
Feli sudah memasak sejak pagi buta, semalam Raisa dan Rizik memberitahukan bahwa Fatwa akan pulang pagi ini.
Sejak tadi Feli sudah berkutat di dapur nya, ia memasak makanan kesukaan Fatwa.
"Ahh akhirnya selesai, aku akan mandi dulu" gumam Feli semangat
Setelah selesai menata makanan , Feli langsung saja ke kamar nya. Ia akan membersihkan dulu tubuh nya.
Sedangkan Rizik, ia sudah dalam perjalanan ke Rumah Feli. Dia bersama dengan Raisa, sedangkan sang Ayah yang menjemput Bunda serta Fatwa.
"Mas, sekalian kasih tahu Bunda dan yang lainnya nanti" ucap Raisa tersenyum hangat.
"Iyaa sayang" balas Rizik dengan lembut.
Raisa meminta Rizik menghentikan mobil nya di minimarket karena Raisa ingin membeli makanan dan beberapa camilan lainnya.
Setelah itu, mereka kembali melajukan mobil nya dan tepat saat mereka sampai, mobil yang di bawa sang Ayah pun sampai.
"Bundaaaa" ucap Raisaa dengan senang.
"Haii menantuku, uhh seperti nya kamu merindukan Bunda" goda Bunda Sonia.
"Hehehe Bunda selalu saja benar" kekeh Raisa dengan manja.
"Zik, kenapa Istri mu jadi manja begini" ucap Bunda Sonia terkekeh.
"Entahlah, Bun" balas Rizik mengedikan bahu nya.
Lalu mereka masuk ke dalam Rumah sederhana Feli.
"Kakakkkkkkk" pekik Fatwa dengan bahagia.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan nampaklah Feli dengan senyum khas nya.
"Yaampun, Dek , Mbak" ucap Feli bahagia.
Feli langsung memeluk Fatwa dan Mbak Sonia bergantian.
"Ayo duduk, biar aku ambilkan minumannya. Atau mau langsung makan saja" ucap Feli
"Ayo makan saja, Ayah sudah sangat lapar" balas Ayah Adnan.
__ADS_1
"Yaampun Ayah" ucap Bunda Sonia terkekeh.
Lalu mereka langsung saja ke ruang makan, mereka makan dengan tenang dan lahap.
"Ahhh Mbak sudah sangat rindu masakan ini" celoteh Raisa dengan makan lahap.
"Ayo makan dan habiskan. Feli sengaja memasak banyak agar kalian menghabiskannya" ceplos Feli dengan terkekeh
"Yaampun Kakak, ini makanan kesukaan aku kenapa lezat sekali" goda Fatwa dengan mulut penuh makanan.
"Ck, sudah diam dan nikmati saja" kesal Ayah Adnan karena tidak fokus makannya.
"Bilang saja takut kehabisan" celetuk Rizik terkekeh.
Ayah Adnan hanya memberikan jempol tangannya pada Rizik. Mereka terkekeh dan kembali menikmati sarapannya dengan tenang.
Setelah selesai sarapan, mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Fatwa begitu antusias menceritakan semua nya pada sang Kakak.
Feli hanya mendengarkan dengan sepenuh hati, ia merasa bangga pada Adik nya tersebut.
"Kak, ini hadiah untuk Kakak" ucap Fatwa memberikan tiket ke Paris dan amplop.
"Lohhh tadi kata nya gak menang" kaget Feli.
"Hehehe" cengengesan Fatwa dengan memasang wajah bodoh nya.
"Terimakasih, kamu selalu membuat Kakak bangga" ucap Feli penuh haru.
"Pergilah berlibur, aku mendapatkannya untuk membuat Kakak bahagia" ucap Fatwa sambil menyodorkan kembali tiket tersebut.
Sedangkan yang lainnya hanya melihat saja interaksi mereka. Mereka tidak ingin mengganggu kebahagian antara Fatwa dan Feli.
"Simpan saja, Kakak akan cari uang dulu agar kita bisa berlibur kesana. Walaupun Kakak ingin tetapi Kakak tidak ingin sendirian kesana" balas Feli tersenyum lembut.
"Jika kamu mau, Abang bisa kok bayarin" ucap Rizik tersenyum.
"Tidak perlu Bang, aku dan Fatwa tidak terlalu ingin juga kesana. Kami sudah sangat merepotkan Abang" tolak Feli halus.
"Apa kata Rizik benar, Fel. Jika kamu ingin, kita semua akan berangkat kesana" timpal Ayah Adnan.
"Tidak usah, Dokter. Lagi pula aku sudah tidak ingin kesana lagi" balas Feli lembut.
"Iyaa Abang, Ayah. Kami sudah tidak penasaran lagi" timpal Fatwa tersenyum.
__ADS_1
"Hah baiklah, tetapi jika kalian ingin kesana bilang saja pada kami" ucap Ayah Adnan tersenyum.
Feli serta Fatwa mengangguk dengan serempak. Mereka sebenarnya ingin sekali ke Negara Paris tetapi mereka tidak ingin merepotkan kembali Keluarga tersebut.
"Ohh iya, Rizik dan Raisa punya sesuatu untuk kalian" ucap Rizik dengan semangat.
"Apa itu, Nak?" tanya Bunda Sonia.
"Hemmm, kalian akan menjadi Kakek dan Nenek serta Aunty dan Uncle" jawab Rizik dengan senyum yang mengembang.
"Wahhh benarkah? Apa kalian tidak menipu kami?" tanya Ayah Adnan menyeliksik.
"Ck, tidak Ayah. Kami berkata jujur. Saat ini kandungan Raisa baru berusia 7 minggu" jawab Rizik sambil mengusap perut datar Raisa.
Bunda Sonia langsung saja memeluk menantu nya dengan sayang. Ia memberikan ciuman yang bertubi pada Raisa.
"Selamat ya, Mbak , Abang" ucap Feli dan Fatwa.
"Terimakasih, kalian akan di repotkan oleh nya nanti" balas Raisa terkekeh.
"Tidak apa, yang penting uang jajan mereka tetap jalan" goda Fatwa dengan ringannya.
Lalu mereka tersenyum, sebagai syukurannya mereka akan makan malam di salah satu restoran yang ada di Kota tersebut.
Siang hari nya, mereka memutuskan untuk istirahat saja. Untung nya disana ada 3 kamar jadi Feli dan Raisa akan satu kamar.
Feli tidak langsung terlelap, ia menyimpan terlebih dulu tiket dari Fatwa.
"Jika ada rezeki lebih, aku yang akan membawa kalian semua kesana. YaAllah semoga saja aku di beri Rezeki lebih darimu" gumam Feli memeluk tiket tersebut.
Lalu setelah menyimpannya, Feli kembali ke kamar dan ikut tidur bersama Raisa.
Sore hari nya, mereka segera bersiap di kamar masing-masing. Bahkan Feli di dandani dengan sangat cantik oleh Raisa.
Setelah bersiap, mereka langsung keluar dan masuk ke dalam mobil. Mereka membawa mobil Ayah Adnan yang lumayan besar.
Di sepanjang jalan, mereka sibuk bercerita kesana kemari, hanya Ayah Adnan , Fatwa dan Rizik saja yang diam.
"Mereka lucu ya, sangat cerewet dan antusias kalau sedang bergosip" celetuk Rizik terkekeh.
"Hehe Abang benar, hanya saja mereka kurang ruang gerak kayak nya" timpal Fatwa dengan menahan tawa nya.
Sedangkan para perempuan hanya mendelik dan terus saja bercerita.
__ADS_1
.
.