
Selama di perjalanan Feli maupun yang lainnya sama-sama diam. Apalagi Feli, ia sudah terlelap di pelukan Denis. Sedangkan Arya, ia duduk di pangkuan Celin.
"Nanti kita berhenti untuk makan siang ya, Fat" ucap Denis.
"Iyaa Kak, apa Kak Feli sudah tenang?" tanya Fatwa
"Sudah, dia sudah terlelap. Dia sangat bergetar takut" jawab Denis menghela nafas.
"Aku juga tidak tahu bahwa Kakak trauma, aku juga kaget melihat nya begitu" ucap Fatwa.
"Ayah, emang Bunda kenapa?" tanya Arya.
"Tidak apa, Bunda sedang sakit saja. Jangan ganggu dulu ya" jawab Denis lembut.
"Iyaa Ayah" patuh Arya dengan menganggukan kepala nya.
***
Malam hari nya, Feli dan yang lainnya langsung saja menuju ke mansion Denis. Awal nya Fatwa menolak tetapi Denis dengan tegas melarang mereka pulang ke Rumah nya apalagi kondisi Feli drop.
Tubuh Feli mendadak panas bahkan Feli sering mengigau di sepanjang perjalanan.
"Ayo cepat masuk , Dokter Adnan dan Rizik sudah menunggu" ucap Bu Maya dengan khawatir.
__ADS_1
Denis langsung menggendong tubuh Feli sedangkan Fatwa menggendong Arya.
Denis dengan langkah cepat langsung membawa nya masuk ke dalam.
"Ayo cepat baringkan disana" ucap Dokter Adnan dengan menunjuk karpet dengan bulu tebal di dekat sofa.
Denis langsung membaringkan nya dan menatap nya dengan penuh khawatir.
"Tenanglah, kita akan melakukan yang terbaik untuk nya" ucap Rizik menepuk pundak Denis.
"Aku takut Feli kenapa-napa, Zik. Soal nya dia dari tadi terus meracau dan badannya panas" balas Denis dengan raut wajah penuh ke khawatiran.
Sedangkan Fatwa hanya fokus menatap Dokter Adnan yanh sedang mengecek kondisi sang Kakak.
"Kita harus segera membuat janji dengan Dokter Ine, Tuan. Dia adalah Dokter fsikolog terbaik di Rumah sakit kita" ucap Dokter Adnan.
"Zik, buatkan janji secepat mungkin dan harus siap besok pagi" ucap Denis tegas.
Rizik mengangguk dan langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi pihak Rs.
Fatwa langsung menunduk dan meneteskan air mata, ia merasa sangat gagal menjaga sang Kakak.
"Tenanglah, Kak Feli akan baik-baik saja" ucap Celin mengusap lembut pundak Fatwa.
__ADS_1
Fatwa menatap Celin dengan menganggukan kepala nya. Ia lalu menatap lagi sang Kaka yang sedang tertidur dengan tenang karena sudah di beri obat penenang.
Denis lalu mengangkat tubuh Feli dan membawa nya ke kamar pribadi nya sendiri.
"Fat kamu tidur di kamar tamu saja dan kamu Celin tidur dengan Arya ya" ucap Denis
Fatwa dan Celin mengangguk patuh saja, lalu mereka bubar ke kamar masing-masing. Sedangkan Bu Maya, ia masih disana dengan Dokter Adnan.
"Bagaimana Adnan?" tanya Bu Maya sendu.
"Tenanglah Nyonya, semua nya baik-baik saja kok. Hanya perlu di bantu Dokter Ine saja, saya rasa Feli habis bertemu dengan Paman atau bibi nya jadi baru sekarang terlihat trauma nya" jawab Dokter Adnan.
"Iyaa Ayah, Feli dan Fatwa pergi mengunjungi Paman nya di kantor polisi. Bahkan Feli sempat menahan trauma nya dengan mati-matian" ucap Rizik yang baru bergabung.
"Untuk Dokter Ine, dia akan langsung terbang kemari untuk menangani nya" ucap nya lagi.
"Yasudah, kalian menginap disini saja" balas Bu Maya.
"Baik Nyonya, Nyonya juga silahkan istirahat" ucap Dokter Adnan.
Bu Maya mengangguk dan berdiri dari duduk nya. Baru setelah itu Rizik dan Ayah nya mengikuti berdiri.
Mereka lalu istirahat terlebih dulu agar besok bisa langsung berangkat ke Rumah sakit pagi-pagi sekali.
__ADS_1
.
.