Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Sudah membaik


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Yusuf sudah bangun. Pria itu segera melaksanakan ibadah wajib dua rakaat. Setelah itu Yusuf membantu sang istri kekamar mandi untuk memenuhi panggilan alam.


"Mas, Adek bisa jalan sendiri," ucap Khanza saat Yusuf membopong tubuhnya.


"Tidak pa-pa, Sayang, kamu pegang tabung infus saja."


Setibanya di kamar mandi, Yusuf menurunkan tubuh Khanza dengan perlahan. Wanita itu dengan hati-hati ingin membuka kain penutup tubuhnya. Yusuf melihat sang istri kesusahan, maka ia segera membantu. Khanza hanya tersenyum malu menerima bantuan Pria itu.


"Jangan malu, Sayang, aku ini suamimu. Semuanya aku sudah melihat, jadi tidak perlu menutupi lagi. Santai saja," ujar Yusuf membuat Khanza semakin bersemu.


Dengan terpaksa wanita itu membuang hajat yang sudah tak mampu ia tahan. Setelah selesai bersih-bersih, Yusuf kembali membopong Khanza untuk meletakkan diatas ranjang.


"Mas, apakah aku tidak berat?" tanya Khanza dalam gendongan suaminya.


"Tidak, malahan enteng banget. Makanya Adek harus banyak makan, biar tambah montok dan berisi, biar anak Papa juga semakin sehat. Benar kan, Sayang." ujar Yusuf sembari mengelus perut Khanza setelah membaringkan dengan pelan.


"Jadi sekarang aku tidak menarik ya, Mas?" tanya Khanza sedikit manyun.


"Hehe... Kamu kenapa sensi banget sih, hmm?" Yusuf mengecup kening dan mengelus rambut Khanza. "Kamu itu sangat cantik dan menarik. Apapun bentuk tubuhmu aku tetap cinta."


"Ish, gombal."


"Eh, nggak percaya banget. Udah sekarang Adek istirahat lagi ya. Mas mau minta Bibik Santi nyiapin sarapan buat kamu. Setelah itu Mas mau pulang sebentar, mau bertemu dengan Rizqi."


"Iya, nanti kalau Mas tidak keberatan bawa Rizqi kesini ya. Aku juga kangen ingin bertemu dengannya," pinta Khanza yang juga merindukan bayi mungil itu.


"Baiklah, nanti aku usahakan ya. Ayo baring lagi. Kamu jangan banyak bergerak, aku tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-kenapa."


Khanza mengangguk patuh segera berbaring. Yusuf keluar dari kamar dan berpapasan dengan Om Yandra yang ingin memeriksa kondisi Khanza.


"Suf, mau kemana?" tanyanya


"Ah, mau kebawah, Om, mau ambilkan sarapan untuk Adek," jelas Yusuf.


"Suruh Bibik saja. Ayo temani Ayah memeriksa istrimu dulu," perintah Yandra pada menantunya. Walaupun Khanza anaknya, tetapi tetap saja Pria itu merasa tidak nyaman karena anaknya itu sudah dewasa dan menikah.


"Baiklah, Yah." Yusuf mengangguk segera mengikuti langkah Yandra untuk masuk kembali kedalam kamarnya.


"Pagi, Nak, bagaimana keadaan kamu?" tegur Yandra pada sang putri.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, Yah. Adek rasa sudah tidak perlu pakai infus lagi," ujar Khanza sudah merasa membaik, tidak ada lagi flek yang keluar.

__ADS_1


"Syukurlah, sebentar Ayah periksa dulu." Yandra segera memeriksa menggunakan alat stetoskop dan juga memeriksa detak jantung bayi dengan alat Fetal Doppler.


"Alhamdulillah, semuanya sudah normal. Apakah benar kamu tidak ingin menggunakan infus lagi?" tanya Yandra meyakinkan putrinya.


"Iya, Yah, dibuka saja," pinta Khanza.


"Baiklah, kalau begitu akan Ayah buka." Yandra segera membuka jarum infus yang masih terpasang ditangan Khanza.


"Selamat pagi." Bunda dan Papa Arman masuk, mereka juga ingin mengetahui kondisi Khanza.


"Pagi, Papa, Bunda," ujar Khanza dan Yusuf bersamaan.


"Bagaimana keadaan kamu pagi ini,Nak?" tanya Papa duduk disamping Khanza.


"Alhamdulillah sudah membaik, Pa. Ini sudah dibuka infusnya sama Ayah," jelas Khanza.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kamu, Yan?" tanya Papa Arman pada sang adik.


"Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Bang. Tetapi, Adek masih harus bed rest. Jangan banyak bergerak. Tolong dibantu ya kakak ipar," ujar Dokter itu pada kakak iparnya.


"Baiklah kalau begitu," jawab Lyra pada adik iparnya itu.


"Oya, kebetulan kondisi Adek sudah membaik, aku juga sekalian ingin pamit pulang ke Medan."


"Iya Bang, besok pagi ada supplier obat yang harus aku temui, tidak bisa digantikan. Aku harus memastikan produk yang sama dengan yang selama ini kami gunakan, mengenai obat syaraf," jelas Yandra pada sang kakak.


"Baiklah, apakah Yanju juga ingin pulang sekalian?"


"Aku belum tanyain, aku rasa juga begitu. Karena dia juga tidak bisa meninggalkan tugas terlalu lama."


"Kalau begitu ayo kita sarapan dulu. Dek, nanti Bunda antarkan sarapan kamu ya," ujar Bunda mengelus perut sang putri.


"Tidak usah, Bund, biar aku saja yang mengantarkan," potong Yusuf.


"Yasudah, ayo kita turun sekarang."


"Dek, Ayah sekalian pamit ya, ingat pesan Ayah. Kamu harus istirahat total. Jangan bandel, paham?" Yandra mengusap kepala putrinya dan mengecup keningnya.


"Baik, Ayah, terimakasih karena ayah sudah merawat Adek. Ayah hati-hati dijalan ya." Khanza memeluk Pria baya itu. Sedih harus berpisah kembali dengan sosok yang begitu menyayanginya.


"Oke, Sayang. Kalau ada yang kamu tidak tahu jangan lupa telpon Ayah ya."

__ADS_1


Kini semua keluarga itu turun kebawah. Mereka sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing, dan begitu juga Yandra yang ingin bertolak kembali ke kota Medan.


"Bagaimana keadaan Adek, Bun?" tanya Yanju disela-sela makan mereka.


"Alhamdulillah sudah membaik. Apakah kamu ingin pulang juga bersama ayah hari ini?" tanya Bunda pada Putra sulungnya.


"Ya, aku harus pulang, Bun, soalnya banyak tugas yang harus aku selesaikan. Karena bulan depan aku akan mengambil cuti, aku akan menemani Aisyah untuk menjalani operasi mata," jelas Yanju pada keluarganya.


"Sudah dapat donor mata buat Aisyah?" tanya Papa Arman.


"Alhamdulillah sudah, Pa, tetapi adanya diluar negeri."


"Dimana?"


"Thailand. Jadi Aisyah akan melakukan operasi disana."


"Syukurlah. Semoga operasinya berjalan lancar. Jangan lupa beri kabar Papa dan Bunda bila kamu akan berangkat. insyaAllah jika Papa ada waktu luang di tanggal itu, Papa dan Bunda akan ikut menemani kalian."


"Baik, Pa. Aku senang sekali jika Papa dan Bunda juga bisa ikut."


"insyaAllah ya, Nak," balas Bunda.


"Pagi semuanya...". Sapa Khenzi yang baru saja bangun.


"Bangun juga kamu, nanti saja sore bangunnya!" Ujar Yanju jengkel pada adiknya yang sedari tadi dibangunkan susah sekali.


"Apa sih, Bang, pagi-pagi udah sewot aja. Orang ngantuk tau!" Balas Khenzi sembari menduduki bangkunya.


"Ya iyalah ngantuk, orang semalam begadang," balas Yanju.


"Begadang ngapain? Bukankah tadi malam Khenzi pulangnya cepat?" tanya Bunda penasaran.


"Telponan, Bund, aku saja sampai susah tidur karena dengar obrolannya. Kayaknya nggak lama lagi kita mau makan enak lagi nih, Bun," ujar Yanju menggoda adiknya.


"Apaan makan enak? Abang aja sampai sekarang belum ngundang kita untuk makan enak. Katanya udah nikah, tetapi dua hari disini tidak pernah telponan sama kakak ipar. Aku jadi penasaran deh, hubungan kalian itu seperti apa sih? Jangan-jangan kakak ipar tidak mencintai kamu ya, Bang?"


"Eh, jangan sok tahu kamu."


"Hehe... Kayaknya benar deh. Ayo usaha lebih keras lagi, Bang. Tapi, tunggu dulu! Mungkin kakak ipar belum melihat wajah Abang yang sebenarnya. Dia mengira jika Abang adalah siburuk rupa. Tapi, percaya deh, nanti setelah dia bisa melihat pasti langsung meleleh."


"Ish, kamu tuh ya, sok tahu sekali. Ya, diamini sajalah ucapan kamu, Dek." Akhirnya Pria itu tak bisa menyembunyikan bahwa memang hubungannya dan istri tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2