Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Kecewanya pengantin baru


__ADS_3

"Sayang, kamu ngapain aja didalam kok lama banget?" teriak Khen dari luar.


Arum membuka pintu kamar mandi dengan wajah kuyu, perempuan itu seperti menahan nyeri di perutnya.


"Kamu kenapa, Sayang? sakit perut?" tanya Khen merasa cemas.


"Kamu masuk angin itu, atau salah makan," ucapnya kembali sibuk sendiri, Khen membimbing Arum untuk keluar, tetapi wanita itu menolak.


"Kenapa, Sayang?"


"Mas, Arum sakit perut bukan karena salah makan, tetapi lagi haid."


"Apa! Kamu haid?" tanya Khen mendadak kecewa.


"Iya, Mas."


"Sejak kapan?" tanyanya masih belum yakin.


"Barusan, waktu Arum ganti ternyata sudah datang tamu," jawab Arum jujur sekali.


Khenzi hanya tersenyum tipis, Pria itu bingung sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar-benar melatih kesabarannya.


"Mas, Arum bisa minta tolong, nggak?" tanya Arum yang belum beranjak dari kamar mandi.


"Tentu saja, Sayang. Kamu mau minta tolong apa?"


"Bisa beliin pem balut?"


"Hah? Ta-tapi aku tidak tahu ukuran dan jenisnya."


"Udah beliin salah satunya, asal jangan pem balut orang melahirkan," ucap Arum sudah merasa tidak nyaman.


"Mas, tolong dong, Arum sudah tidak nyaman, banjir nih!" keluh wanita itu.


"Ah, Oke, kamu tunggu sebentar ya."


Khenzi segera keluar kamar dan menuju ke supermarket terdekat. Pria itu hanya menggunakan sepeda motor agar lebih cepat. Setibanya di minimarket ia segera menanyakan rahasia wanita itu pada pegawai mini market itu.


Ini adalah pengalaman pertamanya. Namun Pria itu mengesampingkan rasa malu di wajahnya, peduli apa dengan pandangan orang. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayangnya terhadap sang istri.


Setibanya dirumah, Khen buru-buru ingin masuk kamar agar tak ada yang tahu bahwa dirinya sedang membeli sesuatu. Namun nasib sial, ia berpapasan dengan Yanju. Khen segera menyembunyikan benda itu dibelakangnya.


"Dari mana kamu?" tanya Yanju penuh selidik.


"Itu dari luar. Abang sendiri ngapain? Nggak Nemani Kakak ipar istirahat siang?" tanyanya berusaha tetap tenang.


"Itu apaan?"


"Hah? Yang mana, nggak ada apa-apa!" elak Khen segera ingin beranjak.


"Eh, tunggu dulu! Kamu membunyikan apa sih? Persiapan untuk unboxing ya?" goda Yanju pada sang adik.


"Oww, iya dong! Udah sana, aku mau ke kamar dulu." Khen mendorong tubuh Yanju agar menepi ia ingin segera lalu.


Yanju yang sedikit jahil ia segera merampas kantong plastik yang bermerek mini market itu, dan melihat isinya. Seketika tawa Pria itu pecah.

__ADS_1


"Hahahaha.... Kasihan banget sih kamu. Pantesan tuh wajah nggak ada manis-manisnya dari tadi. Rupanya sedang menahan sesuatu." Yanju semakin menambah tempo tawanya semakin lepas saat melihat raut wajah Khen yang kesal.


"Eh, sini balikin. Kepo banget jadi orang. Sana urus Kakak ipar!" usir Khen dengan wajah Kesal dan geram pada sang Abang.


"Hahaha... Baiklah, baiklah. Selamat berpuasa my brother!"


"Ada apa ini Bang? Kenapa heboh sekali?" tanya Bunda menghampiri kedua Putranya.


"Tahu nih, Bun, si Yanju S ini bikin rusuh saja," jawab Khen masih kesal dengan melancar nama Yanju tidak ada embel-embel Abangnya.


Yanju masih tertawa melihat wajah sang adik tampak begitu kesal dan malu. Pria itu berasa mendapatkan hiburan tersendiri.


"Hei, Khen. Kamu kenapa panggil nama saja pada Abangmu?" protes Bunda pada anak keduanya itu.


"Hah, bodo amad. Habisnya dia cari gara-gara sih!" Khen segera beranjak meninggalkan Bunda dan Yanju masih berdiri disana.


"Hahaha... Biarin aja, Bun, lagi kesal tuh dia. Apes banget," ujar Yanju pada Bundanya.


"Ada apa, Bang? kamu kenapa suka sekali cara masalah dengan dia," tanya Bunda yang merasa tak mendapat jawaban dari anak-anaknya.


"Nggak ada cari masalah, Bun, dianya aja yang sensitif. Istrinya yang datang bulan tapi sensinya pindah kedia."


"Huuss! Kamu ini sembarangan kalo ngomong. Jangan bicara seperti itu. Kenapa kamu sampai tahu bahwa istrinya datang bulan?" tanya Bunda curiga.


"Ya, kan kelihatan Khen barusan beli pemba lut, Bun. Makanya dia uring-uringan," bisik Yanju pada sang Bunda dan segera berlalu. Wanita baya itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anaknya.


Setibanya dikamar Yanju segera mengetuk pintu kamar. "Dek, buka pintunya!" seru Khen dari luar.


"Kenapa lama sekali, Mas? Udah nggak nyaman banget," tutur wanita itu segera mengambil benda itu dari tangan Khen.


Arum tak menyahut lagi, ia kembali menutup pintu kamar mandi, untuk membersihkan diri dan menggunakannya dengan nyaman.


"Udah?" tanya Khen saat Arumi keluar dari kamar mandi.


"Hmm, Mas mau mandi?"


Khen tidak menjawab, tatapannya begitu lekat membuat Arum kembali mundur dua langkah kebelakang hingga mentok ke dinding.


"Mas, kamu mau apa?" tanya wanita itu begitu gugup. Jantungnya tidak tenang.


"Boleh aku sentuh bibir kamu?" tanya Khen permisi sebelum menjamah miliknya.


"Tapi, Mas..." Desis wanita itu tak bisa menolak hanya bisa pasrah saat benda kenyal itu menyentuh bibirnya.


Arumi hanya membatu menerima sentuhan yang baru pertama kali ia rasakan. Bingung harus berbuat apa. Dirinya yang memang new dalam hal ini maka hanya bisa pasrah tanpa bisa membalas apapun.


Khen tahu ini adalah pengalaman pertama bagi istri, ada baiknya juga puasa satu minggu ini dapat mengajari sang istri untuk menjadi lebih pandai dan berkenalan dengan kepunyaannya, agar tiba waktunya Arum sudah sedikit pandai, dan juga tidak takut.


Puas bermain di rongga mulut Arumi, Khen menyudahi aksinya untuk saat ini. Pria itu juga harus bisa menahan diri agar sel benihnya tak terbuang sia-sia.


"Istirahatlah, Sayang, aku mandi dulu," ucap Khen meninggalkan beberapa jejak sayang diwajah sang istri dan di bibirnya.


Arum hanya bisa mengangguk pelan, ia masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup tak beraturan. Saat Khen sudah masuk kedalam kamar mandi, Arum meraba bibir mungilnya yang tadi mendapat serangan dari sang suami.


Perasaan wanita itu entah, ada gelayar aneh dalam dirinya saat mengingat pergulatan bibir yang baru saja mereka lakukan.

__ADS_1


Arum menghela nafas dalam dan segera menyediakan pakaian ganti untuk Khen. Setelah itu ia duduk di depan cermin rias menatap wajahnya yang tampak merah dan terasa masih panas.


Jika Khen sedang menikmati masa puasanya. Berbeda lagi dengan Yanju. Setelah mentertawakan sang adik, ia kembali ke kamar untuk menemui sang istri. Yanju ingin membawa Aisyah untuk ke pantai. Tetapi, saat masuk Khen mendengar jelas bahwa Aisyah sedang bertelponan dengan seseorang.


"Maaf, Mas Reno. Ais sedang berada diluar kota. Tumben sekali telpon, ada apa?" tanya Aisyah pada Pria yang diketahui adalah mantan calon suaminya yang dulu meninggalkannya karena disebabkan Aisyah sudah tak bisa melihat.


Wanita itu tampak begitu semangat dan tersenyum saat mendengar suara Pria yang mungkin masih tersimpan utuh dalam hatinya.


Yanju yang melihat dan mendengarnya berusaha menahan gejolak dalam hati. Pria itu berjalan tak ingin mengganggu kesenangan sang istri. Yanju tidak ingin egois, baru kali ini ia melihat Aisyah kembali tersenyum saat menerima telpon dari mantannya.


Apakah benar dirinya tak bisa membuat wanita itu tersenyum dan bahagia? Yanju berjalan dengan perlahan dan duduk di sofa dalam diam sembari mendengarkan percakapan Aisyah dengan Pria itu.


Setelah percakapan itu selesai, Yanju pura-pura batuk sehingga membuat Aisyah terjingkat.


"Mas Yanju!" panggil wanita itu mengamati suara itu.


"Ya, ada apa?" tanya Yanju berusaha tetap tenang.


"Ka-kamu sejak kapan disana, Mas?" tanya Aisyah tampak cemas.


"Cukup lumayan lama. Aku ingin ajak kamu ke pantai. Apakah kamu mau?" tanya Yanju belum ingin membahas.


"Ah, bo-boleh, jauh ya dari sini?" tanya Aisyah yang tampak masih gugup.


"Tidak, dekat kok. Ayo kita berangkat sekarang." Yanju. Membimbing wanita itu untuk turun kebawah.


Setibanya di pantai, Aisyah meresapi suasana alam yang terasa begitu nyaman dan mendengarkan deburan ombak di pinggir pantai.


Kita duduk disana yuk," ajak Yanju.


Aisyah hanya mengangguk mengikuti langkah Pria yang sebenarnya sudah mulai melenturkan hatinya atas segala kesabaran yang Pria itu tanamkan dalam hati untuk menjaga dirinya.


Yanju Mambawa Aisyah duduk di salah satu pondok pantai. Setelahnya ia memesan minuman. Lama mereka saling diam hanya mengamati susana pantai nan indah.


"Aisyah, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Yanju membuka percakapan.


"Rencana apa, Mas?"


"Ya, rencana kedepannya. Bukankah kamu ingin hidup bahagia dengan lelaki yang kamu cintai 'kan?" tanya Yanju kembali, membuat Aisyah menatap tidak mengerti.


"Apa maksud Mas Yanju?"


"Syah, aku memang tidak bisa membuatmu bahagia, aku adalah lelaki yang telah merenggut kebahagiaan dan masa depanmu yang cerah. Bahkan aku tidak bisa membuatmu tersenyum. Hng! Se menyedihkan itu diriku ya," tutur Yanju menatap lurus kedepan dengan senyum mengejek dirinya sendiri.


"Mas, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Aisyah yang sudah merasa bahwa Yanju mendengar percakapannya dengan Reno. Tetapi ia merasa tidak ada percakapan yang sepesial diantara mereka.


"Syah, kamu bersabarlah menunggu bulan depan. Aku berjanji setelah kamu dapat melihat kembali, maka aku akan memberikan kebebasan yang penuh untukmu. Aku akan mengembalikan dirimu pada dia."


Ucapan Yanju bagai mengiris hati wanita itu. Aisyah menjatuhkan air matanya. Kenapa hatinya terasa begitu sakit saat Pria itu membahas perpisahan.


Bersambung....


Happy reading.


Nb. Sepertinya kisah anak-anak Lyra akan author bahas di sini saja semuanya ya. Soalnya bulan depan akan ada novel baru. Jadi akhir bulan ini semua anak-anak Lyra dan Arman akan selesai. Maaf bila ada yang tidak setuju, tetapi ini sudah menjadi keputusan author agar kalian tidak ada yang penasaran lagi dengan kisah mereka semuanya πŸ™πŸ™πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2