pergi cari uang ya" goda Mbak Sonia terkekeh.
"Yaampun Bundaaa" gemas Dokter Adnan.
Lalu mereka pergi dengan senyuman yang melekat di wajah nya.
"Budhe, tolong buah itu kemarikan" ucap Feli sopan.
"Biar Budhe kupasin ya" tawar Budhe.
__ADS_1
"Tidak usah Budhe, aku bisa sendiri kok. Biar tangannya gak terlalu kaku" tolak halus Feli.
"Yasudah, kalau butuh apa-apa panggil kami. Kami rebahan di sofa" ucap Budhe tersenyum lembut.
Feli mengangguk dengan patuh. Lalu ia mulai mengupas jeruk, apel dan pir. Ia merasa bosan jadi memilih ngemil buah saja.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan nampak lah seorang Anak lelaki yang sangat tampan.
"Selamat siang, Onty" sapa Arya dengan girang.
Feli tersenyum dengan sangat manis, ia melambaikan tangannya pada Arya.
"Loh sama siapa kamu kesini, Nak?" tanya Budhe dengan lembut.
"Sama Oma dan Ayah, tetapi mereka sedang bersama Dokter dulu" jawab Arya semangat.
Langkah kaki mungil nya ia lajukan menuju ranjang Feli. Dengan gemas nya ia berusaha naik ke atas ranjang.
"Yaampun sayang , sebentar Kakak bantu ya" ucap Feli dengan lembut.
"Gak usah, Onty. Aku ini anak cowo jadi aku harus bisa sendiri" balas Arya dengan cepat.
"Nah kan bisaaaaa" senang Arya dengan tersenyum.
Lalu Arya memeluk Feli dengan erat. Ia bahagia malaikat penolong nya sudah bangun.
"Kamu masih ingat dengan Tante?" tanya Feli lembut.
"Masih dong, aku selalu ingat Onty baik" jawab Arya dengan nada khas anak-anak.
"Yaampun kamu gemesin banget sih, Nak" kekeh Feli dengan gemas.
Sedangkan Budhe dan Mbak Sonia sudah menahan senyum melihat kelakuan Arya pada Feli.
"Boleh sayang, mau buah apa?" tanya balik Feli.
Dengan gerakan malu Arya menunjuk buah mangga yang ada disana.
Dengan telaten Feli langsung mengupas dan memotongnya jadi kecil.
"Yaampun lucu sekali, hahaha" tawa Budhe pecah di ikuti oleh Mbak Sonia.
Sontak Arya langsung menyembunyikan wajah nya di pelukan Feli.
"Ishhh Omaaaa aku malu" teriak Arya dengan kesal.
Feli dan yang lainnya langsung tertawa dengan tingkah Arya.
"Ontyyyyyy jangan ketawa" kesal Arya yang masih sembunyi di pelukan Feli.
Ceklek.
"Loh Arya kenapa?" tanya Denis khawatir.
Arya langsung mendongkak dan menatap sang Ayah dengan wajah yang sebal. Tetapi detik kemudian tangan mungil nya mengambil buah mangga yang ada di dekat Feli.
"Aihhh HAHAHA" tawa Budhe dan Mbak Sonia kembali terdengar.
__ADS_1
Sedangkan Denis dan Nyonya Maya terlihat kebingungan.
"Ihhhh kenapa ketawa terus, diem napaaaa Oma Oma" cebik Arya dengan mulut penuh makanan.
"Ada apa ini?" tanya Nyonya Maya.
"Ini loh May, Cucu mu menggemaskan sekali" jawab Budhe dengan menceritakan semua nya.
Sontak saja Denis dan Nyonya Maya tertawa. Sedangkan Arya kembali kesal dan memeluk kembali Feli.
Hiks Hiks.
"Ehhh" kaget Feli dengan melihat Arya.
"Loh kok nangis sayang" ucap Feli lembut.
Denis dan yang lainnya langsung terdiam dan melihat Arya yang sedang menangis sambil memeluk Feli.
"Hiks, aku kan ingin buat Onty ketawa kenapa malah para Oma yang ketawa" ucap Arya dengan terisak.
"Kan Onty juga udah ketawa sayang, sini lihat jangan nangis lagi ya" bujuk Feli dengan lembut.
"Tapi jangan di ketawain lagi, aku malu" cicit nya dengan lirih.
Hampir saja tawa para Oma pecah kembali jika tidak mereka menahannya. Sedangkan Denis sudah tersenyum menggelengkan kepala.
"Gak kok, suapin Onty buah ya" ucap Feli dengan tersenyum lembut.
"Okeee" balas Arya semangat.
Denis menghampiri dan duduk di kursi dekat ranjang Feli. Sedangkan yang lainnya keluar dari ruangan tersebut.
"Sayang, kamu duduknya di bawah ya. Kasihan Onty nya kan baru sembuh" ucap Denis lembut.
Arya langsung duduk di samping Feli dan menguapi Feli dengan buah yang sudah di potong oleh Feli.
"Maafin Arya ya" ucap Denis dengan tatapan lembut nya.
"Tidak apa Tuan, saya tidak keberatan kok. Malah saya senang" balas Feli tersenyum.
"Yaampun senyumnya" batin Denis.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya Denis
"Alhamdulillah sudah mendingan, tinggal pemulihan saja dan boleh pulang" jawab Feli sopan.
"Ohh iya jika kamu sudah sembuh, kamu mau kerja dengan saya tidak? Jadi babbysitter nya Arya" tawar Denis dengan yakin.
"Emang boleh?" tanya Feli dengan berbinar.
"Boleh kalau kau mau" jawab Denis lembut.
"Aku mau , tapi mungkin masih lama kerja nya. Soalnya kalau belum pulih saya gak bakalan diizinin kerja" ucap Feli lirih.
"Tidak apa, bagaimana siap nya kamu saja" balas Denis tersenyum.
Lalu mereka tampak akrab walau Feli masih terasa canggung. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
.
__ADS_1
.
.