
Setelah di nyatakan sehat, Feli akhir nya bisa pulang nanti sore.
"Kenapa gak sekarang saja sih pulangnya, Mas?" tanya Feli cemberut.
"Kita turuti kata Dokter ya, sayang. Demi kesehatan kamu dan Baby" jawab Denis lembut.
"Iya Bunda, Bunda besok aku sekolah nya di antar Mbak ya. Kalau Bunda sudah sehat dan perutnya udah agak besar baru sama Bunda lagi" ucap Arya memeluk sang Bunda.
"Loh kok gitu, sayang?" tanya Feli.
"Aku gak mau Bunda lelah dan Bunda sama Dede nanti sakit" jawab Arya lesu.
Feli tersenyum sambil memeluk putra nya lembut.
"Anak Bunda ternyata sudah besar ya. Baiklah, tapi kalau sesekali nganter gak papa ya, Bang?" tanya Feli lagi.
"Seminggu sekali" tegas Arya.
Denis tersenyum melihat interaksi mereka, bahkan Denis sangat terharu melihat ke antusiasan Arya saat mendengar Bunda nya hamil.
"Baiklah Tuan muda" pasrah Feli dengan mengecup pipi Arya.
Feli menatap suami nya dengan penuh senyuman yang sangat manis.
"Kenapa sayang?" tanya Denis.
"Emm aku ingin ice cream" lirih Feli malu.
"Bunda kebetulan bawa, tadi Arya ingin ice cream jadi beli 3" ucap Bunda Sonia memberikan ice cream tersebut.
Feli menerima nya dengan semangat, Arya langsung beringsut pindah duduknya. Ia tersenyum melihat ke antusiasan sang Bunda.
***
(Kita ke pasangan Fatwa dulu)
Fatwa dan Celin langsung pergi dari Hotel setelah melakukan CekOut. Mereka akan pulang ke rumah yang sudah di siapkan oleh Fatwa.
__ADS_1
"Bang, kita akan kemana sekarang?" tanya Celin yang bingung dengan arah jalan nya.
"Kamu duduk saja ya, Abang punya kejutan buat kamu" jawab Fatwa tersenyum.
Celin menatap nya dengan bingung tetapi ia memilih untuk tetap diam saja.
Hingga tak lama kemudian mereka sampai di depan gerbang Rumah bertingkat 2.
"Bang, Rumah siapa ini?" tanya Celin dengan was-was.
"Ayo masuk dulu" ajak Fatwa.
Celin mengikuti langkah Fatwa dengan meringis sakit, ia masih merasakan sakit di area sensitif nya.
"Masih sakit, ya?" tanya Fatwa
"Gak kok Bang, ayo jalan lagi tapi pelan-pelan ya" jawab Celin lembut.
Fatwa mengangguk dan merangkul bahu sang istri. Mereka lalu masuk ke dalam Rumah yang sudah di buka oleh Fatwa.
Celin menatap suami nya dengan tatapan bingung, ia meminta jawaban dari suami nya.
"Ini adalah hadiah dari aku buat kamu, sayang. Kita akan tinggal disini bersama anak-anak kita kelak" ucap Fatwa lembut.
"Kapan kamu nyiapin ini, Mas?" tanya Celin
"Sejak aku mengatakan akan serius dan menikahi mu, apa kamu suka?" tanya Fatwa mengusap pelan pipi Celin.
"Terimakasih, Kamu bujuk Bapak untuk tinggal disini ya. Aku merasa akan sepi jika kita tinggal berdua. Lagian di belakang ada halaman yang bisa di buat berkebun kan" ucap Celin dengan tersenyum.
"Kita tinggal menjemput Bapak kok, aku udah bujuk Bapak dan dia mau" balas Fatwa lembut.
Celin langsung memeluk sang suami dengan erat, ia sangat bahagia dengan semua ini.
Fatwa lalu mengajak Celin untuk berjalan-jalan dan melihat semua bagian Rumah tersebut. Hingga mereka memutuskan untuk istirahat dulu sebelum ke Mansion Denis nanti sore.
Mereka akan menyambut kedatangan Feli dengan Bu Maya yang memang sudah pulang tadi pagi.
__ADS_1
Feli tidak tahu bahwa sang mertua sudah pulang sejak mendengar kabar bahagia tersebut.
Sore hari nya, di Mansion Natakusuma sudah berkumpul keluarga dan teman-teman Feli.
Mereka akan membuat kejutan untuk Feli, karena tepat hari ini juga dia akan berulang tahun.
Bahkan Denis sampai menyewa orang untuk mendekor setiap sudut di rumah nya.
Raka, dia adalah orang yang paling sibuk sejak tadi. Bahkan dia sendiri yang turun tangan untuk membeli semua pesanan dari sang Tuan.
Bu Maya, Budhe dan wanita lainnya sudah sejak pagi sibuk dengan Cake, makanan , dan yang lainnya.
Untuk para lelaki sedang sibuk dengan membantu mendekor.
"Yaampun pengantin baru" pekik Rizik dengan terkekeh.
"Apa" kesal Fatwa saat Rizik akan menggoda nya lagi.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa saja, Celin langsung ikut bergabung bersama yang lainnya di dapur.
"Bunda" panggil Celin dengan cengirannya.
"Hei pengantin baru" olok Tari dengan terkekeh.
Celin mendengus dan berjalan menuju ke arah Bunda dan yang lainnya.
"Jalan kamu kenapa, Cel? Fatwa gak kasar kan" celetuk Raisa dengan menahan tawa nya.
"Gak suami gak istri, sama-sama nyebelin" kesal Celin dengan kelakuan Rizik dan Raisa.
Tawa mereka pecah dengan sangat membahana di dapur, mereka terus saja mengolok dan menggoda Celin yang terlihat kesusahan berjalan.
.
.
.
__ADS_1