
Pagi-pagi sekali Denis , Feli dan Arya sudah pulang dari Rumah Fatwa. Denis buru-buru pulang karena ada masalah di perusahaan.
"Mas, sebenar nya ada apa?" tanya Feli penasaran.
"Ada masalah di perusahaan, sayang. Seperti nya ada yang mencoba berkhianat di dalam kantor" jawab Denis berusaha santai.
Feli menyentuh tangan Denis dengan lembut, lalu membawa nya ke perut buncit diri nya.
"Ayah semangat terus ya, Adek dan Abang selalu bersama Ayah" ucap Feli dengan nada anak kecil.
Arya pun ikut mengecup pipi sang Ayah.
"Iya Ayah, Ayah jangan terlalu lelah juga ya" timpal Arya dengan lembut.
"Kalian memang penyemangat, Ayah" ucap Denis terharu.
Feli tersenyum dan mengecup pipi sang suami, ia merasa bahwa masalah kali ini sangat serius.
Setelah setengah perjalanan, Feli merasa sangat pegal karena duduk terus.
"Kita berhenti dulu ya" ucap Denis lembut.
"Gak usah, Mas. Terus saja toh sebentar lagi juga sampai" balas Feli tersenyum.
Denis menepikan mobil nya di dekat warung yang agak teduh.
"Sebentar saja disini ya, Mas tahu kamu pegal kan" ucap Denis mengusap lembut kepala Feli.
Feli hanya pasrah, lalu mereka keluar sebentar dan duduk di kursi yang memang sudah di sediakan oleh orang warung.
Di depan dan belakang mobil mereka sang pengawal pun ikut berhenti tetapi tidak terlalu dekat.
"Mas, suruh Boy yang nyetir" ucap Feli.
"Gak boleh nolak, ayo telpon" tegas Feli. Ia kasihan melihat wajah lelah dan penuh pikiran sang suami.
Denis mengangguk patuh, lalu ia menelpon sang pengawal untuk menghampiri mereka.
"Bunda pengen itu" ucap Arya menunjuk jajanan yang ada disana.
__ADS_1
"Itu Bakso sayang, mau?" tanya Feli
Arya mengangguk dengan semangat, lalu Feli memesan 2 mangkok Bakso disana.
"Mas, kita berdua ya makannya" ucap Feli dengan antusias.
"Iya sayang" balas Denis tersenyum.
Sedangkan Arya, ia memilih makan dengan sendiri nya karena ia merasa sudah besar.
Setelah merasa cukup beristirahat, mereka memutuskan kembali melanjutkan perjalanan.
Arya duduk di depan karena sang Bunda dan Ayah duduk di belakang.
"Abang kenapa gak duduk disini, saja?" tanya Denis.
"Aku disini saja, Yah" jawab Arya santai.
Feli terkekeh dan merebahkan kepala nya di dada sang suami. Ia selalu nyaman jika berdekatan dengan Denis.
"Ngantuk?" tanya Denis mengusap kepala Feli.
"Huummm" jawab Feli dengan anggukan.
*
Pas jam makan siang Denis tiba di perusahaan. Dia terlebih dulu mengantarkan Feli dan Arya ke mansion.
Denis masuk dengan aura yang sangat menakutkan bagi seluruh karyawan, apalagi saat melihat wajah dingin , datar dan garang nya yang sedang menahan emosi.
"Selamat datang Tuan" ucap Raka dan Winda.
Lalu Denis dan Raka masuk ke dalam ruangan CEO. Denis langsung menghempaskan tubuh nya di kursi kebesarannya.
"Ini Tuan" ucap Raka dengan memberikan berkas pada Denis.
Lalu Denis membuka dan membaca nya dengan teliti.
"Berani sekali dia, apa dia tidak tahu bahwa dulu Kakak nya adalah orang kepercayaan kita yang tidak akan membuat masalah sekecil apapun" geram Denis membanting berkas tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menyelidiki nya?" tanya Denis.
"Sudah Tuan, ternyata dia bekerja sama dengan suami Nyonya Zia. Bahkan dia di bayar dengan kenikmatan" jawab Raka dengan datar.
"Panggil Dewi ke kantor" perintah Denis.
Raka mengangguk dan langsung menelpon seseorang lewat ponsel pribadi nya.
"Dan panggilkan wanita bo*oh itu" ucap Denis.
Raka berjalan ke luar dan membawa orang yang di perintahkan oleh Tuan Muda nya.
"Winda" bentak Denis dengan nafas yang sudah tidak teratur.
"Berani sekali kau mencuri uang perusahaan yang sangat banyak, apa kamu sadar dengan yang kamu lakukan?" bentak Denis dengan penuh emosi.
Sedangkan Winda, ia sudah bergetar karena takut. Ia tidak mengira akan ketahuan sama Tuan nya.
"Sa saya tidak mengerti, Tuan" elak Winda dengan gugup.
Brak.
"Jangan pura-pura tidak tahu, aku tahu semua nya Winda. Kamu dengan berani nya memberikan uang perusahaan ini pada Samuel" geram Denis.
Winda langsung berlutut dan memohon ampun. Ia sudah sangat pasrah karena mengelak pun ia tidak akan bisa.
"Kau tahu, Kakak kamu itu adalah orang kepercayaan saya. Dan kamu juga sudah saya anggap orang kepercayaan saya, tetapi dengan hebat nya kamu malah mengkhianati saya" bentak Denis dengan lantang.
"Hiks maafkan saya Tuan, saya salah" ucap Winda dengan tercekat.
Bugh.
"Sudah begini kau baru minta maaf" bentak Raka yang sudah sangat geram.
"Kau ini hanya sekertaris sementara Kakak kamu melahirkan, Winda. Dan dengan entengnya kamu mencuri uang perusahaan" teriak Denis dengan lantang.
Tubuh Winda bergetar hebat, ia sangat takut melihat wajah murka Denis. Bahkan ia merasa lemas kaki nya sekarang.
.
__ADS_1
.
.