
Setelah acara semalam, Arya semakin lengket pada Feli. Bahkan ia selalu saja menangis jika bangun tidur tidak ada Feli di samping nya.
Hari ini Feli sudah resmi keluar dari pekerjaan nya, tetapi ia akan selalu bersama Arya.
"Kak" pekik Fatwa dengan nyaring.
"Yaampun Fatwa, kenapa sih teriak-teriak" kesal Feli dengan menghampiri Fatwa.
"Hehe, ayo kita ke Desa. Aku rindu dengan Bu Rt dan yang lainnya" ajak Fatwa semangat.
"Ck, bilang saja kalau mau pamer bahwa kamu sudah punya kekasih" sengit Feli.
Glek.
"Si siapa yang punya kekasih" elak Fatwa dengan gugup.
"Hei kau anak kecil, emang Kakak ini bodoh hahhh. Lalu siapa yang selalu mojok berdua dengan Celin kalau bukan kamu" ucap Feli dongkol.
"Maaf, tapi aku fokus kok dan gak ngapa-ngapa in" balas Fatwa cepat.
"Kakak hanya tidak ingin kamu menyakiti nya, dia gadis baik, Dek. Jika memang kalian menjalin hubungan pun Kakak tidak akan marah" ucap Feli dengan lembut.
Fatwa mengangguk dan memeluk sang Kakak. Mereka jarang sekali duduk bersama di Pagi hari seperti ini.
"Hmmm, gapapa kalau aku nikah muda?" tanya Fatwa.
"Terserah kamu, kamu sudah mau lulus dan bahkan punya usaha sendiri. Kakak hanya berpesan agar kamu tidak mudah emosi, renungkan dan tanya secara baik-baik jangan asal marah" jawab Feli tersenyum.
"Apakah Celin tahu tentang Ibu?" tanya Feli.
"Tau, aku sudah menceritakan semua nya. Bahkan pernah beberapa kali Ibu datang ke Cafe dengan lelaki lain. Aku mengira Ibu akan berubah, tetapi kenyataannya tidak. Dan aku ingin sekali menemui Bapak, Kak" jawab Fatwa.
"Weekend besok kita akan ke Desa, ajak lah Celin" ucap Feli
Dengan penuh semangat Fatwa cepat mengangguk dan kembali memeluk sang Kakak.
"Apakah Kak Denis akan ikut?" tanya Fatwa setelah melepaskan pelukannya.
"Ikut, kami akan mengunjungi makam Ayah dan Ibu" jawab Feli.
"Berbahagia lah Kak, karena sudah saat nya Kakak bahagia. Jangan pikirkan aku, karena aku juga akan bahagia" ucap Fatwa bijak.
"Jangan pernah membenci Bapak dan Ibu-mu, mereka begitu pasti karena sesuatu. Berdo'a lah agar mereka cepat sadar dan kembali ke jalan benar" ucap Feli dengan lembut.
"Aku tidak membenci mereka Kak, aku hanya kecewa saja" balas Fatwa sendu.
"Jika Kakak sudah menikah, suruhlah Celin dan Tari tinggal disini. Kamu dan yang lainnya di Cafe, Kakak selalu Khawatir jika mereka nge-kost" ucap Feli.
"Iyaaa Kak, tapi jika aku menikah dengan Celin. Rumah ini akan Renov gapapa?" tanya Fatwa.
"Terserah kamu, Dek" jawab Feli.
"Tunggu sebentar disini" ucap Fatwa.
__ADS_1
Lalu Fatwa bangun dan berjalan ke arah kamar nya. Sedangkan Feli, ia menatap nya dengan bingung.
Tak lama kemudian Fatwa kembali keluar dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ini hadiah buat Kakak, aku sengaja mengumpulkannya agar sebelum Kakak menikah kita akan liburan bersama" ucap Fatwa memberikan kotak pada Feli.
"Apa ini, Dek?" tanya Feli.
"Buka saja , Kak" jawab Fatwa.
Feli lalu membuka nya, sekejap kemudian dia menatap Fatwa dengan mata berkaca-kaca.
"Beneran?" tanya Feli.
"Iyaa, setelah dari Desa kita akan liburan ke Paris sesuai keinginan Kakak. Bukan hanya kita saja, tetapi keluarga Bunda, Kak Denis dan karyawan Caffe. Kita akan pergi bersama" jawab Fatwa dengan tersenyum.
"Terimakasihhh" ucap Feli dengan wajah bahagia nya.
Fatwa mengangguk dan membalas memeluk sang Kakak.
***
Hari yang di tunggu pun akhir nya tiba, dimana saat ini, Feli dan Fatwa sedang menyiapkan beberapa bekal makanan untuk di jalan menuju Desa.
Hari ini mereka akan ke Desa bersama dengan Celin, Denis dan Arya.
"Lin, tolong siapkan barang Abang ya" ucap Fatwa cengengesan.
"Udahh, Bang. Sono mandi dulu saja biar aku yang beresin ke depan" balas Celin tersenyum.
"Fatwaaaaaa" pekik Feli.
Fatwa langsung saja berlari karena sang Kakak pasti akan mengamuk. Sedangkan Celin hanya menunduk malu.
Feli dan Celin langsung saja membereskan semua nya dan membawa nya ke depan.
"Bundaaaaa" teriak Arya yang baru saja sampai dengan Denis.
Celin langsung saja masuk ke dalam mengambil yang lainnya.
"Hai jagoann" sapa Feli dengan tersenyum.
Arya langsung saja berlari dan memeluk sang Bunda. Bahkan Arya memberikan kecupan di pipi sang Bunda.
"Bunda, Om Fatwa dimana?" tanya Arya.
"Ada di dalam sayang" jawab Feli. Langsung saja Arya melesat masuk ke dalam.
Denis langsung memeluk tubuh Feli, ia sangat merindukan wanita nya.
"Apa kabar mu, sayang? Hmmm Rindu sekali" ucap Denis lembut.
"Aku baik, Mas. Bagaimana pekerjaannya?" tanya Feli tersenyum.
__ADS_1
Denis lalu melepaskan pelukannya dan mengecup singkat kening Feli.
"Sudah selesai dan aku sedikit lelah" manja Denis dengan memelas.
"Apa kita tunda saja ke Desa nya?" tanya Feli dengan tak enak.
"Tidak perlu Kak, aku yang akan menyetir nya. Dan Kak Denis istirahat saja" jawab Fatwa yang baru keluar dengan menggendong Arya.
"Yaudah ayo berangkat" ajak Denis.
Lalu Denis dan Fatwa memasukan barang mereka semua ke dalam mobil.
Setelah itu, Fatwa melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang saja.
Seolah mengerti, Arya merengek ingin duduk di depan bersama dengan Celin.
Sedangkan Feli dan Denis di belakang. Dengan segera Denis menutup tirai pembatas.
Lalu Denis merebahkan kepala nya di pangkuan Feli. Ia memejamkan mata nya dengan menikmati usapan lembut di kepala nya.
"Mas, turunkan saja kursi nya. Aku takut badan kamu pada sakit" ucap Feli lembut.
Denis mengangguk dan menurunkan kursi tersebut sehingga mereka bisa tidur.
"Kamu juga tidur ya" ucap Denis memelas.
Feli mengangguk dan ikut merebahkan tubuh nya. Denis langsung saja memeluk Feli dan memejamkan mata nya.
Tubuh Feli sudah menegang tetapi ia membiarkan saja. Lalu ia juga ikut memejamkan mata nya.
🍄
Di sepanjang perjalanan hanya Arya , Fatwa dan Celin saja yang menikmati nya. Apalagi Fatwa dan Arya yang selalu saja saling menggoda.
Hingga Arya juga ikut terlelap di pangkuan Celin.
"Apa tidak pegal?" tanya Fatwa lembut.
"Tidak, kasihan juga Kak Feli jika dia di pindahkan" jawab Celin tersenyum.
"Aku sudah berbicara pada Kak Feli, sebentar lagi aku akan lulus dan setelah itu aku akan menikahi-mu" ucap Fatwa serius.
"Apa Kak Feli merestui?" tanya Celin takut.
"Dia merestui kok, kamu mau kan?" tanya Fatwa balik.
Celin mengangguk dengan menundukan kepala nya yang sudah memerah bak tomat.
Sedangkan Fatwa, ia langsung meraih tangan Celin dan mengecup nya lembut.
.
.
__ADS_1
.