
"Ya, Sorry. Aku harus periksa keamanan rumah utama dulu sebelum pergi." '
"Mbak Khanza diperiksa juga nggak?" tanya Mas Yudi yang membuat aku menatap tajam. Entah kenapa aku merasa tidak suka dengan selorohnya.
"Yaelah, gitu aja marah. Hahaha..."
"Jangan bercanda seperti itu Mas. Nanti kalau ada yang dengar jadi salah paham. Tugas kita melindungi, jadi jangan sampai ada niat tidak baik sedikitpun!" Tegasku sembari menatap Mas Yudi tidak suka.
"Oke, oke, ayo kita bikin kopi lagi. Aku masih kurang nih, pengen nambah lagi." Mas Yudi menuju dapur.
"Kok bikin sendiri? bibik mana?" tanyaku heran biasanya ada asisten rumah tangga yang akan melayani seluruh ADC dirumah ini.
"Bibik sudah tidur. Udah sana bikin Suf," ujar Mas hakim dan yang lainnya.
Aku segera masuk dan menuju dapur mengikuti Mas Yudi yang sudah terlebih dahulu menyeduh kopi untuk dirinya sendiri.
"Sekalian dong, Mas Yudi, pelit amad," ujarku melihat dia membawa secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
"Ogah, kamu buat aja ndri. Noh, gula dan kopi ada disana." Dia menunjukkan deretan toples tempat gula dan kopi.
"Ck, hitungan banget sih!" Aku berdecak kesal segera menyeduhnya sendiri.
Setelah selesai, aku kembali keluar untuk bergabung dengan mereka. Kami ngobrol sembari menikmati kopi khas dari Aceh itu. Rasa kopinya memang mantap. Sehingga tak terasa gelas itu sudah kosong.
Aku melihat waktu yang ada di pergelangan tangan, ternyata sudah cukup larut. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku segera pamit pada mereka untuk balik lagi kerumah pribadi Pak Jendral.
Setibanya dirumah aku segera masuk dan mengunci pintu utama, lalu masuk kedalam kamarku. Aku segera merebahkan diri karena mataku merasa sangat mengantuk.
Baru beberapa menit, aku merasakan tubuhku begitu gerah, padahal pendingin ruangan sudah menyala, kucoba mengatur suhu agar lebih sejuk. Namun, lagi-lagi aku tak bisa merasakannya. Ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku. Aku berusaha untuk menahannya dan kupejamkan mata, tetapi aku semakin tak bisa menahannya.
Ada apa ini? Kenapa hasratku tiba-tiba bergejolak seperti ini? Apa yang terjadi padaku. Otakku masih bisa berpikir normal, tetapi naf-suku tak bisa aku kendalikan. Aku keluar dari kamar untuk mencari udara sejuk.
Saat aku keluar kamar, aku melihat Mbak Khanza keluar dari dapur. Sepertinya dia sedang mengisi botol air minumnya. Hasratku semakin tak bisa kutahan. Rasa takut dan seganku terasa sirna. Aku mengikuti Mbak Khanza naik keatas.
Saat Mbak Khanza ingin menutup pintu kamar, aku menahan pintu kamar itu sehingga membuat wanita cantik itu terjingkat. Sebenarnya aku tahu bahwa perlakuanku salah, tetapi aku rasanya ingin mati saat itu juga bila hasratku tak terlepaskan.
"Mas Yusuf! A-ada apa ini Mas?" tanyanya bergerak mundur kebelakang, wajahnya tampak cemas dan ketakutan.
"Mbak Khanza, tolong bantu saya Mbak. Sungguh saya tidak tahan!" Aku merasakan tubuhku semakin panas tak bisa terkendali, aku meremat rambutku sendiri.
__ADS_1
"A-apa yang bisa aku bantu Mas?" Mbak Khanza semakin menjauh, aku berusaha untuk bertahan sungguh aku sudah tak bisa, kendaliku hilang, rasa takut dan sungkan sirna. Aku ingin memadamkan gejolak naf-su yang membara.
Aku menarik tangan Mbak Khanza dan mendorongnya ke atas tempat tidur. Dia ingin menjerit, tetapi aku segera membungkam mulutnya dengan mulutku. Aku menjamah segala tubuh sensitifnya.
Aku melihat Mbak Khanza menangis histeris, rasa ibaku terkalahkan oleh hasratku. Aku membuka seluruh pakaiannya dengan cara paksa yaitu dengan merobeknya secara brutal.
"Mbak Khanza, maafkan saya. Sungguh saya tidak mampu menahan gejolak ini Mbak."
Aku masih bergumam saat diriku hendak melakukan penyatuan secara paksa. Mbak Khanza masih berusaha meronta dan memukuliku. Tubuhnya yang mungil tidak berpengaruh terhadapku.
Dengan berulang kali, akhirnya aku berhasil merampas keperawanan anak Jenderalku sendiri. Aku menumpahkan segala yang sedari tadi rasanya ingin meledak. Entah berapa kali aku menggagahi gadis itu. Aku melihat darah kepera wanannya tumpah di alas ranjang itu.
Aku tertidur pulas setelah merasa lega terlepas dari obat sialan itu. Aku yakin sekali ada yang memberiku obat terkutuk itu.
Aku merasa tidurku terusik karena mendengar suara tangisan yang histeris. Dengan perlahan aku membuka mata. Kesadaranku naik kepermukaan, aku segera duduk dengan tubuh masih polos.
Aku mengucapkan istighfar berulangkali. Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri. Aku melihat Mbak Khanza menangis tersedu-sedu di sudut kepala ranjang dengan membungkus tubuhnya yang polos.
Astaghfirullah... Apa yang sudah aku lakukan ya Allah?
"Mbak Khanza, saya benar-benar minta maaf. Sungguh saya khilaf Mbak. Semua saya lakukan karena pengaruh obat perangsang. Saya tidak tahu siapa yang memberikan."
"Sungguh saya minta maaf Mbak. Saya tidak bermaksud sedemikian."
"Keluar kamu dari kamarku!"
Aku melihat dia menangis tergugu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Rasa bersalahku begitu besar. Aku meremat rambutku dengan kasar, lalu memunguti pakaianku dan segera kukenakan, setelah itu aku segera keluar. Aku tidak tega. Sungguh ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku karena telah berbuat zina dan menodai anak atasanku sendiri.
Yang membuat aku semakin menyesali, yaitu aku telah mengkhianati istriku sendiri. Aku tidak pernah berpikir akan melakukan hal ini pada wanita manapun. Bagiku Tiara sudah cukup sempurna sebagai seorang istri.
Aku turun kelantai satu menuju kamar dan aku segera membersihkan diri di tengah malam buta. Setelah mandi aku duduk termenung di ranjang. Pikiranku benar-benar kalut. Apa yang harus aku lakukan? Aku telah merusak masa depan seorang wanita.
Aku merutuki kebodohanku sendiri. Hatiku masih bertanya-tanya siapa orang yang telah sengaja melakukan hal ini padaku?
Malam itu juga aku kembali menemui Yudi dan Mas Hakim. Aku harus mencari tahu. Setibanya di rumah yang tadi aku kunjungi, aku turun dari motor dengan tergesa-gesa.
"Mas Yudi...!" Panggilku dengan suara lantang.
"Eh, Suf, kamu kok tumben kesini lagi? Ada apa?" tanya Mas hakim yang hendak masuk kamar.
__ADS_1
"Mas hakim, tolong jujur! Apakah diantar kalian ada yang sengaja menjebakku?"
"Maksud kamu apa Suf?"
"Katakan Mas! Aku butuh kejujuran!"
"Aku benar-benar tidak tahu apa maksud kamu? Yusuf! Siapa yang menjebak?" tanya Mas Hakim tidak paham.
"Mana Yudi Mas?" tanyaku
"Yudi sudah tidur."
Aku segera menuju kamar ajudan itu yang ditempati dua orang satu kamar. Aku menarik paksa untuk membangunkan Yudi. Entah kenapa aku merasa curiga pada lelaki itu.
"Yudi, bangun!" Aku menarik tangannya dengan kuat.
"Kamu ini kenapa Yusuf? Ada apa sih? gangguin orang tidur saja!" Rutunya dengan wajah kesal.
"Yudi, katakan padaku apa yang telah kamu berikan pada kopi Aceh itu?"
"Apa? Tidak ada apa-apa yang aku berikan! Emang kenapa?"
"Jangan bohong kamu! Kamu sengaja memberinya obat perangsang, iya 'kan?"
"Hahaha.... Yusuf, Yusuf. Kamu ini ada-ada saja. Jika aku kasih kopi itu obat itu, tentunya kita semua sudah cari wanita untuk melepaskan hasrat. Toh nyatanya yang lainnya nggak ada tuh yang merasakan hal itu. Kamu ini lucu sekali. Emang apa yang terjadi? Apakah kamu sudah berbuat sesuatu? Jangan katakan kamu sudah melecehkan orang dirumah itu, iya?"
"Jangan sembarangan kamu bicara. Untung saja aku cepat pulang ke rumahku. Tetapi aku bertengkar hebat dengan istriku, karena hasrat yang tidak seperti biasanya. Kamu kan tahu istriku sedang hamil."
Aku hampir saja mengatakan yang sebenarnya. Tetapi dari tatapan Yudi ingin memastikan bahwa aku sudah berbuat sesuatu pada orang dirumah itu.
"Alah sama istri sendiri kenapa harus semarah ini kamu Suf, kamu tinggal minta maaf saja beres urusannya."
Aku tidak ingin lagi meladeninya untuk bicara. Lebih baik aku ambil sisa kopi yang ada di toples itu. aku harus memeriksanya sendiri.
Bersambung....
NB. Kelamaan ya, POV Mas Yusuf kalau dari awal? Pengen tahu dari reader, siapa yang ingin POV Yusuf dari awal atau di percepat? Tulis komentar ya🙏
Happy reading 🥰
__ADS_1