Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Arumi sakit


__ADS_3

Arum hanya terpaku melihat Pria itu begitu lincah berenang, berbeda dengan dirinya yang tak pandai olahraga air itu, kalau kecebur langsung terbenam seperti batu. Arumi mengamati tubuh atletis Pria itu sedikit mengalihkan perhatiannya.


"Kenapa kamu menatapku begitu? Kamu pengen mandi bareng?" tanya Khen sembari mencipratkan air kepada Arum.


"Awh... Ih, Mas Khen! Apaan sih? Basah nih!" Pekik gadis itu segera beranjak meninggalkan Khen yang tak peduli masih asyik dengan aktivitas berenangnya.


"Rese banget sih jadi orang. Dasar manusia kaku! Gangguin kesenangan aku aja. Nggak tahu apa? Aku itu lagi berhayal hidup menjadi orang kaya. Hihi... Mikir apa sih aku."


Arumi segera masuk kedalam dan menuju dapur. Gadis itu ikut bergabung dengan Art yang sedang sibuk memasak untuk makan siang.


"Bik, masak apa? Arum bantuin ya," ujar gadis itu pada wanita baya yang diperkirakan seumuran dengan ibunya.


"Tidak usah, Non. Biar Bibik saja," tolak Art itu.


"Eh, nggak pa-pa, Bik. Oh ya, Bibik jangan panggil Arum Nona. Panggil nama saja. Arum sudah biasa bantuin Ibu masak kok, Bik." Wanita itu masih ngotot untuk membantu pekerjaan Art itu.


Karena Arum memang sudah terbiasa mengerjakan tugas masak-masak, maka dia tidak merasa canggung untuk melakukannya. Wanita itu cukup terhibur dengan ikut membantu Bibik, bisa menghilangkan kegabutannya.


"Arum!" Panggil Khen dari teras belakang.


Wanita itu segera meninggalkan pekerjaan dan menyongsong Pria kaku itu yang sudah berdiri di ambang pintu belakang.


"Ada apa, Mas?" tanya Arum tak berani menatap penampilan Pria itu yang bertelan jang dada.


"Buatkan aku minum!" Seru Khenzi sembari menggusal rambutnya yang basah.


"Arumi! Kenapa masih bengong?" tanya Khen karena melihat wanita itu masih diam ditempat.


"Ah, iya. Mau diantar kemana?" tanya Arum


"Tarok di meja belakang. Aku belum selesai mandi," jelas Pria itu kembali beranjak menuju kolam renang.


Arum membawa segelas jus wortel sesuai permintaan Tuan kaku. Wanita itu melihat Khen sedang berdiri di tangga kolam renang yang berjenis knockdown itu.


"Bawa kesini, Arum!" Seru Khenzi saat melihat gadis itu hendak meletakkan di meja yang ada disana. Arum menurut memberikan gelas itu pada Khen.


Pria itu tersenyum, sedikit membuat gadis itu menatap aneh. Tumben sekali Pria kaku bin es balok bisa tersenyum padanya.


"Nih." Arum menyerahkan jus buatannya itu pada Khen.

__ADS_1


Pria itu menerimanya dan kembali tersenyum, terbesit di pikirannya untuk menjahili gadis itu. Khen menarik tangan Arumi dengan cepat saat dia ingin berdiri sehingga Arum kehilangan keseimbangan.


"Awh! Mas Khen jangan!"


Byyuuurr!!


Wanita itu terjerembab masuk kedalam kolam renang yang di perkirakan dalamnya dua meter.


"Hahahaha...." Khen tertawa lepas saat melihat Arum kecebur. Serasa mendapatkan hiburan.


Glegg! Glegg!


"Mas, tolong!" Teriak gadis itu dengan tangan menggapai-gapai keatas.


"Hahaha... Nggak usah pura-pura kamu Arum. Kamu pasti ingin ngerjain aku 'kan!" teriak Pria itu masih dengan senyuman.


Beberapa menit tampak tubuh wanita itu tak beringsut dari semula. Khenzi sedikit heran dan kelihatan Arum semakin terbenam kedasar.


"Arumi!" Pekik Khenzi segera menyelam menghampiri tubuh Arumi. Khen segera membawanya menepi dan mengangkat tubuh Arum kepinggir kolam.


Dengan wajah cemas Khenzi membangunkan wanita itu.


"Arum, bangun Arum!" Khen, menepuk pelan wajah gadis itu. Namun tak ada respon.


Ada getaran yang hebat dalam hati saat bibirnya menyentuh bibir lembut gadis itu. Tapi Khen berusaha untuk tetap fokus, setelah bibirnya menyatu, Khen meniup nafasnya dengan kuat kedalam mulut Arum hingga lebih kurang sepuluh detik.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Arumi tersedak dan menumpahkan beberapa cairan kolam itu dari mulutnya.


"Alhamdulillah, Arum, kamu tidak apa-apa?" Khenzi meraih handuknya yang tersampir di bangku dan menyelimuti tubuh gadis itu tampak pucat.


"Arum, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu bahwa kamu tidak bisa berenang. Maafkan aku!" Tutur Khen memohon maaf pada Arumi.


Gadis itu hanya diam, masih belum bisa mengatur nafasnya dengan benar. Kepalanya mendadak pening, mungkin karena terlalu banyak menghirup air yang mengandung kaporit itu.


"Arum, kamu kenapa? Apakah ada yang sakit? Kita ke RS sekarang ya?" tawar Khen tampak begitu cemas saat wanita itu memegang kepalanya.


"Ti-tidak perlu, Mas. Arum ingin istirahat ke kamar," sahut Gadis itu dengan suara lemas.

__ADS_1


Khenzi segera membopong tubuh Arum sehingga gadis itu terjingkat mendapat perlakuan tiba-tiba dari lelaki Es itu.


Dengan pakaian yang sama-sama basah, Khen dengan santai membawa Arum masuk kedalam kamarnya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya.


"Tunggu disini, jangan beranjak! Aku akan panggilkan Bibik untuk membantumu mengganti pakaian," jelas Pria itu segera menyelimuti tubuh Arum dengan kain tebal sebelum beranjak keluar.


Arum hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun, lalu melihat tubuh Pria itu hilang dibalik pintu kamarnya.


Tak berselang lama seorang Art masuk untuk membantu Arumi mengambilkan pakaiannya di dalam lemari, tetapi wanita itu masih sanggup untuk mengenakannya sendiri, dia begitu sungkan dan menolak bantuan sang Bibik.


"Apakah Mbak Arum yakin bisa menukar pakaian sendiri?" tanya art meyakinkan.


"Iya, Bik, Arum masih bisa. Terimakasih untuk bantuannya," ujar Arum.


"Baiklah, kalau begitu Bibik tinggal ya."


Arumi membalas anggukkan dan mulai mengganti pakaiannya dengan yang kering. Walau kepalanya masih berdenyut, tetapi dia berusaha untuk tetap bisa sendiri.


Malam saat semua keluarga sedang makan bersama. Tentu saja Bunda dan yang lainnya merasa ada yang kurang, karena dari mereka pulang tidak melihat gadis cantik berlangsung pipi itu bergabung dengan mereka.


"Dek, Arumi mana? Kok sedari tadi Bunda tidak lihat dia?" tanya Bunda pada Khanza yang memang lebih dulu pulang dari Bunda dan Papa.


"Sama Bun, Adek juga pengen tanyain itu. Sejak Adek pulang tidak melihat Kak Arumi," jelas Khanza.


"Apa dia sakit?" tanya Papa mulai curiga.


"Iya, Arum tidak enak badan,Pa," sahut Khen menimpali ucapan mereka.


"Loh, sejak kapan? Kenapa kamu tidak telpon Dokter langganan?" tanya Oma.


"Tadi aku mau telpon tapi Arum menolak, Oma."


"Apakah dia sudah makan?" tanya Bunda.


"Sudah, Bun, tadi sudah Abang minta Bibik mengantarkan makanan untuknya."


"Kenapa Arum tiba-tiba sakit? Bukankah tadi dia baik-baik saja?" tanya Papa Arman menatap Khenzi penuh selidik. Ternyata ilmu seorang penyidik dapat melihat jika seseorang melakukan kesalahan.


Khenzi menatap sang Papa sehingga tatapan mereka bertemu. Khen memutus tatapan itu, dia tahu bahwa Papa sedang menjadikannya sebagai tersangka.

__ADS_1


Bersambung..


Happy reading 🥰


__ADS_2