
Saat siang hari nya, semua sudah bersiap untuk pulang. Begitupun dengan Raisa dan Rizik, mereka akan kembali ke Jakarta.
Pernikahan mereka akan di langsungkan sekitar 2 bulan lagi dan mereka akan menikah di Desa dimana tempat lahir nya Rizik.
Sepanjang perjalanan pulang Fatwa maupun yang lainnya sudah terlelap, mereka merasa lelah jadi semua nya terlelap.
Berbeda dengan Feli, dia masih terjaga dan melihat pemandangan di luar kaca mobil.
"Besok sebelum kerja , aku akan ke makam Ayah dan Ibu dulu. Rasanya aku sudah rindu dengan mereka" batin Feli sendu.
"Fel, gak tidur" tegur Pak sopir.
"Ehh tidak Pak, lagi nikmatin pemandangan" jawab Feli ramah.
"Tidur saja, perjalanan masih jauh. Mungkin kau juga harus menginap di Rumah Ibu nanti malam. Soalnya kita pasti akan sampai larut di Desa" ucap Pak sopir.
"Tidak apa, Pak. Aku belum ngantuk jadi masih melek begini, hehe" balas Feli cengengesan.
"Yaudah atuh" pasrah sang Sopir.
Lalu Feli menatap keluar jendela lagi, ia masih memikirkan ucapan Raisa yang semalam.
"Apa benar Paman dan Bibi belanja, kenapa mereka setega itu sama Fatwa. Padahal Fatwa itu anak kandung nya, apa jangan-jangan Bibi dan Paman habis dari Rumah Bude. Kalau benar berarti mereka habis ngambil warisan, aku akan tanyakan nanti" batin Feli menerka-nerka.
Yap, Feli tahu tentang warisan tersebut karena Bude nya yang ada di Kota pernah bilang pada diri nya saat di pemakaman Ayah dan Ibu nya.
"*Kalau benar, berarti Ayah juga seharus nya dapat. Syukurlah uang itu akan aku tabungkan buat kuliah nanti" batin nya kembali dengan tersenyum.
"Tapi bagaimana kalau mereka tidak mau memberikannya. Ayah apa yang harus Feli lakukan, Feli tidak mungkin memaksa mereka memberikannya" batinnya lagi*.
Feli terus saja merenung dengan menyenderkan kepala nya ke belakang. Ia sudah beberapa kali menghela nafas kasar.
Lalu Feli meneguk air minum yang sejak tadi ia pegang. Ia merasa sangat gusar memikirkan semua kerumitan yang di jalani nya.
Tak terasa akhir nya mata Feli terpejam saat ia merasakan pusing di kepala nya. Ia memilih memejamkan mata nya agar pusing nya hilang.
***
Malam sudah sangat larut, tetapi Paman Akbar baru saja pulang dari tempat haram.
"Sial aku kalah, tapi besok harus menang dari si bandot Tua itu" gumam Paman Akbar dengan yakin.
Ia melangkah kan kaki nya masuk ke dalam Rumah. Setelah itu, ia langsung saja masuk ke dalam kamar nya.
Disana , Bibi Laura sudah tertidur dengan pulas nya. Ia tidak sadar bahwa sang suami sudah pulang.
Paman Akbar memejamkan mata dan terlelap bersama dengan sang Istri.
__ADS_1
Sedangkan di Rumah Bu Rt, rombongan tersebut baru saja tiba di Rumah mewah tersebut.
"Yaampun lelah sekali" keluh Sonia dengan meregangkan tangannya.
"Oh iyaa , Feli dan Fatwa nginap saja disini dan besok baru pulang" ucap Sonia
"Baik Mbak, kalau begitu kami langsung ke belakang" pamit Feli.
Feli membawa Fatwa ke kamar yang ada di belakang, memang disana Feli memiliki kamar yang berdampingan dengan kamar Bik Surti.
"Baru nyampe, Fel" tegur Bik Surti yang baru keluar dari Rumah utama.
"Ihh yaampun Bibi, kaget aku" seloroh Fatwa dengan mengusap dada.
"Hehe makannya mata di buka dulu, ini jalan sambil tidur begitu" ucap Bik Surti.
"Ngantuk Bi, aku duluan ya ke kamar Kakak" pamit Fatwa.
"Yaudah sana" ucap Feli tersenyum.
Lalu Feli membantu Bik Surti membawa beberapa barang dari dalam mobil. Setelah itu, mereka langsung berjalan ke kamar belakang.
"Sana istirahat" ucap Bik Surti
"Hmmm, Bibik juga" balas Feli tersenyum.
Bik Surti hanya mengangguk dan membiarkan Feli terlebih dulu masuk ke dalam kamar. Lalu setelah itu baru dia yang masuk ke kamar.
Feli sengaja membiarkan Fatwa tertidur di atas kasur sendirian , karena Fatwa tidak akan biasa jika ada orang di sebelah nya.
Mereka terlelap dengan nyaman nya karena memang mereka merasa sangat lelah dengan perjalanan pulang tadi.
***
Pagi hari nya, Feli sudah terbangun dan langsung saja membantu pekerjaan Bik Surti.
"Fel, sudah sana pulang saja. Kamu libur hari ini" ucap Bik Surti.
"Iyaa Bik, tapi setelah selesai masak ya" balas Feli tersenyum.
"Yasudah, biar Bibik ngerjain yang lainnya" ucap Bik Surti
Lalu Feli mengangguk patuh, ia langsung saja memasak dengan semangat. Meski tubuh nya juga merasa sangat lelah.
Setelah selesai berkutat ia memutuskan kembali ke kamar.
"Sudah bangun, Dek. Ayo bersiap kita akan pulang" ucap Feli dengan lembut.
__ADS_1
"Iyaa Kak, aku udah siap kok" balas Fatwa.
Lalu Feli membereskan semua nya dan langsung bergegas pulang. Ia sudah menitipkan pesan pada Bik Surti kalau Bu Rt sudah pada bangun.
"Mau pulang, Fel" sapa satpam dengan ramah.
"Iyaa, Pak. Mari saya duluan" balas Feli dengan ramah.
"Hati-hati" ucap satpam tersebut.
Sedangkan Feli hanya menganggukan kepala saja tanda 'Iya'.
Feli dan Fatwa berjalan kaki menuju ke Rumah nya. Meskipun ada angkutan umum tapi mereka memilih jalan kaki saja.
"Kak, apa Bapak dan Ibu ada di Rumah ya?" tanya Fatwa
"Mungkin ada, pasti mereka sudah pulang dari Kota nya" jawab Feli dengan lembut.
Fatwa hanya diam saja dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Sesampai nya di Rumah, mereka melihat Bapak dan Ibu Fatwa ada di depan teras. Mereka sedang duduk dengan memamerkan perhiasan sang Ibu.
"Ahh kalian sudah pulang, bawa oleh-oleh gak? Ohh iya Fel, sana masak kami sudah lapar" ucap Bi Laura dengan sangat enteng.
"Baik Bi" patuh Feli
Sedangkan Fatwa hanya menatap tajam sang Ibu. Lalu ia melihat beberapa perhiasan yang baru di tangan Ibu nya.
"Bu, aku besok ada test untuk ke SMA, aku minta uang ya. Soalnya uang Kak Feli habis buat kemarin wisuda aku. Kalian jangan pelit nanti rezeki nya seret" celetuk Fatwa dengan berjalan ke dalam.
"Hei anak durhaka dasar" teriak Bi Laura dengan kesal.
Lalu Fatwa melangkahkan kaki nya ke dapur, ia akan membantu sang Kakak memasak.
"Kak, biar aku bantu saja" ucap Fatwa.
"Yaudah nih, kamu potong-potong nanti biar Kakak yang masak nya. Kakak mau lihat nasi nya dulu" titah Feli dengan lembut.
"Oke" balas Fatwa dengan semangat. Fatwa memotong dengan sangat ahli, bahkan lelaki remaja itu tidak takut tangannya tergores.
Fatwa langsung saja memasak menu tersebut, ia tahu bahwa Feli sedang kelelahan. Fatwa terus saja bergelut dengan wajan dan spatula.
Sedangkan Feli, memasak nasi dan juga membersihkan bekas makan semalam Paman dan Bibi nya.
"Ahh yaampun, bisa-bisa aku sakit kalau terus begini. Mana rasanya semua badan ngilu gini" batin Feli dengan menghela nafas lelah.
.
__ADS_1
.
.