
"Kenapa diam saja, Dek? Apakah kamu merasa tertekan dengan hubungan ini?" tanya Akmal, ia ingin jawaban dari wanita itu.
"Mas, maaf jika kamu kecewa dengan sikapku selama ini. Tetapi aku mohon tolong berikan aku waktu untuk meyakinkan hati," jawab Akhifa dengan wajah tertunduk.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu. Maaf jika pertanyaanku kesannya menuntut." Akmal melepaskan genggaman tangannya, dan kembali menjalankan kendaraan roda empat itu.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Akhifa saat melihat Pria itu memutar balik arah kendaraannya.
"Mau anterin kamu balik ke Butik, pekerjaan kamu masih terbengkalai 'kan? Aku hanya ingin bicara padamu. Tadi saat di Butik kamu tak mempunyai waktu," jelas Pria itu yang membuat Akhifa tak percaya.
"Kamu serius, Mas?" tanya gadis itu masih tak percaya.
"Ya, aku serius."
"Terimakasih ya, Mas," ucap Akhifa dengan senyum manis.
Akmal hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sepertinya dia harus memutar otak untuk melenturkan hati wanita itu. Setelah menurunkan Akhifa di Butik, Akmal segera pulang ke kediaman calon mertuanya ingin istirahat sejenak.
Malam ini keluarga Dokter Obgyn itu makan bersama. Akhifa yang baru saja pulang segera bergabung dengan mereka di meja makan.
"Kamu baru pulang?" tegur ayah Yandra pada putri bungsunya.
"Iya Yah, tadi di Butik banyak pekerjaan," jawab gadis itu memposisikan duduknya di samping sang Ibu.
"Banyak sih banyak, Dek. Tapi jangan terlalu fokus dengan pekerjaan. Kamu kan tahu Akmal ada disini, seharusnya kamu meluangkan waktu untuknya," potong Ibu Fatimah merasa sedikit kesal pada putrinya yang masih saja tidak peka.
"Iya, aku minta maaf, tapi tadi aku..."
"Sudahlah, Bu, tidak apa-apa, aku paham bahwa pekerjaan Akhifa sangat banyak," Akmal menimpali.
Tak ada lagi percakapan, mereka makan dengan tenang. Setelah makan Akhifa ingin naik kelantai dua menuju kamarnya.
"Dek, mau kemana?" tanya Ibu menahan langkah gadis cantik itu.
"Mau kek kamar, Bu."
"Nanti dulu, sana kamu gantiin alas kasur untuk Akmal," ujar wanita tak lagi muda itu pada anaknya.
__ADS_1
"Kok aku, Bu? Kan ada Bibik," jawab Akhifa tak terima.
"Yang calon istrinya itu kamu atau Bibik sih? Kenapa harus Bibik yang menggantikan, mulai sekarang belajar untuk mengurusinya!" balas Ibu tegas.
"I-iya baiklah." Akhifa tak berani lagi membantah ucapan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ibu gimana sih! orang kamar sudah rapi begini disuruh aku benerin. Apanya yang mau di benerin coba? alas nya masih bersih dan wangi, ruangannya juga rapi. AC-nya juga bagus dingin."
Gadis itu menggerutu sendiri sembari memperbaiki alas ranjang yang tampak sedikit kusut.
"Hai, ada calon bini rupanya," suara seseorang menghentikan aktivitas Akhifa.
"Mas Akmal! Eh, itu pintu kenapa di tutup?" intrupsi gadis itu menatap garang.
"Ah, iya aku lupa, kalau udah begini pengen secepatnya ngehalalin kamu," goda Akmal sembari membuka pintu kamar itu kembali.
"Apaan sih, Mas! Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh," protes wanita itu kembali meneruskan pekerjaannya.
"Nggak mikir yang aneh-aneh, tetapi memang itu kenyataannya bahwa aku sudah tak sabar memperistri dirimu, agar jadi milikku seutuhnya."
"Mau kemana?" tanya Akmal menghadang langkah Akhifa.
"Mau keluar, mau bersih-bersih, terus lanjut tidur," jawabnya sedikit jutek.
"Dek, percepat saja tanggal pernikahan kita ya," ucap Pria itu yang membuat Akhifa terkejut.
"Nggak usah ngelunjak deh, Mas."
"Ini tidak ngelunjak kok, aku hanya tidak bisa berjauhan dari kamu."
"Udah, nggak usah lebay. Biasanya juga berjauhan. Udah ah, aku mau mandi dulu, Mas. Mau istirahat, capek." Wanita itu segera keluar dari kamar Akmal meninggalkannya begitu saja.
Pagi ini Akmal sudah rapi dengan Snelli dokternya, Pria itu terlihat begitu tampan nan rupawan. Rasanya sungguh aneh bila ada wanita normal yang tak tertarik dengan ketampanannya. Tapi anehnya ada seorang wanita yang patut dipertanyakan tingkat kenormalannya, yaitu perancang busana itu.
Akmal masih belum mengerti dengan perasaan wanita itu yang tampak begitu santai, seperti tak begitu tertarik padanya.
"Loh, Mas Akmal mau kemana? Kok menggunakan pakaian itu?" tanya Akhifa heran sembari menduduki kursi bagiannya.
__ADS_1
"Ya, mau kerumah sakitlah," jawab Akmal cuek.
"RS mana? Bukannya kamu praktek di RS Padang?"
"Emang iya, tapi sekarang aku praktek di RS camer, benar kan, Yah," ucap Akmal minta pembenaran dari Ayah Yandra.
"Iya, Ayah minta tolong pada Akmal untuk menggantikan Dokter yang cuti satu bulan ini," jelas Ayah membenarkan.
Akhifa rasa keberatan. Tapi masa bodoh lah, yang penting jangan merecoki dirinya. Keluarga itu sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing.
"Mal, kamu gunakan saja mobil Akhifa, Ayah mau buru-buru, ada beberapa pekerjaan yang harus ayah selesaikan lagi ini," ucap Ayah.
"Kenapa Mas Akmal tidak sekalian saja sama Ayah? Kan ke RS yang sama," intrupsi wanita itu keberatan.
"Kamu tahu, jadwal Dokter praktek itu jam sembilan, jadi buat apa Akmal terlalu pagi ke RS," potong Ibu ikut menimpali.
Akhirnya gadis itu hanya pasrah tak ingin lagi berdebat dengan kedua orangtuanya. Akmal tersenyum sumringah karena selalu mendapat dukungan dari kedua calon mertuanya.
"Nanti di jemput jam berapa, Sayang?" tanya Akmal saat menepikan kendaraan roda empat itu tepat didepan Butik yang bermerek Independent Girl.
"Mas, biar aku saja yang anterin kamu ke RS, jadi nanti kamu tidak repot jemput aku," ujar Akhifa, sebenarnya dia tidak bebas bila selalu di kawal oleh calon suaminya.
"Oh, tidak bisa. Mana boleh gitu, masa iya calon suami diantar oleh calon istrinya, apa kata dunia," ucap Akmal masih berlagak santai.
Akhifa hanya menghela nafas dalam, ia berusaha memasok rasa sabar sepenuh dada dalam menghadapi Pria dewasa ini. Wanita yang berusia dua puluh enam tahun itu segera turun, tak ingin lagi menanggapi.
Akmal tersenyum melihat wajah cemberut calon istrinya yang kaku dan jutek itu. "Saatnya menjalani misi. Aku pastikan kamu akan luluh padaku. Love you calon orang rumah. Hehe." Pria itu hanya terkekeh sendiri, dan segera menjalankan mobilnya untuk menuju RS.
Setibanya di RS, puluhan pasang mata memperhatikan kehadiran seorang Dokter Tampan yang belum mereka ketahui tugas di bagian apa. Akmal menyapa dengan ramah semua staf RS yang berpapasan dengan.
"Maaf Sus, ruangan Dokter Yandra dimana ya?" tanya Akmal pada salah seorang perawat cantik yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Oh, Dokter Yandra, ruangannya di lantai tiga, Dok, naik saja nanti ada tulisannya," jelas perawat itu dengan senyum ramah.
Ekstra part
Happy reading 🥰
__ADS_1