Istriku , Gadis Desa.

Istriku , Gadis Desa.
Bertemu


__ADS_3

Sudah hampir 1 minggu Feli tidak sadarkan diri. Padahal Feli sudah melewati masa kritis nya, semua menunggu dengan mata yang terpancar kesedihan.


Bu Halim dan Suami nya sudah pulang ke Desa. Di sana hanya ada Fatwa, Budhe dan Mbak Sonia.


Hari ini Rumah sakit tersebut akan ke datangan Nyonya besar dan Tuan Muda dari Natakusuma.


Mereka akan melakukan kunjungan karena sang Nyonya mendengar bahwa ada pasien dari Desa yang di utamakan oleh Dokter Rizik dan Adnan.


Semua Dokter dan yang lainnya sudah berbaris untuk menyambut ke datangan sang pemilik Rumah tersebut.


***


Saat ini, Fatwa ke bagian menunggu sang Kakak karena hari ini adalah Weekend. Sedangkan Mbak Sonia sedang pulang lebih dulu, dan sang Budhe sedang membeli makanan.


"Kak, kapan bangun? Aku sudah pindah sekolah sekarang. Dan aku juga sudah pintar dalam beladiri. Kakak bangun dong agar bisa nganterin aku ke sekolah" ucap Fatwa menggenggam tangan Feli.


Fatwa menenggelamkan wajah nya pada tangan sang Kakak. Ia terisak disana dengan diam, ia merindukan Kakak nya yang bawel, dan sangat perhatian pada nya.


Sedangkan Budhe, ia baru saja kembali dari kantin. Ia membeli makanan dan minuman untuk diri nya dan juga Fatwa.


Selama Budhe di Jakarta, sang suami sudah 2 kali kesana untuk menengok Feli.


Brukk


"Maaf, maaf Nyonya" ucap Budhe dengan membersihkan kotoran makanan yang ada di dress wanita tersebut.


"Tidak apa-apa" balas wanita tersebut.


Lalu Budhe mengangkat wajah nya dan ia sangat kaget melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Maya"


"Popy"


Ucap nya dengan bersama. Lalu mereka berpelukan dengan erat. Bahkan Budhe sempat meneteskan air mata nya.


"Budhe kenapa?" tanya Rizik bingung.


"Budhe? Apa kalian saling mengenal Dokter Rizik?" tanya Nyonya Maya.


"Ahh iya Nyonya, dia adalah Budhe dari pasien yang saya ceritakan tadi" jawab Rizik dengan sopan.


"Nyonya?" bingung Budhe.


"Kalau begitu mari kita ke kamar rawat Feli saja" ajak Dokter Adnan.


Sedangkan Denis hanya diam saja dengan menggendong sang Putra, Arya.


Mereka berjalan ke arah kamar rawat Feli. Berbeda dengan sang Budhe yang sedang di selimuti oleh rasa bingung.


Sesampai nya disana, mereka langsung masuk dan melihat Fatwa yang sedang duduk di dekat ranjang.

__ADS_1


"Budhe, siapa mereka?" tanya Fatwa.


"Duduklah dulu, nanti Abang akan jelaskan" jawab Rizik dengan lembut.


"Ayahhhh, onty cantik" celetuk Arya dengan menunjuk Feli.


Lalu Denis mengeryit dan langsung menatap ke arah Feli.


Denis terhenyak saat menatap Feli yang sudah tidak berdaya dengan alat bantu disana sini.


"Coba jelaskan semua ini" ucap Nyonya besar.


"Begini, dia adalah Felisya Rahma Putri dari Kakak Ku Burhan. Saat ini dia sedang berjuang karena siksaan dari Adikku Akbar dan anak lelaki itu adalah keponakan ku, Putra Akbar" jelas Budhe Popy.


"Ja jadi dia anak Burhan?" tanya Nyonya Maya dengan berkaca-kaca.


"Iyaa , dia adalah orang yang telah menyelematkan Putra-mu" jawab Budhe dengan menatap Feli.


"Menyelamatkan ku? Maksud nya?" tanya Denis bingung.


Nyonya Maya langsung menghela nafas , sudah saat nya ia menceritakan semua nya.


"Dulu waktu kamu masih sekolah menengah, kamu pernah sakit parah kan?" tanya Budhe


"Iyaa , saat itu aku gagal ginjal kalau gak salah" jawab Denis datar.


"Ya kau memang sakit gagal ginjal hingga ginjal Feli lah yang menggantikannya. Dan saat ini dia berbaring karena badannya lemah dan juga siksaan dari Paman nya" ucap Budhe Popy dengan sendu.


"Iyaa, dia juga yang menyelamatkan Putra mu waktu itu" jawab Nyonya Maya.


Lalu mereka mendekat ke arah ranjang. Nyonya Maya meneteskan air mata nya melihat Feli.


"Ayahh turunnn" rengek Arya.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Denis lembut.


"Mau deket dengan Onty cantik" jawab Arya dengan gemas nya.


Denis menurunkan Arya di samping tubuh Feli. Lalu Arya tiduran dan memeluk tubuh dengan sayang. Sontak Denis langsung melototkan mata nya.


"Onty bangun dong, kita ketemu lagi nih" ucap Arya dengan khas anak-anak.


"Ohh iya, bagaimana keadaan Feli?" tanya Nyonya Maya.


"Dia masih seperti ini, tetapi sudah melewati masa kritis nya" jawab Budhe sendu.


"Dokter Adnan, pindahkan Feli ke ruangan VVIP dan berikan perawatan yang terbaik, sekarang juga" ucap Denis dengan tegas.


"Baik Tuan Muda" patuh Dokter Adnan.


Mereka hanya diam saja melihat Denis yang dengan segera bertindak.

__ADS_1


"Akhirnya kita ketemu kembali , cantik" batin Denis dengan tersenyum.


Sedangkan Fatwa, ia hanya diam menatap Denis. Setelah nya ia kembali menatap sang Kakak yang masih tidur dengan pulas.


Mereka sibuk bercerita hingga tak menyadari bahwa Arya sudah terlelap dengan pulas di samping Feli.


"Tuan maaf, Putra anda tertidur disana" ucap Fatwa sopan.


"Biarkan saja, Fat. Kamu cukup awasi saja takut menyenggol luka Kakak kamu" balas Budhe tersenyum.


"Baik Budhe, seperti nya dia juga sangat nyenyak tidur dengan Kakak" ucap Fatwa kembali.


Denis tersenyum tipis dan kembali fokus dengan laptop di hadapannya. Ia mengerjakan tugas perusahaan yang sangat penting.


Budhe menceritakan kehidupan sang Kakak yang sekarang sudah meninggal, bahkan Budhe juga menceritakan tentang Feli.


"Apa uang yang aku kirimkan di pakai oleh, Akbar?" tanya Nyonya Maya.


"Yaa , dan dia sudah mengganti nya pada Asisten ku" jawab Denis tanpa menoleh pada sang Mommy.


"Dan karena itu juga Akbar akan menikahkan Feli dengan Rentenir itu" timpal Budhe


"Terus bagaimana sekarang?" tanya Nyonya Maya kembali.


Lalu Budhe menceritakan semua nya dan ia juga menceritakan bahwa setelah Feli sembuh ia akan membawa nya ke Kota Y.


Uhuk Uhuk


Denis langsung tersedak saat mendengar bahwa Feli akan di bawa ke Kota Y.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Sang Mommy.


"Tidak apa, Mom. Oh iya Budhe, bisakah dia bekerja disini saja menjaga Putra saya?" tanya Denis dengan serius.


"Iyaa Budhe, soalnya aku juga kan sekolah disini" timpal Fatwa


"Nanti bagaimana Kakak kamu saja" jawab Budhe dengan tersenyum.


Denis langsung tersenyum lega, ia kembali Fokus pada laptop nya. Sedangkan sang Mommy menatap Denis dengan penuh curiga.


"*Seperti nya ada hal yang tidak aku ketahui dari bocah tengil ini" batin Nyonya Maya menyeliksik.


"Nanti aku akan cari tahu" batinnya lagi*.


Mereka langsung membawa pindah Feli ke ruangan yang sudah siap. Fatwa tersenyum karena sang Kakak banyak sekali yang menyayangi nya.


Mereka membawa Feli tanpa memindahkan tubuh Arya dari samping Feli. Denis bahkan heran dengan sang Putra, biasa nya ia akan cepat bangun kalau dengar berisik sedikit saja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2