Istriku Anak Jendral

Istriku Anak Jendral
Memberi kesempatan


__ADS_3

Arum segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Khen. Vera menatap pasangan itu dengan curiga, sedikit aneh melihat kelakuan mereka.


"Ah, Kak, kami ingin jalan keluar sebentar," ucap Khen permisi pada Vera.


"Keluar, kemana?" tanya sang kakak masih belum paham.


"Ah, itu, mau ajak Arum makan siang," jelasnya kembali.


"Oh, yasudah." Akhirnya wanita itu tak lagi banyak bertanya, ia mulai curiga bahwa Arum dan Khen ada hubungan, apakah karena itu alasan kenapa Khen tiba-tiba datang?


Banyak pertanyaan menyeruak dalam hati Dokter umum itu. Namun, ia akan mencoba mencari tahu nanti pada sang Ibu.


Setelah mendapat izin dari Vera, Arum dan Khenzi segera beranjak mencari tempat makan siang yang nyaman untuk mereka bicara. Khen memberi ruang untuk Arum makan lebih nyaman, ia menahan diri terlebih dahulu untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita itu.


Selesai makan pasangan itu hanya diam, Arum masih menunggu penjelasan dari Khen, sebenarnya dihatinya juga penasaran tentang Khen dan Rayola, jika memang mereka tidak kembali menjalin hubungan, lantas untuk apa mereka mendatangi poli kebidanan?


"Arum, aku sengaja datang kesini hanya untuk dirimu. Kamu tahu kan, bahwa jadwalku sangat sibuk di kantor."


"Terus, kamu merasa bahwa Arum sudah merepotkan kamu, Mas? Yaudah sana balik lagi, Arum juga tidak minta untuk kamu datang," ujar gadis itu merasa tersinggung dengan ucapan Khenzi.


"Ya Allah, bukan itu maksud aku sama sekali, Arum, aku hanya berharap bahwa pengorbanan aku ini tidak sia-sia," ucap Khen berusaha untuk memasok rasa sabar dalam hatinya, untung saja udah cinta banget. Kalau tidak, mungkin semburan racun akan keluar dari mulutnya mengenai gadis cantik yang telah berhasil menjungkirbalikkan dunianya.


"Apaan sih, Mas, mau berkorban aja pakai bilang-bilang. Itu namanya tidak ikhlas, berkorban itu tidak harus dikatakan. Mau itu berhasil atau tidak yang penting ikhlas," sahut Arumi yang kembali membuat Khenzi menatap tak percaya.


Khenzi menghela nafas dalam, begini amad berharap pada wanita yang sudah terluka hatinya, kemaren-kemaren Arumi tidak pernah bicara sejutek ini, apakah ini yang dinamakan karma?


"Oke, aku minta maaf. Arum, aku mohon beri aku kesempatan lagi, aku ingin kita kembali seperti kemaren untuk mewujudkan keinginan kita yang tertunda, yaitu aku ingin secepatnya menikahimu, tolong terima aku lagi, Dek, aku berjanji tidak akan pernah menyakiti perasaanmu," ucap Khen dengan serius dan penuh harap.


"Bagaimana Arum bisa menerima kamu kembali, Mas, sementara kamu tidak menjelaskan tentang hubungan kamu dan Rayola, bagaimana Arum percaya?" jawab Arumi yang ingin memastikan.


"Demi Allah, aku dan Rayola tidak ada hubungan lagi."

__ADS_1


"Kalau tidak ada untuk apa kamu dan Rayola mendatangi poli kandungan? Apakah kamu memang pernah menidurinya sehingga Rayola hamil?" tuding Arumi secara gamblang.


"Astaghfirullah, Arum, kamu sudah salah besar menuduhku."


"Lantas untuk apa kamu dan Rayola kesana?"


"Dengar Arum, saat kita bertengkar aku memang sempat berpikir ingin kembali dengan Rayola. Namun, aku tidak percaya bahwa Rayola masih menjaga mahkota berharganya, maka aku menantangnya untuk membuktikan bahwa dia masih perawan atau tidak. Dan dia sama sekali tidak keberatan. Aku percaya saat Dokter menerangkan bahwa dia masih perawan."


"Terus?"


"Ya, Rayola datang ke kantorku untuk menuntut janjiku yang ingin kembali merajut kasih dengannya. Tetapi, aku sudah tak bisa."


"Kenapa?"


"Ya, karena aku sudah mencintai kamu, Dek, aku baru menyadari bahwa perasaan aku terhadap Rayola sudah hambar. Hanya kamu yang selalu dalam hatiku," jelas Khenzi jujur sekali.


"Aku tidak percaya!"


Arumi terdiam sepi meresapi segala ucapan dari Pria yang sebenarnya masih menempati hatinya dengan utuh. Arum bingung harus menjawab apa, apakah dia akan memberi Khen kesempatan sekali lagi?


"Arum, kenapa kamu diam saja? Tolong beri aku kesempatan, aku janji akan berubah menjadi yang terbaik untuk kamu," ucap Khen masih penuh harap, ia mengeluarkan cincin tunangan yang kemaren pernah melingkar dijari manis Arumi.


"Arum, terimalah cincin ini kembali." Khen meraih jemari Arum, tetapi gadis itu segera menarik jarinya untuk lepas dari pegangan Khen.


Pria itu terkesiap melihat sikap Arum yang seakan tak ingin lagi menerimanya. Khen menatap tak percaya, apakah benar perasaan Arumi telah berubah sehingga tak bisa menerimanya kembali.


"Kenapa Arum? Apakah kamu memang tak bisa memberiku kesempatan lagi?" lirih Khen.


"Aku akan memberimu kesempatan, Mas. Tapi kamu harus menjelaskan semuanya dihadapan Ibu dan kak Vera, kamu harus berjanji pada mereka tidak akan pernah menyakiti aku lagi," terang Arumi yang membuat senyum di bibir Khen mengembang.


"Baiklah, Sayang, aku akan lakukan itu untukmu. Aku akan buktikan bahwa aku tidak akan membuatmu kecewa lagi, aku akan membahagiakan kamu," sahut Khen menyanggupi dengan senang hati.

__ADS_1


Selesai membahas masalah mereka, Khen dan Arum beranjak meninggalkan tempat makan itu, Khen selalu mengukir senyum dibibirnya, rasa bahagia tak terkira saat sang pujaan hati memberinya kesempatan.


"Dek, kita mau kemana lagi?" tanya Khen sebelum memesan taksi online.


"Pulanglah, Mas," jawab Arum biasa saja dan masih terlihat cuek.


"Nggak mau jalan-jalan dulu?" tawar Khen tampak ingin mengulur waktu seperti belum rela untuk mengantarkan wanitanya pulang. Masih ingin berdekatan melepas rindu.


"Emang kita mau kemana, Mas?" tanya Arum yang ternyata merespon baik, tak bisa ditampik didalam sikap cueknya ternyata ada rindu yang sama terhadap Pria kaku yang kini sudah mulai mencair dan hangat.


"Dek, temani aku mancing mau, nggak?" tanya Khen.


"Mancing? Mancing apa Mas?" tanya Arumi tidak paham.


"Ya mancing ikanlah, Dek, masa iya mancing keributan," jawab Khen.


"Disini dimana tempat mancing berbayar, Dek?" tanya Khen yang belum tahu daerah itu.


"Arum tidak tahu juga, Mas, Arum juga baru disini. Emang Mas hobi mancing ya?" tanya Arum baru tahu hobi Pria itu.


"Hobi banget malah. Kalau di Padang aku sering mancing di laut, tapi untuk melepaskan candu nggak pa-pa juga mancing kolam, kan asyik ditemani kamu," jelas Khenzi yang memang tak pandai beromantis ria, namun Arumi cukup tertantang untuk mencoba hobi kekasihnya itu.


"Arum coba tanyain Kak Vera dulu ya, Mas. Mungkin dia tahu. Nanti ajarin Arum cara mancing ikan ya," ujar gadis itu pada Khen yang tersenyum menatapnya.


"Beres, Sayang, nanti sekalian ngajarin kamu cara mancing aku," ucap Khen yang mendapat pelototan dari Arumi.


"Hahaha... Canda, Dek. Jangan galak gitu dong, bikin aku tambah gemes aja," seru Khen dengan tawa lepas. Baru kali ini Arumi melihat Pria itu bisa tertawa seceria itu.


Arumi hanya menatap malas, lalu ia segera telpon sang Kakak untuk menanyakan spot mancing terdekat.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2