
Khanza tersenyum bahagia melihat kehadiran Pria yang amat dirindukannya. Ia segera menghampiri Yusuf.
"Mas, kok sudah ada disini? Kenapa pesan aku tidak dibaca? Apakah Mbak Tiara sudah sembuh?" tanya Khanza memberondong, wanita itu mengambil tangan Yusuf, lalu mengecupnya berulang kali. Terlihat sekali binar rindu dihatinya.
"Maaf ya, Dek." Yusuf hanya mengucapkan kalimat itu, sembari membawa sang istri kedalam dekapannya, lama Pria itu membenamkan wajahnya di cerukan leher Khanza untuk mencari ketenangan.
Khanza membalas pelukan sang suami, kali ini ia merasakan ada yang berbeda dari sikap Yusuf, senyumnya terlihat dipaksakan, tak banyak kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Khanza melerai pelukannya, ia tahu sudah menjadi perhatian banyak orang. Maka, wanita itu membawa Yusuf untuk masuk kedalam mobil yang telah di tunggu oleh supir.
"Ayo, Mas, Kita pulang dulu ya. Nanti kita bicarakan dirumah." Khanza sudah tahu bahwa suaminya sedang ada masalah.
Yusuf hanya mengikuti langkah Khanza yang membawanya menuju parkiran. Setelah memastikan pasangan halal itu duduk tenang dikabin belakang, sang supir segera memacu kendaraannya menuju ke kediaman Malik Saputra.
Di perjalanan, Yusuf berusaha untuk tetap tegar, dan tetap membawa Khanza untuk bicara. Sesekali dia membawa calon bayinya bicara.
Yusuf masih belum membahas tentang Tiara, dan untuk apa tujuannya datang. Pria itu harus membuat hatinya lebih tenang terlebih dahulu. Maka dari itu ia mencoba untuk merilekskan pikirannya dengan bercengkrama dengan istri keduanya dan calon buah hatinya.
"Mas, bagaimana keadaan Mbak Tiara? Dan baby Rizqi apa kabar?" Khanza kembali menanyakan hal itu, sehingga Yusuf harus menghela nafas dalam, untuk menjelaskan semuanya.
"Dek, Tiara kritis." Suara Pria itu tercekat sembari mengalihkan tatapannya keluar.
"Apa? Ta-tapi kenapa kamu datang kesini saat Mbak Tiara kritis, Mas?" tanya Khanza tidak mengerti.
Yusuf menghela nafas berat, tatapannya berpindah ke langit-langit mobil itu, tangan saling meremat buku-bukunya.
"Dek, Tiara ingin bertemu denganmu."
__ADS_1
"Maksud kamu, Mas?"
"Tiara meminta aku untuk menjemput dirimu."
"Ada apa, Mas? Apakah Mbak Tiara sudah mengetahui tentang pernikahan kita?" tanya Khanza cemas.
"Aku tidak tahu, Dek, dia tidak membiarkanmu untuk datang tanpa aku menjemput. Dan dia juga menitipkan surat ini." Yusuf memberikan surat titipan dari Tiara.
Dengan ragu Khanza menerima surat itu. Tetapi, dia belum berani untuk membacanya. Khanza harus mencari waktu yang tepat untuk mengamati kalimat dalam surat itu.
"Mas, jawab dengan jujur. Apakah Mbak Tiara sudah mengetahui yang sebenarnya?" Tanya Khanza ingin memastikan.
"Aku benar-benar tidak tahu, Dek. Aku juga tidak menyangka permintaannya yang tiba-tiba ingin bertemu denganmu."
Khanza hanya menatap wajah Yusuf dengan sendu. Perlahan Yusuf menggengam tangan sang istri.
"Mas, kenapa kamu harus memohon seperti ini? Tentu saja aku akan datang."
"Terimakasih ya, Dek, maaf jika sudah merepotkan kamu." Yusuf membawa Khanza kedalam pelukannya.
"Jangan bicara seperti itu, Mas, Mbak Tiara sudah seperti kakakku sendiri. Seharusnya aku yang malu untuk bertemu dengannya. Aku sudah merusak kebahagiaannya."
Khanza benar-benar merasa bersalah, jika nanti dirinya bertemu dengan Tiara, seandainya Tiara sudah mengetahui yang sebenarnya, maka Khanza akan meminta maaf kepadanya.
Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi mereka sudah sampai dikediaman Oma. Khanza dan Yusuf segera turun dan masuk kedalam rumah mewah itu.
Khanza dan Yusuf menyalami Oma dan Opa. Dan kehadiran Yusuf sangat disambut hangat oleh pasangan lansia itu. Mereka begitu senang kedatangan cucu menantunya.
__ADS_1
"Ayo duduklah, Nak. Jangan sungkan. Ini rumah kamu juga," ujar Opa Malik membawa Yusuf untuk duduk di ruang keluarga.
Yusuf hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum ramah. Tak bisa di tampik hatinya begitu cemas memikirkan kondisi Tiara. Tetapi, dia harus tetap berlaku tenang dihadapan keluarga sang istri, tanpa mengurangi sedikitpun rasa sopan santunnya, mau tidak mau dia harus mengesampingkan sesaat tentang Tiara.
Sementara Yusuf sedang ngobrol bersama Opa dan Oma, Khanza pamit kekamarnya untuk mengganti pakaiannya dan membersihkan diri.
Setibanya dikamar, Khanza segera menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri. Khanza duduk di ranjang. Seketika dia mengingat surat dari Tiara. Khanza segera meraih tas kerjanya, dan mengeluarkan surat yang masih terbungkus oleh amplop putih itu.
Dengan perlahan Khanza membuka sampul surat itu. Netranya mulai mengamati kalimat demi kalimat.
Assalamualaikum, Dek Khanza, Mbak harap kamu sehat, dan begitu juga dengan calon bayimu. Mungkin kamu sedikit terkejut saat membaca surat ini. Ya, kamu tidak perlu merasa bersalah, Dek, sebenarnya dari awal Mbak sudah mengetahui tentang pernikahan kalian. Saat itu Mbak tidak sengaja mendengar obrolan kedua orangtua Mas Yusuf setelah pulang menghadiri ijab qobul kalian dimalam itu. Dek Khanza, Mbak tahu ini semua sudah takdir dari Allah, Mbak tidak pernah menyalahkan dirimu ataupun Mas Yusuf. Karena Mbak tahu, Allah sudah memilihkan wanita yang tepat pengganti diriku *****yang**** Dek, maaf untuk beberapa bulan ini, maaf jika aku sudah egois meminta waktu Mas Yusuf terlalu banyak kepadaku. Tapi, setelah kamu membaca surat ini, maka aku sudah menyerahkan Mas Yusuf seutuhnya untuk dirimu. Dan Mbak juga ingin meminta tolong kepadamu. Tolong jaga dan rawat Rizqi dengan penuh kasih sayang dan segenap jiwamu. Anggaplah dia sebagaimana anak kandungmu sendiri. Aku sangat mempercayai dirimu bisa menjadi ibu pengganti yang baik untuk Rizqi. Jangan bersedih, Dek. Mbak benar-benar sudah ikhlas dengan takdir ini. Mbak titipkan kedua lelaki yang paling Mbak sayangi, kepada dirimu. Semoga kalian selalu bahagia. Maaf, Dek, jika permintaan Mbak ini sudah merepotkan dirimu. Tetapi hanya kamulah wanita yang mampu Mbak percayai.
Terimakasih Dek Khanza, semoga kamu bisa memenuhi permintaan Mbak untuk yang terakhir kalinya. Wassalamu'alaikum.
"Tidak, Mbak Tiara. Kenapa Mbak seperti ini? Kamu harus sembuh, Mbak. Hiks... Hiks." Tangis Khanza pecah, hatinya begitu sedih dan pilu membaca surat itu. Terasa masih tidak percaya dengan apa yang ia baca.
Khanza masih menangis sembari mendekap surat itu di dadanya. Tubuh wanita hamil itu ikut berguncang saat tangis haru itu masih menguasai jiwanya.
Yusuf yang sudah berdiri diambang pintu, ia sangat terkejut melihat Khanza sedang menangis. Tangis wanita itu sedikit keras. Khanza belum bisa berdamai dengan kenyataan yang ada. Kenyataan ini begitu menyedihkan. Dia tidak tahu bagaimana jika Yusuf mengetahui apa yang disampaikan oleh Tiara padanya.
Perlahan Yusuf mendekati sang istri. Dia duduk disampingnya. Tangannya mengusap bahu Khanza dengan lembut.
"Dek, kenapa menangis? Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Yusuf dengan nada tenang.
Bersambung....
NB. Maaf untuk raeder jika ada tulisan author di bagian surat itu kurang bagus. Karena author juga berulang kali untuk memperbaiki tetapi tidak bisa, entah apa penyebabnya. Mungkin sedang error' Mohon dimaklumi. Itu entah apa yang disensornya. Padahal tidak ada kata-kata yang aneh😌 yasudahlah abaikan saja😊 Terimakasih untuk dukungan para raeder 🙏🤗🥰
__ADS_1
Happy reading 🥰